Bagaimana Seorang Anak Belajar Membaca?

 

belajar-membaca
tools-belajar-membaca

Bagaimana seorang anak belajar membaca? Apakah sama dengan cara belajar orang dewasa?

Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita perhatikan bayi dan anak-anak kita. Dalam waktu yang sangat singkat, dengan mudah ia mengenal nama kita, nama ayah ibu kakak adik nenek, nama-nama benda, sifat-sifatnya, termasuk juga karakter fisik dari setiap barang yang ada di rumah.

Bukankah itu luar biasa? Bagaimana begitu cepat ia mengetahui semuanya, bahkan tanpa kita ajar secara khusus?

Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita pelajari sedikit tentang otak manusia.

Kita tahu, setiap anak, anak negara manapun, anak siapapun adalah pemilik otak terhebat di dunia. Walaupun beratnya kurang dari 1,5 kg … kemampuan otak anak-anak kita beribu kali lebih hebat dari super komputer terhebat di dunia. Dan anak-anak kita pun memilikinya!

PINTU-PINTU BELAJAR

Penelitian tentang otak memperlihatkan bahwa ada 2 pintu belajar yang aktif pada setiap manusia, baik pada anak-anak ataupun orang dewasa.

Pintu belajar pertama adalah otak sadar.
Pintu belajar kedua adalah otak bawah sadar.

Otak sadar, aktif saat kita sengaja melakukan sesuatu, atau ketika kita waspada/awas. Karakter otak sadar adalah: kritis, logis, matematis.

Ketika seorang anak belajar secara serius, berpikir, menganalisa, mengurutkan, melakukan perbandingan dan pertimbangan, maka saat itu bisa dikatakan, anak itu sedang belajar dengan menggunakan otak-sadarnya.

Otak sadar lah yang biasa kita gunakan
ketika kita belajar di sekolah, atau belajar secara serius.

Beda sekali dengan cara belajar menggunakan otak bawah sadar. Otak ini aktif 24 jam sehari, terus menerus, tanpa henti. Ia bekerja sejak kita masih berada dalam kandungan sampai kita dewasa dan mati. (Catt: beberapa ahli bahkan berteori, bahwa otak bawah sadar ini berada dalam wujud ruhani kita, dan karenanya ia akan terus ada bahkan sekalipun raga-fisik kita sudah mati).

Dari berbagai hasil penelitian ditemukan bahwa ternyata di otak bawah sadar inilah “terinstall” semua potensi hidup manusia, yang nantinya akan keluar dalam bentuk sikap, paradigma kehidupan, skill, kecerdasan, kepribadian dan kebiasaan-kebiasaan seseorang.

Salah satu sifat utama otak bawah sadar adalah: tidak kritis, tidak logis, peka dengan warna, irama, visualisasi, dan emosi.

Otak bawah sadar tidak kritis, artinya, apapun input yang masuk lewat pintu ini, “tidak disaring” sama sekali. Ia akan FULL MASUK, dan tersimpan lama. Apalagi jika content input tersebut terus dilakukan berulang-ulang, sehingga akan semakin KUAT pengaruhnya dalam diri kita.

Otak bawah sadar juga tidak logis, maksudnya apapun input yang masuk, tidak memerlukan verifikasi dari PIKIRAN CERDAS kita. Bagi otak bawah sadar, apapun yang masuk lewat pintu ini akan disimpan sebagai KEBENARAN, ditelan mentah-mentah.

Memang, ketika sebuah INPUT masuk ke dalam pikiran seorang anak, tidak akan 100% memang melewati pintu otak bawah sadar, terutama kalau kondisi anak sudah “cukup berumur”, melainkan disaring dan diverfikasi dulu oleh pengetahuan kritis otak sadar. Namun jika CONTENT INPUT itu sering masuk, berulang-ulang, maka perlahan tapi pasti … CONTENT itu pun akan membekas tersimpan sebagai BENAR.

Ambil contoh, kalau orang tua sering mengatakan kepada anaknya bahwa ia bodoh dan pemalas, maka kalimat itu akan disimpan di otak bawah sadar anak kita sebagai benar. Jangan heran, jika kemudian self concept (konsep diri) nya akan percaya bahwa ia memang bodoh dan pemalas, dan kemudian makin terbukti oleh berbagai kejadian kesehariannya.

Otak bawah sadar juga peka dengan warna, irama, dan emosi. Itu sebabnya input yang masuk dalam kemasan penuh warna, nada yang khas, apalagi jika input itu juga dikemas dalam pola yang bisa menyentuh emosi, maka CONTENT yang mengiringi INPUT itu akan sangat mudah masuk dan tersimpan rapi dalam diri seorang anak. Itu sebabnya, mengapa anak-anak begitu mudah menghafal lagu, menghafal adegan sebuah drama, ataupun peka dengan suatu nada.

BAGAIMANA BAYI DAN ANAK-ANAK BELAJAR?

Kembali ke pertanyaan awal kita tadi, bagaimana seorang bayi atau anak usia dini belajar segala sesuatu begitu cepat?

Jawabannya adalah, karena mereka belajar menggunakan PINTU OTAK BAWAH SADAR.

Seorang bayi, misalnya, tentu saja otak sadarnya masih belum TERLALU dominan. Ia belum memiliki pengetahuan, belum mampu berpikir, menyaring input-input yang datang ke otaknya, apalagi mengkritisi. Jadi pintu belajar yang dominan pada dirinya adalah pintu otak bawah sadar.

Karena itulah, bayi dan anak-anak sangat mudah MENYERAP PENGETAHUAN apapun. Prosesnya berlangsung TANPA SADAR.

BAGAIMANA CARA MENGAJAR BAYI DAN ANAK-ANAK?

Dari pembahasan di atas, jelaslah bagi kita orang tua, bahwa CARA kita mengajar bayi dan anak-anak tidak bisa sama dengan cara kita mengajar orang dewasa yang selama ini kita terapkan.

Dalam mengajarkan anak belajar membaca misalnya, kalau kita terjebak pada cara belajar orang dewasa, maka pintu belajar yang TERAKTIVASI justru pintu belajar OTAK SADAR, yang sama sekali tidak menyenangkan, berat, serius, dan melelahkan. Ini tidak baik, sebab yang terjadi kemudian adalah, anak jadi TIDAK SUKA dengan YANG NAMANYA BELAJAR. Mereka kemudian memahami proses BELAJAR sebagai sebuah kegiatan yang TIDAK MENYENANGKAN. Jika dipaksakan, anak menjadi BENCI dengan BELAJAR.

Ini persoalan yang sangat kritis. Kalau orang tua dan guru tidak berhati-hati menangani cara mengajar anaknya, maka jangan salahkan sang anak kalau kemudian ia menjadi MALAS BELAJAR dan jadi tidak suka membaca.

Sayangnya, beberapa metode belajar membaca yang ada saat ini, cenderung MEMBOSANKAN bagi anak. Hal ini dipicu oleh CARA MENGAJAR gaya sekolahan (orang dewasa) dan ALAT-ALAT BELAJAR yang tidak peka merangsang terbukanya pintu otak bawah sadar.

Apalagi kalau orang tua dan guru, bersikap otoriter dan INGIN CEPAT BERHASIL … maka yang bangkit menguasai diri anak adalah emosi negatif, yang semakin MENGUAT tersimpan menjadi PARADIGMA bahwa BELAJAR ITU TIDAK MENYENANGKAN.

BELAJAR TANPA SADAR

Karena pintu belajar yang AMPUH bagi bayi dan anak-anak adalah pintu otak bawah sadar, maka sebaiknya kita gunakan saluran itu dengan sepenuhnya. Lihatlah bagaimana mereka MUDAH sekali belajar segala sesuatu TANPA DIAJAR, TANPA SADAR.

Bagi orang tua, justru sangat menguntungkan, sebab tidak akan merepotkan, dan sama sekali tidak sulit. Orang tua yang sibuk sekalipun, tidak akan terganggu jadwalnya. Yang lebih dibutuhkan dari orang tua hanyalah PEMAHAMAN dan PENGERTIAN.

Itulah sebabnya Anda perlu membaca lebih lanjut BUKU BELAJAR MEMBACA yang kami terbitkan baru-baru ini. Selain buku, juga sudah disediakan BAHAN-BAHAN BELAJAR yang sudah disesuaikan dengan prinsip-prinsip belajar yang kami bahas di atas.

Masa Depan Keluarga Kita (bag-2, habis)

Siklus hidup kita saat ini sedang mengalami akselerasi. Kita tumbuh lebih cepat, meninggalkan rumah lebih segera, dan kawin lebih dini.

“Kita memperkecil jarak berbagai peristiwa itu dan merampungkan periode sebagai orang tua secara lebih cepat,” kata Dr. Bernice Neugarten, seorang spesialis perkembangan keluarga dari Universitas Chicago.

tabKekuatan yang kelihatan paling besar kemungkinannya akan menggoncangkan keluarga dalam dasawarsa mendatang adalah dampak teknologi kelahiran yang baru. Kemampuan untuk menentukan terlebih dahulu kelamin bayi, bahkan “memprogramkan” IQ-nya, wajahnya, dan ciri kepribadiannya, kini harus dianggap sebagai suatu kemungkinan yang nyata. Penanduran embrio, bayi yang hidup invitro, kemungkinan untuk dengan minum pil saja pasti akan mendapat anak kembar dua atau tiga, atau bahkan kemungkinan untuk memasuki sebuah “babytorium” dan benar-benar membeli sebuah embrio, semua ini demikian jauh melampaui pengalaman manusia, sehingga perlu melihat ke masa depan dengan mata seorang penyair atau pelukis, bukan dengan mata seorang sosiolog atau filsuf konvensional.

Apabila seorang “ibu” dapat memadatkan proses kelahiran menjadi suatu kunjungan singkat ke pusat perdagangan embrio, atau dengan memindahkan embrio dari rahim yang satu ke rahim yang lain (dan ini melenyapkan kepastian sejak zaman kuno bahwa mengandung anak memerlukan waktu sembilan bulan), maka anak-anak yang akan tumbuh dalam suatu dunia yang siklus keluarganya, yang dulu berjalan begitu tenang dan pasti, kini melonjak-lonjak tanpa irama.

Kemajuan ilmu dan teknologi reproduksi itu dalam sekejap telah menghancurkan semua gagasan ortodoks mengenai keluarga dan tanggungjawabnya. Kalau bayi dapat hidup dalam stoples laboratorium, apa jadinya dengan makna keibuan itu sendiri? Dan apa jadinya dengan citra diri wanita dalam masyarakat, yang sejak awal kejadian manusia mengajarkan kepadanya bahwa tugas utama wanita adalah menyebarluaskan dan melestarikan umat manusia?

“Siklus kelahiran,” kata Dr. Hyman G. Weitzen, ahli psikiatri dan Direktur Pelayanan Neuropsikiatris pada Polyclinic Hospital di New York, “untuk kebanyakan wanita merupakan pemenuhan kreatif yang utama…. Kebanyakan wanita bangga akan kemampuan melahirkan anak …. Nur khusus yang bersinar dari setiap wanita hamil telah banyak sekali dilukiskan dalam seni dan sastra di Timur maupun di Barat.”

“Apakah yang akan terjadi pada pemujaan keibuan,” tanya Weitzen, “jika keturunannya bukan benar-benar dari darah dagingnya sendiri, namun berasal dari telur genetis yang unggul dari wanita lain, yang ditandur ke dalam rahimnya, atau bahkan telah dibesarkan dalam cawan petri?”

“Jika wanita ingin punya arti,” katanya, “sekarang ini bukan lagi karena hanya mereka saja yang dapat melahirkan anak. Paling tidak, kita sedang menghapus mistik keibuan.”

Beatrice Mintz
Beatrice Mintz

Tidak hanya konsep keibuan (motherhood), tetapi konsep kebapaan (parenthood) mungkin juga akan menghadapi perombakan radikal. Akan segera tiba saatnya bahwa seorang anak bisa mempunyai lebih dari dua orang tua biologis. Dr. Beatrice Mintz, ahli biologi perkembangan pada Fox Chase Cancer Center, Institute for Cancer Research di Philadelphia, Pennsylvania, telah mengembangkan sesuatu yang dikenal sebagai “multitikus”, yakni bayi tikus yang mempunyai jumlah induk-bapak yang lebih dari biasanya.

Embrio diambil dari dua ekor tikus yang hamil. Kedua embrio ini ditempatkan dalam cawan laboratorium dan dipelihara sampai membentuk satu massa tunggal yang tumbuh. Kemudian massa ini ditandurkan ke dalam rahim tikus betina ketiga. Seekor bayi tikus pun lahir dan jelas sekali memiliki karakteristik genetik kedua pasangan donornya.

Dengan demikian maka seekor multitikus yang dilahirkan dari dua pasang induk-bapak, dapat berbulu dan berkumis putih pada satu sisi mukanya, berbulu dan berkumis hitam pada sisi muka yang lain, dengan garis hitam dan putih berselang-selang pada tubuh selebihnya. Sekitar 700 multitikus yang ditangkar secara begini telah melahirkan lebih dari 35.000 keturunan. Pertanyaannya, jika multitikus telah ada, akan lamakah “multimanusia” menyusul?

Definisi orang tua, berubah?

Bila seorang wanita, dalam rahimnya, mengandung embrio yang telah dibuahi dalam uterus wanita lain, siapakah ibu yang sebenarnya? Apakah si ibu yang memiliki “membuahinya”, ataukah ibu yang mengandungnya? Dan juga akan ada pertanyaan, siapa pula ayahnya?

spermJika suatu pasangan suami istri, nanti di suatu masa kelak, benar-benar dapat membeli sebuah embrio, definisi keibu-bapakan akhirnya hanya menjadi masalah hukum, bukan lagi masalah biologis.

Tanpa pengawasan ketat, transaksi demikian dapat menimbulkan hal yang fantastis, seperti sepasang suami istri yang membeli embrio, lalu membesarkannya invitro, lalu membeli embrio lain atas nama (anaknya, yaitu embrio-pertama). Dalam hal itu, mereka secara hukum dapat dianggap “kakek-nenek”, bahkan sebelum “anak” nya melampaui masa kanak-kanaknya. Saat itu barangkali kita akan memerlukan kosa kata baru untuk menggambarkan segala pertalian kekerabatan seruwet ini.

Lagi pula, kalau embrio dapat diperjualbelikan, bolehkah suatu perusahaan membelinya? Bolehkah membeli sepuluh ribu buah? Dan jika bukan perusahaan, bagaimanakah bila yang melakukan itu sebuah laboratorium penelitian yang non-komersial? Jika kita membeli dan menjual embrio hidup, apakah kita kembali ke suatu bentuk perbudakan yang baru?

Demikianlah, semua bayangan ini datang bagai mimpi buruk di siang hari. Akankah ia terjadi? Orang tua biologis telah berbagi tugas dengan orang tua professional. Tapi orang tua biologis pun sedang terguncang definisinya. Wah, wah, wah….!

***

Masa Depan Keluarga Kita (bag – 1)

“Keluarga telah mati, kecuali pada tahun pertama atau tahun kedua selama mengasuh anak.” (William wolf – psikolog)

Para kritikus sosial sedang punya kesempatan baik berspekulasi tentang masa depan keluarga. “Keluarga akan mendekati titik kepunahan total,” kata Ferdinand Lunberg, pengarang The Coming World Transformation.

Dulu, ikatan keluarga amat mesra. Kekerabatan pun berlangsung sepanjang usia. Ayah, ibu, kakek dan nenek tiap hari kumpul bersama. Hidup damai, tenteram, tak tergesa-gesa. Itulah ciri peradaban masyarakat pertanian setiap negara.

Lalu masuk era industrialisasi, berubahlah suasana. Hubungan manusia dengan tempat pemukiman terancam sirna. Manusia pun mulai menjalani kehidupan serba keras, lapar, berbahaya, dan mengelana. Tapi kendati demikian, fungsi rumah (meski hanya sebuah gubuk) tetaplah jadi tempat berlindung utama.

Kepustakaan penuh dengan petunjuk yang baik tentang pentingnya rumah. “Seek home for rest, for home is best.” Carilah rumah untuk istirahat, sebab rumah itu paling ramah. Begitu nasehat Thomas Tussers dalam Instructions to housewifery, sebuah buku petunjuk abad ke-16. Yang lain lagi, “A man’s home is his castle …” (rumah seseorang adalah istananya). “Home, sweet home …” (rumahku, rumah yang manis). Begitu mesra hubungan manusia dengan rumahnya.

Lalu datang industri bisnis modern. Ia kian menuntut adanya massa pekerja yang siap dan mampu meninggalkan tanahnya untuk mencari pekerjaan dan pindah tempat berkali-kali. Ini berbeda sekali dengan masyarakat tani yang cenderung menetap untuk jangka waktu yang lama. Revolusi industri mulai merenggangkan kasih mesra manusia dengan tempat tinggalnya.

Akibatnya, keluarga besar (extended family) termasuk di dalamnya ayah, ibu, anak, paman, bibi, kakek dan nenek, sedikit demi sedikit terpaksa “merampingkan tubuhnya”. Timbullah apa yang dinamakan “keluarga inti” (nuclear family). Itulah dia, suatu unit keluarga yang ringkas, portable (mudah dibawa) kemana-mana. Ia hanya terdiri dari suami, istri dan sejumlah kecil anak mereka. Keluarga ini, yang jauh lebih mobile sifatnya dari keluarga besar tradisional, jadi model standar di semua negara. Termasuk di Indonesia.

Dampaknya ternyata juga bukan hanya memperenggang hubungan manusia dengan rumahnya, tetapi juga memperpendek tali kasih manusia dengan sesama manusia lainnya. Termasuk dengan sesama anggota keluarga. Mulailah banyak yang merasakan hidup bagai dalam losmen belaka. Tamu-tamunya jarang berjumpa, seolah-olah tidak saling mengenal. Tak ada waktu untuk membicarakan masalah-masalah bersama. Tak ada pula aktivitas yang ditujukan untuk kepentingan bersama.

Kegiatan mondar-mandir, bermusafir dan pindah tempat tinggal, akhirnya jadi kebiasaan hidup. Makin besar mobilitas, makin banyak perjumpaan tatap muka yang singkat. Kontak antar manusia jadi sepintas, yang masing-masing merupakan hubungan tertentu yang fragmentaris dan dalam waktu yang amat terbatas. Kebiasaan ini pun terbawa dalam kontak keluarga. Tentu ya … sentuhan kasih, akhirnya tinggal menunggu senja tiba.

Inang-Inang Pengasuh Anak

Di waktu lampau, paman, bibi, nenek dan kakek mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan jiwa seorang anak. Mereka turut membina, melatih dan mengasuh si anak, terkadang bahkan sampai tahap dewasa.

Lihatlah zaman sekarang. Keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu dan anak menjadi lebih penting kedudukannya. Paman, bibi, kakek dan nenek sudah tak lagi memberikan perlindungan berarti seperti dulu. Dengan demikian keluarga inti lah yang menjadi sumber utama pembentukan watak, akhlak, kebiasaan dan perilaku anak. Ayah dan ibu, dua-duanya masih mampu dan mau mendidik anak-anaknya.

Akan tetapi, ketika laju perkembangan usaha kian deras, pergeseran mulai membuka suasana baru. Kesibukan pun mulai memaksa ayah menjalani hidup lebih banyak di luar rumah. Pergi pagi, pulang malam. Kadang tak sempat bercengkerama dengan istri dan anak-anaknya. Masih untung, ada sang ibu, yang siap mengasuh dan mendidik anak-anaknya.

Lalu lahirlah gerakan emansipasi. Para ibu mulai merasa “dipingit” kalau terlalu banyak di rumah. Tuntutan itu bergema dimana-mana, sampai ke pelosok desa. Tak dapat dielakkan lagi, akhirnya ayah dan ibu, dua-duanya, keluar dari rumah, sama-sama bekerja. Waktu interaksi antara ayah-ibu dengan anak-anaknya makin luntur dalam rona kelabu senja. Urusan anak, sejak itu, mulai diserahkan sepenuhnya kepada orang lain. Mulailah masuk anggota keluarga baru, inang pengasuh (merangkap pembantu atau tidak) dalam struktur keluarga. Inang pengasuh itu, saat ini telah menggantikan fungsi ibu.

Selain itu fungsi orang tua lainnya yang juga diserahkan kepada orang lain (atau pihak luar) adalah fungsi sebagai pendidik anggota keluarga. Fungsi ini kini telah begitu mapan. Telah banyak keluarga yang menyerahkan dan mempercayakan pembinaan anaknya kepada lembaga pendidikan, sepenuhnya, sehingga perhatian dan kontrol ayah-ibu luput begitu saja.

Orang Tua Profesional

Apakah yang bakal terjadi di masa depan? Kalau kecenderungan ini masih tetap demikian, bisa diperkirakan mobilitas hidup manusia akan semakin tinggi. Tuntutan “survive” dalam kancah kehidupan secara layak menimbulkan alam persaingan semakin kejam. Karena itu, bisa jadi pada sebagian keluarga, proses perampingan keluarga itu akan terus berlanjut, yaitu keluarga tanpa anak. Keluarga hanya tinggal komponennya yang paling elementer, seorang pria dan seorang wanita.

Dua orang itu, mungkin dengan karir yang sepadan, akan terbukti lebih efisien untuk mengarungi pendidikan dan lika liku sosial, melalui perubahan pekerjaan dan relokasi geografis global, dibanding keluarga tradisional yang sering direpoti anak.

Pada masa seperti itu, ada kemungkinan lahirlah jenis profesi baru. Profesi yang khusus mengasuh dan mendidik anak secara lebih baik, yaitu “keluarga profesional”.

Kalau itu benar-benar terjadi, muncullah dua jenis orang tua: orang tua biologis dan orang tua profesional. Orang tua biologis adalah yang melahirkan anak, sedangkan orang tua profesional adalah yang mengasuh, membesarkan dan mendidik anak.

Atau pada sebagian keluarga ada pula yang memilih melakukan suatu kompromi berupa penundaan waktu beranak. Gejala ini terlihat dari banyaknya pria atau wanita yang terombang-ambing dalam konflik antara komitmen pada karir atau komitmen pada anak. Maka mulai banyak pasangan akan menghindari persoalan itu dengan menunda seluruh kewajiban mengasuh anak, bisa jadi sampai sesudah pensiun.

Andaikata diberi kesempatan, banyak orang tua yang makin senang hati menyerahkan tanggung jawab keibu-bapakan mereka kepada orang lain, bukan karena tidak memiliki rasa tanggungjawab atau kasih sayang. Mereka pusing, bingung, terpojok. Mereka mulai insaf bahwa mereka sudah tak mampu menunaikan kewajiban. Dalam keadaan ekonomi berkecukupan dan dengan tersedianya “jasa orang tua profesional” yang (berijazah mungkin) dan telah berketrampilan khusus (tentang parenting), banyak orang tua biologis tidak hanya akan senang menyerahkan anaknya kepada mereka, bahkan memang memandang langkah itu sebagai suatu tindakan kasih sayang kepada masa depan anaknya.

Lalu jangan heran, kalau suatu hari nanti, kita akan membaca sebuah iklan, “Mengapa kewajiban sebagai orang tua membelenggu anda? Percayakanlah kami mengasuh anak Anda menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan berhasil. Keluarga profesional ‘Happy Family’ terdiri dari seorang ayah usia 39 tahun, ibu 36 tahun, seorang nenek 57 tahun. Paman dan bibi masing-masing 30 tahun dan tinggal bersama. Unit empat-anak masih dapat menerima seorang anak lagi usia 6 – 8 tahun. Makanan teratur, melebihi standar pemerintah. Semua orang dewasa sudah berijazah parenting berlisensi. Orang tua biologis boleh mengunjungi anak secara berkala. Ada kesempatan pula untuk saling kontak via telpon. Anak boleh berlibur dengan orang tua biologis. Kontrak minimal 5 tahun. Rincian lebih lanjut, silakan hubungi telpon 1234567890.”

Bagaimana, Anda tertarik?

Mengapa Anak Malas Belajar?

Mengapa anak-anak lebih suka bermain ketimbang belajar? Mengapa sebagian anak senang tinggal di rumah, sebagian lagi tidak betah? Ada beberapa penyebabnya.

Pertama, kontruksi bangunan rumah. Hal ini memang jarang terperhatikan oleh banyak sekali keluarga. Mereka masih menganggap rumah sebagai “benda mati”. Padahal, rumah pada hakekatnya bukan hanya tempat tinggal belaka, melainkan juga tempat terbinanya kasih-sayang diantara keluarga, tempat dibinanya manusia-manusia sempurna (insanul kamil), tempat mekarnya taruna-taruna bangsa.

Oleh sebab itu, sesuai fungsinya, orang tua harus mampu menjamin seluruh penghuni agar betah di rumah, terutama anak-anak. Tanpa itu, terpadunya kasih-sayang dan kedamaian bisa jadi hanya tinggal impian.

Itulah sebabnya, konstruksi-desain-tata-ruang dalam suatu rumah perlu diperhatikan dengan seksama. Rancangan rumah secara tak langsung mempengaruhi jiwa penghuninya. Bahkan, kalau memungkinkan, sangat baik bila disediakan pula ruang belajar khusus, yang ditata sedemikian rupa hingga si anak bisa betah bertahan belajar di rumahnya sendiri.

Ruang belajar itu tak perlu mewah, dalam arti luas serta diisi perabot yang wah. Cukup sederhana saja. Secara psikologis ini akan membuat anak terbiasa dengan kesederhanaan hidup. Letaknya tentu tidak boleh serampangan. Sedapat mungkin hindarilah kondisi fisik yang gelap, pengap, dan tidak menyegarkan, serta … jangan terlampau dekat dengan kamar atau pun tempat tidur.

Ruang belajar ini dapat bermacam-macam ragamnya, tergantung kondisi keluarga yang bersangkutan. Bagi yang mampu, barangkali baik jika disediakan kamar khusus tempat belajar. Di tempat ini anak diberi keleluasaan untuk berkreasi dan mengembangkan potensi diri. Berilah mereka hak otonomi penuh atas ruangan itu, tak seorang pun dapat turut campur mengaturnya. Orang tua hanya mengarahkan, membimbing, serta mengontrol saja. Hal ini akan mendewasakan diri sang anak, karena sejak kecil ia terbiasa bertanggung jawab serta memikul akibat-akibatnya.

Di samping itu bisa juga dibuat format ruangan besar, dengan masing-masing anak memiliki otonomi atas meja belajarnya sendiri. Barangkali seperti suasana kantorlah, cuma harus dijaga juga ketentraman belajarnya. Selain itu, bisa juga meja belajar dipakai bersama, termasuk kedua orang tua. Di sini peran ayah ataupun ibu sungguh sangat  mengena, langsung menembus hati anak-anaknya.

Kedua, tata perangkat lunaknya, yakni perangkat-perangkat pengisi yang memperlancar proses belajar. Umpamanya saja pengaturan cahaya lampu atau sinar Matahari. Sekalipun tampaknya memang kurang berarti, namun kenyataannya hal itu sangat berpengaruh. Hal ini dapat kita mengerti dari fakta yang dapat kita jumpai setiap hari. Buku-buku misalnya, kebanyakan warna dasar kertasnya putih, yang cenderung kuat memantulkan cahaya. Karena mata harus bekerja keras untuk mengimbangi energi kuat yang dipantulkan dari kertas putih tersebut. Tentu anak tak akan tahan belajar lama-lama.

Begitu pula sebaliknya. Cahaya lampu yang terlalu lemah akan menyebabkan mata lelah dan cepat berair, kepala lekas pusing dan tegang, lalu akhirnya timbul rasa malas belajar.

Cahaya lampu perlu diatur sedemikian rupa agar mata bisa bekerja normal, tak berkontraksi atau pun menegang. Bagaimana pun juga hal ini amat penting, paling tidak salah satu faktor telah dapat kita kendalikan.

Perangkat lunak lainnya misalnya kedisiplinan, ketertiban, dan suasana kasih sayang. Yang dimaksud disiplin di sini bukan berarti otoriter dan bersikap kaku-keras terhadap anak-anak. Karena sikap seperti itu hanya akan menyebabkan si anak selalu merasa rendah diri, senantiasa salah dalam melakukan apa saja, dan sebagainya. Padahal, potensi kreatif anak hanya bisa tumbuh dalam suasana kebebasan yang terarah, bukan otoriter yang dipaksakan.

Begitu pula ketertiban, yang termasuk di dalamnya kebersihan dan keindahan. Pendek kata keharmonisan. Lingkungan rumah yang nyaman, senantiasa bersih, dan rapi pasti akan menimbulkan hasrat “menyenangkan”. Si anak akan betah berlama-lama di rumah. Siapa yang tidak senang berada dalam lingkungan yang selalu bersih dan menyenangkan?

Kendati demikian, semua itu tidak berarti sama sekali jika suasana di dalamnya serba menakutkan, serba hitam. Rumah, bagaimanapun jeleknya, tetap bukan pabrik tempat “memproduksi” manusia-manusia dan setelah itu dibiarkan begitu saja. Rumah juga bukan sekadar tempat pengistirahatan.

Bila penghuni rumah begitu sibuk mengurus diri sendiri dan kosong dari sinar kasih serta kedamaian, tidak heran bila banyak anak dan remaja tak pernah merasa betah di rumah. Kasih sayang yang amat didambakan tak kunjung tiba. Perhatian dan kedamaian secuil pun tidak mereka peroleh. Terkadang rumah mereka rasakan bagai Neraka. Akibatnya “lari”-lah mereka keluar, mencari dan mencari setitik kasih dan perhatian, mencari pohon tempat berteduh, tempat meluapkan gerah yang menghimpit batinnya.

Bukankah tindakan itu merupakan jalan pikiran yang sehat dan logis? Ia tidak menemukan  rasa “aman” di rumah, karena itu ia mencari “keamanan” di luar rumah. Kalau di rumah ia kurang memperoleh pengakuan dan penghargaan diri sebagai manusia, maka ia menuntut pengakuan dan penghargaan itu di luar rumah, dari teman sebayanya mungkin. Pendeknya, lingkunganlah yang kini menjadi tempat berlabuhnya. Jikalau lingkungannya baik, masih ada kemungkinan ia akan kembali menemukan dirinya lagi. Tapi kalau sebaliknya?

Pada dasarnya, anak-anak tidak mau belajar bukan karena dia malas. Kemalasan hanyalah akibat dari beberapa sebab yang mendahuluinya, yang pada intinya adalah karena ia tidak betah belajar. Ketidakbetahan belajar itupun sesungguhnya merupakan akibat dari sekian banyak sebab yang salah satu diantaranya –yang paling menonjol- adalah anak tidak merasa nyaman berada di rumah.

Hal terakhir ini pun merupakan akibat dari sejumlah sebab tertentu, antara lain kontruksi ruangan, tata letak dan desainnya, kerapihan, keindahan, keharmonisan, dan yang paling penting hubungan kasih sayang orang tua dengan anak-anaknya. Bisa dikatakan, faktor perhatian dan kasih sayang inilah –dalam arti sebenarnya- yang paling berpengaruh terhadap diri anak, sekalipun ia tinggal dalam gubuk miskin, reot, dan tak berbunga…!

***

Fokus pada Hasil

Saat itu, tanggal 4 Juli 1952. California Coast sedang diliputi kabut pagi. Dua puluh satu mil ke barat di pulau Catalina, seorang wanita berumur 34 tahun mengarungi Lautan Pasifik dan berenag menyeberangi California. Jika berhasil, ia akan menjadi wanita pertama yang berhasil melakukannya. Wanita tegar ini bernama Florence Chadwick. Sebetulnya, ia berhasil menjadi wanita pertama yang menyeberangi Selat Inggris pulang pergi dengan berenang.

Hari itu airnya sangat dingin, berkabut sangat tebal sehingga membuatnya hampir tidak dapat melihat perahu-perahu yang mengiringinya. Sementara ia terus berenang, ribuan orang menyaksikannya melalui televisi. Beberapa kali ikan-ikan hiu mencoba mendekat, tetapi berhasil diusir dengan dayung. Ia terus saja berenang. Yang menjadi masalah terbesar baginya saat penyeberangan itu bukanlah kelelahan, tetapi air yang begitu dingin menusuk sampai ke tulang sumsumnya.

Setelah lebih dari 15 jam berenang ia lelah dan kedinginan. Ia lalu memutuskan untuk berhenti saja dan meminta untuk diangkat dari air. Ibu dan pelatihnya yang mengiringinya di perahu terdekat mengatakan bahwa ia hampir sampai. Mereka terus memberi semangat agar ia jangan menyerah. Tetapi ketika ia mencoba melihat ke depan pantai California, ia tidak bisa melihat apa-apa karena kabut yang sangat tebal.

Tidak lama kemudian –tepatnya 15 jam 55 menit- ia diangkat dari air. Sejam kemudian, setelah tubuhnya kembali menjadi hangat, ia mulai merasakan kekecewaan akan kegagalannya. Ia lontarkan pada wartawan, “Saya menyesal pada diri saya sendiri. Andaikan saja saat itu saya bisa melihat daratan, pasti saya berhasil”.

Bagaimana tidak kecewa, ia diangkat dari air hanya 2,4 km saja dari pantai California! Dijelaskan bahwa bukan karena kelelahan atau kedinginan yang sesungguhnya menyebabkan ia menyerah, tetapi karean ketidakmampuannya untuk melihat target (daratan) yang tertutup kabut, itulah penyebab mengapa akhirnya ia ‘kalah’. (dikutip dari buku Strategi Menuju Sukses, John C. Maxwell & Jim Dornan)

Tak Menentu

Kita sering lihat banyak orang tidak bahagia dengan hidupnya. Bahkan juga dengan lingkungan sekelilingnya. Tahukah Anda bahwa ternyata 98 sampai 100 orang-orang itu hidupnya memang tak menentu. Mereka tidak punya gambaran yang sangat jelas akan hidup seperti apa yang sebetulnya mereka inginkan.

Mereka tidak punya target untuk meningkatkan kualitas hidupnya, tidak punya arah yang jelas apa yang mau dituju. Mereka terus saja hidup dengan keadaan yang sama tanpa ada usaha untuk mau merubahnya.

Target itu penting. Salah satu manfaat terbesarnya adalah ia akan membantu kita untuk menentukan prioritas kerja kita sehari-hari. Tanpa target, kita cenderung untuk mengerjakan hal-hal yang tidak akan menghasilkan apa-apa bagi tujuan kita.

Beberapa tahun lalu, halaman depan sebuah surat kabar memberitakan tentang 300 ikan paus yang kedapatan mati terdampar. Ikan paus tersebut telah memburu ikan-ikan sardene, tetapi akhirnya ikan-ikan kecil itu justru memangsa tubuh ikan-ikan paus yang terdampar dan membusuk di tepi pantai itu. Frederick Brown Harris memberikan komentar, “Ikan kecil dapat membunuh ikan raksasa. Sang raksasa ini datang untuk mendapatkan sesuatu yang kecil dengan segenap kekuatannya yang besar untuk target yang tak berarti”.

Manusia tanpa target mirip dengan cerita ikan paus di atas. Mereka mempunyai kekuatan dan potensi yang luar biasa, tetapi mereka menghabiskan kekuatan itu untuk sesuatu yang kecil dan kurang berarti yang menyebabkan mereka mengabaikan apa yang seharusnya mereka bisa lakukan.

Memacu Organisasi

Salah satu masalah yang sering muncul dalam sebuah organisasi atau perusahaan adalah kurangnya semangat diantara para anggota pekerja. Banyak diantara mereka hanya mengikuti irama tugas yang diberikan, ya rutinitas belaka. Mereka tak tahu untuk apa mereka bekerja, apa goal mereka, apa goal organisasi/perusahaannya. Akhirnya para pekerja itu kerja tanpa semangat. Akibatnya jelas mereka tidak akan pernah berprestasi juga.

Dengan kata lain, jika di dalam organisasi kita mempunyai target, maka semangat dan kemauan bekerja kita akan sangat tinggi. Di samping itu, dengan target seluruh pekerja mempunyai sesuatu untuk dituju. Akhirnya, target untuk memotivasi setiap pekerja karena mereka sadar bahwa apa yang mereka kerjakan itu adalah dalam rangka mencapai sesuatu.

Pada akhirnya mereka selalu membuat perencanaan. Mereka tidak akan menunggu sampai orang lain menyuruh apa yang harus mereka kerjakan. Mereka tidak akan biarkan orang lain mendikte mereka. Mereka punya goal. Dan ini sekaligus akan memacunya untuk menggunakan langkah-langkah yang tepat demi tercapainya segala yang mereka inginkan.

Orientasi Pada hasil

Orang-orang gagal biasanya adalah mereka yang tidak bisa membedakan antara kegiatan dan hasil. Mereka berkeyakinan bahwa dengan banyaknya kegiatan –khususnya kegiatan yang sukar- pasti mereka berhasil. Padahal kegiatan itu sendiri tidak akan menjamin keberhasilan. Kegiatan itu tidak selalu menguntungkan.

Maka supaya ia berguna, kegiatan itu harus diarahkan pada hasil akhir! Dengan kata lain, kita harus sadar bahwa sukses tidaknya seseorang bukanlah dilihat dari kegiatnnya, melainkan dari hasil yang akan ia peroleh.

Salah satu gambaran yang paling menarik dari konsep ini, bisa kita perhatikan riset kisah Jim Dorman dan John C. Maxwell dari penelitian Jean-Hendri-Fabe, seorang ahli ilmu alam Perancis yang terkenal, ia mempelajari kehidupan sejenis ulat kayu. Hewan unik ini berbaris dipimpin salah satu “ketua” mereka mampu masuk menembus pohon yang keras. Sebagai eksperimen Fabre menempatkan sekelompok ulat kayu pada sebuah sisi pot bunya yang besar, dan memuat formasi lingkaran. Mereka kemudian mulai bergerak berkeliling di dalam sebuah barisan yang tidak ada ujung pangkalnya. Di dekat mereka Fabre meletakkan makanan untuk mereka, tetapi mereka tidak dapat mengambil makanan itu karena mereka harus terlebih dahulu memutuskan barisan dan tidak lagi mengikuti yang lain.

Fabre mengira bahwa setelah beberapa saat ulat-ulat itu akan merasa lelah dan bosan dengan barisan mereka, lalu kemudian mendekati makanan. Tetapi ternyata tidak! Karena sudah menjadi kebiasaan, ulat-ulat itu terus bergerak memutari pinggiran pot bunga –berputar dan terus berputar, dengan langkah yang sama selama 7 hari 7 malam. Akhirnya mereka semua mati kelaparan.

Ulat-ulat kayu itu berbaris berdasrkan instinct hewani mereka dan juga atas dasar kebiasaan. Mereka memang bekerja keras tetapi mereka tidak dapat hasil. Dan ternyata cukup banyak juga diantara kita melakukan kekeliruan semacam ini. Akhirnya mereka ini pun gagal dalam usaha atau karier mereka. Mereka tidak bisa membedakan antara kesibukan untuk memenuhi sesuatu, dan kegiatan untuk mencapai sesuatu.

Nah, di sini pentingnya goal itu. Dengan adanya goal/target kita akan terhindar dari masalah ini. Kalau Anda menyusun target dan secara berkala mengukur kemajuan Anda, hal itu dengan sendirinya akan merubah pusat perhatian Anda dari kegiatan yang sedang Anda kerjakan ke hasil yang Anda ingin capai.

Dalam penentuan target kita harus lebih spesifik. Pilihlah yang kira-kira bisa diraih. Karena kalau target yang kita pilih itu tidak spesifik serta tidak masuk akal, justru bisa mengurangi motivasi Anda.

Karena itu, supaya epektif jangan sekali-kali beranggapan penyusunan target ini sebuah kegiatan satu kali saja. Tidaklah mungkin kita menyusun target, lalu ‘kerja’ dan kemudian langsung pensiun. Target itu harus kita tentukan, kita rencanakan, kita laksanakan dan kemudian kita evaluasi terus-menerus. Karena itu kadang memang harus kita susun berkali-kali!

***

Placebo Yang Misterius

Selama berabad-abad para dokter telah dilatih oleh para pasien bagaimana mengikuti upacara pemberian resep.

Kebanyakan pasien menganggap keluhan mereka belum ditanggapi dengan sungguh-sungguh sebelum mereka menggenggam secarik kertas kecil berisi coretan yang sulit dibaca namun mengandung “mukjizat”.

Bagi pasien, resep merupakan sertifikat jaminan penyembuhan. Resep adalah surat tanda hutang dokter yang menjanjikan kesehatan baik. Resep adalah tali pusar psikologis yang menyediakan hubungan yang menghidupkan dan kekal antara dokter dan pasien.

Dokter tahu bahwa kertas resep itu sendiri, lebih daripada apa yang tertulis di atasnya, sering merupakan unsur vital untuk memungkinkan pasien mengenyahkan apapun yang ia derita. Obat tidak selalu diperlukan. Yang selalu diperlukan adalah kepercayaan untuk sembuh. Sugesti. Maka dokter pun dapat memberikan resep placebo (obat semu) dalam kasus-kasus dimana jaminan bagi pasien jauh lebih bermanfaat daripada pil terkenal tiga kali sehari.

Placebo, Obat Semu…
Penelitian tentang placebo membuka wawasan yang luas mengenai bagaimana tubuh manusia dapat menyembuhkan diri sendiri. Juga, tentang kemampuan misterius dari otak untuk menimbulkan perubahan-perubahan biokimia yang penting guna memerangi penyakit.

Placebo berasal dari kata kerja latin yang berarti “menyenangkan”. Maka dalam arti klasiknya, palcebo adalah pengobatan tiruan. Biasanya berbentuk tablet gula-susu biasa yang dimiripkan pil sungguh-sungguh. Ia diberikan lebih demi tujuan menenangkan pasien daripada memenuhi kebutuhan organik yang didiagnosakan secara jelas.

Namun penggunaan placebo pada tahun-tahun belakangan ini paling sering dimaksudkan untuk mencoba obat-obatan baru. Efek-efek yang dicapai oleh percampuran bahan uji diukur terhadap efek yang ditimbulkan oleh pemakaian “obat tiruan” atau placebo.

Untuk waktu yang cukup lama, buat sebagian besar dokter, placebo pada umumnya mendapat nama jelek. Bagi banyak dokter, istilah itu mengingatkan pada bahan-bahan penyembuh semu atau “pseudomedicament”. Juga terdapat perasaan bahwa untuk sebagian besar placebo merupakan jalan pintas bagi dokter-dokter tertentu yang tak mau membuang waktu atau kerepotan menyelidiki sumber penyakit yang sesungguhnya.

Namun kini placebo yang pernah dipandang rendah itu telah mendapat perhatian sungguh-sungguh dari para ilmuwan kedokteran. Para penyelidik kedokteran telah menemukan bukti yang cukup kuat yang memperlihatkan bahwa placebo tidak hanya dapat dibuat mirip dengan suatu obat yang amat manjur, tetapi memang benar-benar dapat bertindak sebagai obat. Mereka memandangnya tidak hanya sebagai siasat psikologis dokter dalam merawat pasien-pasien tertentu, tetapi sebagai zat terapis untuk mengubah susunan kimia tubuh dan guna membantu mengerahkan pertahanan tubuh dalam memerangi gangguan atau penyakit.

Sementara cara placebo bekerja di dalam tubuh belum sepenuhnya diketahui, beberapa peneliti placebo berteori bahwa ia menggiatkan cerebral cortex. Pada gilirannya, ia menghidupkan sistem endoktrin pada umumnya dan kelenjar adrenalin pada khususnya. Apapun liku-liku yang tepat dalam pikiran dan tubuh, telah ada cukup bukti yang menunjukkan bahwa placebo dapat sama ampuhnya dengan obat aktif yang digantikannya. Bahkan kadang-kadang lebih ampuh.

Jelas tak masuk akal untuk mengatakan bahwa para dokter tidak boleh memberikan resep obat-obat aktif farmakologis. Ada saat-saat dimana pengobatan secara mutlak penting. Tetapi seorang dokter yang baik selalu waspada terhadap kekuatannya.

Tidak ada kekeliruan pendapat umum yang lebih besar mengenai obat-obatan daripada pernyataan bahwa suatu obat adalah bagaikan sepucuk panah yang dapat ditembakkan ke sebuah sasaran tertentu. Efek yang sebenarnya lebih menyerupai tebaran duri-duri landak. Obat apapun atau makanan apapun harus melalui suatu proses dimana sistem manusia akan  memecah-mecahnya untuk digunakan keseluruhannya. Maka dari itu,  hampir tak ada obat yang tidak mempunyai efek sampingan tertentu. Dan semakin digembar-gemborkan pemakaiannya -anthibiotika, kortison, penenang, senyawa-senyawa anti tekanan darah tinggi, bahan-bahan anti peradangan, pelemas otot-  kian besar pula masalah efek sampingnya yang merugikan.

Obat-obatanlah yang mengubah atau mengatur kembali keseimbangan dalam aliran darah. Mereka dapat menyebabkan darah membeku lebih cepat, atau lebih lambat. Mereka dapat memperkecil kadar zat asam dalam darah. Mereka dapat mendorong sistem endoktrin, memperlaju aliran asam hindrokloris ke lambung, memperlamban atau mempercepat lewatnya darah melalui jantung, merusak fungsi pembuatan darah dari tubuh dengan menekan  sum-sum tulang, mengurangi atau menambah tekanan darah, atau mempengaruhi pertukaran ‘natrium kalium’ yang memegang peranan vital dalam keseimbangan kimiawi tubuh.

Yang menambah rumit dilema dokter dengan obat-obat itu adalah kenyataan bahwa banyak orang cenderung memandang obat seolah-olah seperti mobil. Tiap tahun harus menghasilkan model baru, dan semakin kuat semakin baik. Terlau banyak pasien merasa bahwa seorang dokter kurang cakap bila resepnya tidak menyebutkan suatu antibiotika baru. Atau bila dokter tidak menyebut obat ajaib lain yang pernah didengar pasien dari seorang teman atau yang pernah dibaca di media massa.

Berhubung bahaya-bahaya yang sangat nyata berkaitan dengan obat-obat baru yang kuat, seorang dokter modern yang hati-hati akan benar-benar menggunakan kebebasan memilihnya. Ia akan menentukan obat-obat yang kuat apabila ia merasa obat itu mutlak diperlukan. Namun ia tidak menghiraukan placebo, atau tidak memberikan apa-apa sama sekali, apabila obat kuat tidak mutlak diperlukan.

Cara Placebo Bekerja
Contoh hipotesis tentang bagaimana placebo bekerja adalah kasus seorang usahawan muda. Ia datang pada dokternya dan mengeluh menderita berbagai sakit kepala dan sakit perut yang hebat. Sehabis mendengarkan dengan telaten, pasien yang menggambarkan bukan saja penyakitnya tapi juga problem-problemnya, sang dokter memutuskan bahwa usahawan itu sedang menderita penyakit umum abad ke-21 ini yaitu: ketegangan.

Fakta bahwa ketegangan bukan ditimbulkan oleh kuman maupun virus tak berarti akibatnya lalu kurang parah. Di samping rasa sakit yang parah, hal itu juga dapat membawa kecanduan minuman keras, obat bius, bunuh diri, perpecahan keluarga, dan pengangguran. Dalam bentuknya yang ekstrim, ketegangan dapat menimbulkan simtoma “histeria konversi”-suatu penyakit yang dilukiskan oleh Jean Charcot, guru Freud. Kecemasan dan ketakutan pasien itu berubah menjadi simtosa fisik murni, yang dapat sangat menyakitkan atau bahkan melumpuhkan.

Dalam pertanyaan-pertanyaan yang simpatik, dokter itu jadi tahu bahwa usahawan tadi mencemaskan kesehatan buruk dari isterinya yang sedang hamil. Ia juga mencemaskan orang-orang muda yang baru dipekerjakan di kantor yang ia sangka sedang mengincar kedudukannya. Dokter menyadari, langkah pertama yang mesti diambil adalah meyakinkan pasien bahwa pada dasarnya kesehatannya beres. Tetapi pasien cukup hati-hati untuk tidak ditanggapi dengan sungguh-sungguh. Pasien cenderung untuk mengira bahwa mereka dituduh mengkhayalkan sintomanya, dituduh pura-pura sakit, jika diagnosa terhadap keluhan mereka ditentukan sebagai berasal dari psikis.

Dokter itu tahu bahwa pasiennya, sesuai dengan kebiasaan, tak akan merasa lega tanpa diberi resep. Tetapi dokter itu juga tahu bahwa pengobatan mempunyai batas. Ia enggan untuk memberikan obat penenang karena ia berpendapat obat begitu akan menimbulkan efek yang merugikan dalam kasus khusus ini. Ia tahu bahwa aspirin akan menghilangkan sakit kepala tetapi juga akan mengganggu masalah lambung dan usus, sebab sebutir pil saja dapat menimbulkan pendarahan dalam. Ia mengenyampingkan obat pencernaan karena ia tahu bahwa sakit perut itu ditimbulkan oleh problem emosional. Maka dokter itu menuliskan resep yang pertama-tama tak mungkin menyakitkan pasien dan kedua dapat menghilangkan sintoma-sintomanya. Dokter itu mengatakan kepada si usahawan bahwa resep khusus itu akan banyak khasiatnya dan bahwa ia akan sembuh sama sekali. Kemudian ia berbincang dengan pasiennya tentang cara-cara yang mungkin untuk memecahkan masalah-masalah di rumah dan di kantornya.

Seminggu kemudian usahawan tadi menelepon dokter untuk melaporkan bahwa resepnya telah mendatangkan keajaiban. Pusing di kepala telah lenyap dan sakit di perut berkurang. Kekhawatirannya akan kesehatan isterinya berkurang setelah mereka mengunjungi dokter ahli kebidanan, dan agaknya ia juga dapat bergaul dengan baik di kantor. Masih berapa lama lagikah ia harus menelan obatnya?

Dokter berkata bahwa resepnya mungkin tidak usah diperbaharui tetapi si pasien harus meneleponnya bila sintoma-sintoma itu timbul lagi.

Pil-pil “ajaib” itu tentu saja tak lebih dari placebo belaka. Pil-pil itu tidak mengandung sifat-sifat farmakologis. Tetapi keampuhan mereka bagi usahawan tadi tetap bekerja. Sebab, pil-pil itu merangsang kemampuan tubuhnya untuk mempertahankan dirinya sendiri, setelah diberi kondisi yang layak untuk bebas dari ketegangan dan keyakinan penuhnya bahwa dokter tahu pasti apa yang ia kerjakan.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sampai 90 persen dari pasien menderita penyakit yang bisa berakhir dengan sendirinya. Yang sebenarnya ia masih dalam lingkup daya penyembuhan tubuhnya sendiri. Seorang dokter tahu bagaimana membedakan secara efektif mana pasien yang dapat sembuh tanpa campur tangan mereka. Dokter tersebut tidak akan membuang waktu untuk tidak memperlamban proses penyembuhan alamiah dari mereka. Untuk orang-orang ini, dokter mungkin memberikan suatu placebo. Karena pasien akan merasa lebih tenang dengan menggenggam secarik resep, maupun karena dokter itu tahu bahwa placebo benar-benar dapat melayani suatu tujuan terapis.

Jadi placebo itu lebih merupakan proses dan bukan cuma pil. Prosesnya bermula dengan kepercayaan pasien kepada dokternya dan berlanjut pada berfungsinya secara penuh sistem pengebalan dan penyembuhannya sendiri. Proses itu dapat berhasil bukan berkat keajaiban dalam tablet, melainkan karena tubuh manusia adalah apotik yang diisi oleh tubuh itu sendiri.

Menurut pendapat para ilmuwan, placebo kuat karena ia menerjemahkan kehendak untuk  hidup menjadi kenyataan fisik. Dan mereka sudah berhasil membuktikan fakta bahwa placebo munyulut perubahan bio-kimiawi tertentu dalam tubuh. Fakta bahwa suatu placebo tidak akan menimbulkan akibat fisiologis apabila pasien tahu bahwa obat itu placebo, hanya meneguhkan pendapat tentang kemampuan tubuh manusia untuk mengubah harapan menjadi perubahan biokimia yang nampak dan mutlak perlu.

Kehandalan Placebo…
Placebo merupakan bukti bahwa tidak ada pemisahan sesungguhnya antara pikiran dan tubuh. Penyakit selalu merupakan interaksi antara keduanya. Ia dapat tumbuh dalam pikiran dan berakibat pada tubuh, atau ia dapat bermula dalam tubuh lalu berakibat pada pikiran. Keduanya dilayani oleh aliran-aliran darah yang sama. Usaha-usaha memperlakukan kebanyakan penyakit tubuh, seolah pikiran sama sekali tidak terlibat di dalamnya haruslah dianggap kuno mengingat bukti-bukti baru tentang cara berfungsinya tubuh manusia.

Placebo memang tidak akan berhasil dalam semua keadaan. Kemungkinan penggunaan yang berhasil berbanding langsung dengan sifat hubungan pasien dengan dokternya. Sikap dokter terhadap pasien; kemampuannya untuk meyakinkan pasien bahwa ia tidak sedang dianggap enteng; keberhasilannya mendapat kepercayaan penuh dari pasien -semua merupakan faktor vital bukan hanya dalam memaksimalkan daya guna placebo, tetapi dalam pengobatan terhadap penyakit pada umumnya. Dalam hal tiada hubungan erat antara dokter dan pasien, penggunaan placebo mungkin tak banyak gunanya atau prospeknya. Dalam arti ini, dokter itu sendiri merupakan placebo yang paling kuat.

Sebuah contoh menonjol dalam peranan dokter untuk membuat placebo berhasil, dapat dilihat pada eksperimen dimana pasien dengan bisul-lambung berdarah dibagi dalam dua kelompok. Anggota-anggota kelompok pertama diberitahu oleh dokter bahwa ada suatu obat yang baru ditemukan yang niscaya akan mendatangkan rasa enak. Kelompok kedua diberitahu oleh para perawat bahwa ada suatu obat percobaan baru yang akan diberikan, tetapi sangat sedikit yang sudah diketahui mengenai efeknya.
Ternyata tujuh puluh prosen dari orang kelompok pertama menjadi banyak berkurang penderitaanya. Hanya 25 persen dari pasien dalam kelompok kedua yang mengalami manfaat yang sama. Kedua kelompok itu diberi obat yang sama: placebo.

Berapa banyak data ilmiah yang telah dikumpulkan mengenai keampuhan placebo? Kepustakaan medis selama seperempat abad terakhir meliput kasus-kasus dalam jumlah yang cukup mengesankan.

Dr. Henry K. Beecher, ahli anestesi pada Harvard University, memeriksa hasil 15 penelaahan yang melibatkan 1.082 orang pasien. Ia menemukan bahwa dalam seluruh lingkup luas tes ini, 35 persen dari pasien senantiasa mengalami “rasa sembuh yang memuaskan” bila dipakai placebo dan bukan pengobatan biasa untuk berbagai problem medis, termasuk rasa sakit luka sesudah operasi, mabuk laut, sakit kepala, batuk dan kecemasan.

Dr. Stewart Wolf menulis bahwa efek-efek placebo “tidaklah imajiner namun niscaya sugestif dalam arti kata yang lazim”. Pernyataannya dihubungkan dengan hasil-hasil tes dimana suatu placebo menimbulkan suatu kondisi darah dimana sel-sel darah yang khusus –bernama eosinophil- menumpuk sampai melebihi jumlah yang lazim dan beredar di seluruh jaringan. Wolf juga melaporkan suatu tes yang diselenggarakan oleh rekannya dimana suatu placebo mengurangi jumlah lemak dan protein dalam darah.

Bila seorang pasien penderita penyakit Parkinson diberi placebo namun ia diberi tahu bahwa ia sedang menerima obat, maka tremornya berkurang secara menyolok. Setelah efek placebo hilang, bahan yang sama dimasukkan ke dalam minuman susunya tanpa sepengetahuannya, tremor tadi timbul kembali.

Walau placebo dapat mendatangkan banyak manfaat, ia juga dapat mendatangkan banyak kerugian. Jaringan kelabu otak merangsang perubahan bio-kimiawi yang negatif seperti halnya yang positif. Beecher menekankan semenjak lama yaitu tahun 1955 dalam Journal of the American Medical Association bahwa placebo dapat mendatangkan efek obat mephenesin pada kecemasan.

Pada beberapa pasien, placebo dapat menimbulkan reaksi merugikan seperti rasa mual, pusing dan jantung berdebar-debar. Bila placebo menggantikan mephenesin, ia menghasilkan reaksi serupa dalam persentase tekanan yang sama. Salah seorang pasien, setelah meminum placebo, mendapat gatal-gatal kulit yang lenyap segera setelah placebo dihentikan pemberiannya. Seorang pasien lain pingsan dalam kejutan alergis ketika ia menelan placebo, dan lagi ketika ia menelan obat. Pasien ketiga mengalami sakit perut dan penumpukan cairan di bibirnya dalam sepuluh menit sesudah menelan placebo- bahkan sebelum ia menelan obat itu.

Dalam arti yang bahkan lebih mendasar, dapat dipertanyakan apakah juga etis atau apakah bijaksana bagi dokter untuk memupuk kepercayaan mistik pasien dalam pengobatan. Bertambah banyak dokter yang berpendapat bahwa mereka tidak boleh mendorong para pasien untuk mengharapkan resep. Sebab mereka tahu bahwa betapa mudahnya memperdalam ketergantungan psikologis maupun fisiologis si pasien pada obat-obat ataupun pada placebo. Pendekatan demikian mengandung resiko bahwa pasien akan menyeberang jalan pergi ke dokter lain. Tetapi, jika cukup banyak dokter yang mendobrak kebiasaan dalam hal-hal begini, ada harapan bahwa si pasien akan memandang kertas resep itu dari segi lain.

Kemauan Untuk Hidup, Lebih Penting
Disangsikan apakah placebo –ataupun obat apa saja- akan menghasilkan banyak tanpa kemauan hidup yang kuat dari pasien. Sebab kemauan untuk hidup merupakan jendela ke masa depan. Ia membuka orang pada bantuan apapun yang dapat disajikan oleh dunia luarnya, dan ia menghubungkan bantuan itu pada kemampuan tubuhnya sendiri untuk memerangi penyakit.

Kehendak untuk hidup memungkinkan tubuh manusia untuk menarik manfaat terbaik dari dirinya. Placebo memainkan peran dalam mengubah kemauan hidup dari suatu konsep si puitis menjadi realitas badaniah dan kekuatan yang mengatur.

Pada akhirnya, nilai tertinggi placebo adalah apa yang bisa ia katakan kepada kita tentang hidup. Bagaikan seorang pegawai surgawi, placebo membawa kita melalui lorong-lorong jiwa yang belum terjelajahi dan memberikan kepada kita rasa keabadian yang lebih besar daripada jika kita sehari-harinya melekatkan mata kita pada teleskop raksasa di Mount Palomar.

Yang kita lihat pada akhirnya adalah bahwa placebo tidak benar-benar perlu dan bahwa pikiran dapat melaksanakan tugas yang sulit dan luar biasa tanpa usah didorong oleh pil-pil kecil. Placebo hanya merupakan benda nampak yang menjadi diperlukan dalam suatu jaman yang merasa tak tentram dengan benda-benda yang tak nampak, suatu jaman yang lebih suka berpikir bahwa tiap efek dalam harus mempunyai sebab dari luar.

Berhubung ia memiliki ukuran dan bentuk serta dapat dipegang dengan tangan, placebo memuaskan dambaan sementara akan mekanisme yang tampak. Tetapi placebo akan larut dalam pengamatan, yang mengatakan kepada kita bahwa ia tidak dapat membebaskan kita dari kebutuhan untuk berpikir secara mendalam tentang diri kita sendiri.

Maka, placebo adalah duta antara kemauan hidup dan tubuh. Tetapi utusan ini dapat disingkirkan. Bila kita dapat membebaskan diri kita dari apa-apa yang kelihatan, kita dapat menghubungkan harapan dan kemauan hidup langsung dengan kemampuan tubuh untuk menyambut ancaman dan tantangan yang besar.

Pikiran dapat melaksanakan fungsi serta kekuatannya yang tertinggal atas tubuh tanpa ilusi campur tangan kebendaan”, kata John Milton, “dan sendirian ia dapat membuat neraka menjadi sorga, dan sorga menjadi neraka”.
(sumber: Norman Cousins/Saturday Review)

***

Bank Wakaf dan Laboratorium Bisnis, Mungkinkah?

oleh  Nilnaiqbal

Menyedihkan! Calon-calon penganggur, calon-calon dhu’afa, dan orang-orang miskin terus meningkat dari tahun ke tahun seiring pertumbuhan manusia. Sungguh menyedihkan sekali, yang menghadapi problem sosial ini sebagian besar justru kita umat Islam. Boleh dibilang, ini problem umat Islam.  Akankah kita tega membiarkannya?

Hai orang berselimut, bangkitlah…

Kekayaan strategis kita yang sesungguhnya adalah umat. Manusia (umat Islam) adalah asset yang sangat mahal sebetulnya. Kita melihat betapa banyak negara yang miskin sumber daya alamnya, namun bisa menjadi negara yang tertinggi GNP-nya. Swiss dan Jepang misalnya. Bahkan Korea Selatan yang pada tahun 1965 lalu sama miskinnya dengan Indonesia kini telah jadi negara yang relatif sejahtera, karena mereka mendahulukan serta sangat mementingkan pengembangan kualitas sumber daya manusia.

Selain itu, bila lebih jauh dikaji, salah satu kelemahan lain umat Islam adalah masih lemahnya struktur ekonomi mereka serta kemampuan yang juga belum terbina dengan baik. Organisasi-organisasi Islam pun masih rapuh fondasinya dalam menghadapi gejolak masa datang.

Masa depan yang penuh dengan berbagai perkembangan baru, sekaligus juga membonceng tantangan-tantangan baru, di samping tentu akan membawa serta problem-problem baru. Nilai-nilai senantiasa berubah. Pandangan hidup dan aneka informasi dunia melingkupi masyarakat. Tak dapat tidak tantangan ini tak boleh dihindari begitu saja. Ia akan datang, bergejolak dan pasti. Yang jelas, bagaimana kesiapan kita sebagai umat Islam untuk menghadapinya.

Yang kita lihat sampai kini, masih amat minim perhatian kita menggugah kesadaran pentingnya arti penguasaan ekonomi di kalangan umat Islam. Masih seberapa persen pengusaha muslim yang betul-betul berhasil secara nyata? Masih kurang! Masih terlalu banyak orang kita yang lebih suka berebut kursi ‘pegawai negeri’ sebagai tujuan akhir hidupnya. Mereka lebih suka memilih ‘jalan mudah lagi aman’. Padahal kita ingin mereka mampu mandiri dan menentukan diri mereka sendiri. Dengan demikian beban pemerintah ‘menyuapi’ rakyat banyak pun akan terkurangi. Continue reading “Bank Wakaf dan Laboratorium Bisnis, Mungkinkah?”