Selamat datang masalah

Masalah memang bisa menghentikan kita
untuk sementara waktu…

Tetapi hanya kita lah satu-satunya orang yang bisa menghentikannya secara permanen…

Selamat datang masalah. Apakah anda takut berhadapan dengan masalah? Kebanyakan orang tidak menyukai masalah dan melakukan apa saja untuk menghindarinya. Kalau kita mengerti apa itu masalah, maka sebenarnya tidak perlu kita terlalu khawatir. Justru itu menunjukkan bahwa kita memiliki tujuan, memiliki arah yang kita inginkan.

Setiap kita membuat keputusan, dan merancang apa-apa yang akan kita lakukan untuk mencapai tujuan, maka sejak saat itu siap-siaplah untuk selalu menghadapi masalah. Itu normal. Pekerjaan kita selanjutnya memang adalah menghadapi dan menyelesaikan masalah. Terus saja kita berjalan. Jika tiba-tiba terjadi apa yang tidak diinginkan, atau hasil pekerjaaan atau proyek kita ternyata jauh berbeda dari apa yang sudah direncanakan, tentu tidak perlu kita mengeluh. Segera saja kita kembali ke jalan yang seharusnya. Koreksi sedikit, dan kembali melanjutkan perjalanan.

Dalam menghadapi masalah, manusia terbagi tiga. Ada sekelompok orang yang hidupnya mengeluh saja terhadap masalah. Awalnya hanya masalah kecil, namun karena terus dipelototin dan terus aja dibolak-balik, maka tampaklah masalah itu jadi amat besar dan kian menakutkan.

Lalu ada sekelompok orang lagi yang ia bisa menerima masalah itu sebagai sebuah “takdir” lalu kemudian ia fokus pada solusi. Mata dan pikirannya tidak lagi terus melihat saja kepada masalah itu, tapi bertanya dan mencari tahu, bagaimana cara mengatasinya. Pikirannya ia fokuskan pada penyelesaian. Dan ajaib sekali otak manusia, biasanya dengan mudah orang ini bisa menyelesaikannya.

Sedangkan kelompok yang ketiga adalah manusia-manusia yang tidak hanya bersabar dan tawakkal menerima masalah itu, melainkan ia tetap mensyukurinya sebagai anugerah Allah yang ia maknai sebagai “ujian ketrampilan”, ujian keimanan, ujian kesabaran, ujian kesempurnaan perjalanan ruhaninya, ujian terhadap kemanusiaannya. Sehingga dengan demikian, apabila ia berhasil melampauinya, maka naik kelas lah ia, naiklah maqam nya makin dekat kepada Tuhan, dan makin hebat ketrampilannya, makin sempurna kemanusiaannya.

Mereka-mereka ini tidak melihat masalah sebagai hal yang negatif, melainkan melihatnya sebagai jalan dan metoda meningkatkan kemampuan, pengetahuan, keahlian dan keimanannya, sehingga naiklah derajatnya baik di mata manusia, maupun di hadapan Allah SWT. Ia menganggapnya sebagai peluang meningkatkan derajat kesempurnaannya. Alhasil, jadilah ia makin sempurna, makin hebat pula keahliannya, dan makin tinggi pula ilmunya.

Pada zaman nabi Syu’ayb, ada seseorang yang mendatangi beliau. Dia berkata kepada Nabi Syu’ayb, “Wahai Nabi Allah, saya ini adalah orang yang paling disukai Allah.”
“Apa buktinya?” Nabi Syu’ayb bertanya.
“Saya adalah orang yang tidak pernah diberi cobaan oleh Allah”.
Nabi Syu’ayb berkata, “Justru engkau orang yang paling jauh dari Allah. Sebab orang yang tidak pernah diberi cobaan, berarti Allah tidak ingin mengujinya.”

Jadi gimana? Apakah anda setuju kalau kita bersikap, “welcome the problem?”

*** Penulis: Nilna Iqbal

4 thoughts on “Selamat datang masalah”

  1. What an inspiring article ! kayanya artikel ini sejalan dengan perenungan saya akhir-akhir ini, setuju banget bahwa problem adalah bagian dari kehidupan kita, dengan problem yang kita hadapilah kita bisa mengukur sejauh mana tingkat kematangan pribadi kita, dengan problemlah kita bisa meningkatkan kedewasaan kita, dan dengan problemlah kita bisa lebih jauh menghargai arti kehidupan, so…. welcome the problem!
    —————
    Ada yang lebih hebat lagi. Kita bukan hanya harus bersikap “welcome the problem”, tapi kita perlu “membuat masalah”. Orang yang bisa memecahkan masalah, itu biasa. Namun yang mampu “menemukan peluang” dalam kehadiran masalah, nah itu baru luar biasa. Kita harus bisa mencoba ke situ barangkali. Gimana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *