Parenting

Selama bertahun-tahun “para ahli” berkeyakinan bahwa pikiran bayi kalah canggih dengan pikiran siput. Ketika lahir, bayi dianggap belum bisa melihat apa-apa. Mereka dimaklumi sebagai benar-benar “makhluk primitif” yang belum tahu apa-apa, tak bisa berbuat apa-apa. Secara harfiah, ia sama sekali “bukan apa-apa”.

Filosof abad ke-17 yang sangat termasyhur, John Locke, membuat sebuah metafora yang sampai hari ini masih ada dalam teks-teks referensi di sekolah-sekolah kita, bahwa setiap bayi adalah sebuah lembaran kosong. Terkenal sekali dengan ungkapan “tabula rasa”.

Pandangan ini sampai sekarang masih tetap hidup kuat dalam pemahaman kebanyakan orang tua. Maka banyak orang tua yang mengabaikan apa yang dipikirkan bayi dan anak-anaknya ketika mereka berperilaku. Bahkan tanpa sadar beberapa orang tua berani melakukan hubungan suami istri ketika berada di dekat bayinya. Mereka menganggap bayinya kan “tak tahu apa-apa”.

Yang lebih banyak lagi bisa kita saksikan – mungkin juga di rumah-rumah kita sendiri- betapa banyak orang dewasa menonton televisi sambil menggendong bayinya. Padahal yang dilihat dan didengar itu adalah tentang kata-kata yang kasar, adegan-adegan kekerasan, atau lelucon maksiat yang murahan. Jangan-jangan ada pula yang nonton video porno sambil menyusui anaknya!

Riset psikologi perkembangan yang baru membuktikan bahwa pandangan bayi itu “tak tahu apa-apa” … sama sekali salah. Andrew Meltzoff, Ph.D, seorang professor psikologi di Universitas Washington,  membuat penemuan yang mengagetkan sejak dua puluh tahun lalu. Ia membuktikan bahwa bayi mampu menirukan gerak manusia, bahkan sejak hari pertama!

“Bayi dan anak-anak adalah seorang saintis,” tulis tiga orang professor psikologi terkenal, Alison Gopnik, Andrew N. Meltzoff dan Patricia K. Kuhl, dalam karya ilmiahnya, “The Scientist in the Crib: What Early Learning Tells Us About The Mind” (sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Kaifa berjudul Keajaiban Otak Anak).

Laksana seorang ilmuwan hebat, setiap bayi menyelidiki sifat benda-benda disekitarnya. Mereka berpikir, mengobservasi, dan bernalar. Ibarat psikolog mereka juga berusaha membaca pikiran orang-orang yang dijumpainya. Dia membuat perkiraan, mengujicobanya, mempertimbangkan bukti, lalu menarik kesimpulan, melakukan eksperimen lagi, memecahkan masalah, mengoreksi bila ternyata kesimpulan itu salah dan terus mencari kebenaran. Hanya saja memang, mereka tidak melakukan semua ini dengan cara yang sadar-diri sebagaimana para ilmuwan melakukannya. Mereka adalah saintis dalam tubuh kanak-kanak!

Karena itu marilah kita berhati-hati ketika kita berada di dekat bayi dan anak-anak kita. Tak terkecuali ketika menggendong bayi kita yang masih berumur beberapa hari. Mereka belajar dari apapun yang kita ucapkan, yang kita lakukan.

Karena itu, sebagai orang tua kita harus hati-hati. Sebagai kakak kita pun kudu paham, bagaimana adik-adik kita “belajar segala sesuatu” dengan meniru kita, kakaknya. Sebagai warga masyarakat, kita perlu peduli dengan lingkungan visual dan audiotori di sekeliling anak-anak dan adik-adik kita, agar memang disesuaikan dengan memperhatikan pertimbangan akhlak mereka.

Kolom “pendidikan anak” ini, disediakan sebagai media kita bertukar pikiran, menggali informasi dan pengetahuan seputar pendidikan anak. Sebagian besar tulisan akan berasal dari artikel-artikel yang ditulis istri saya, Maya Anna Pujiati. Karena itu bisa jadi sebagian besar tokoh yang muncul dalam tulisan di rubrik ini, berasal dari pemaknaan atas peristiwa sehari-hari di rumah kami. Khususnya dengan kedua anak kami Azkia (5,8 th) dan Luqman (4 th). Mudah-mudahan apa yang kami share disini akan ada manfaatnya. Amin … 

Atas partisipasi dan kunjungannya, kami sampaikan banyak terima kasih. Oh ya, bila berkenan silakan Anda link blog/web Anda ke halaman “pendidikan anak” anak ini. Alamat link URL-nya adalah http://www.pustakanilna.com/pendidikan-anak

Salam,

Nilna Iqbal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *