Hal kecil yang membuat perbedaan besar: Keputusan!

Banyak sekali rencana-rencana besar yang kita buat nggak pernah jadi-jadi. “Ah nanti saja. Supaya lebih sempurna, lebih perfect gitu lho. Sekarang kan belum waktunya. Malah kalau dipaksakan juga hasilnya bisa-bisa ngaco!”

Itulah satu alasan dari sekian banyak alasan. Akan tetapi besoknya begitu lagi. Ditunda lagi. Bahkan ketika benar-benar kita sudah siap, tiba-tiba ada saja yang menyebabkannya nggak jadi lagi. Continue reading “Hal kecil yang membuat perbedaan besar: Keputusan!”

Keluar dari zona kenyamanan

Berani berubah.
Berani keluar dari zona kenyamanan (comfort zone).

Rupanya itulah salah satu resep orang-orang sukses. Bagaimanapun kondisi mereka, kekurangan mereka, kelemahan mereka, semua itu tidak menjadi sebuah kendala.

Lihatlah Julius Caesar, meski menderita epilepsy, ia berhasil menjadi seorang jenderal dan kemudian menjadi kaisar. Lalu juga Napoleon, walau berasal dari keluarga sederhana, juga berhasil menjadi jenderal. Bethoven bahkan menulis beberapa lagu terbaiknya justru sesudah telinganya tuli sama sekali. Atau Charles Dickens yang menjadi novelis Inggris terbesar meski kakinya pincang dan lahir dari keluarga yang sangat miskin. Atau Milton yang menggubah sajak-sajaknya yang paling indah bahkan sesudah ia menjadi buta.

Orang-orang ini sanggup mengubah kekalahan jadi kemenangan, kekurangan jadi prestasi. Itulah orang-orang yang yakin bahwa keunggulan, kemenangan, keberhasilan dan kejayaan adalah fungsi garis lurus dari kemauan dan keberanian untuk berubah. Semua memang bergantung bagaimana sikap pikiran kita menghadapi gejolak kehidupan.

Apakah benar kita sudah berubah? Apa tanda-tandanya? Jika benar kita sudah melakukan perubahan, biasanya kita akan mengalami situasi yang tidak nyaman. Karena setiap perubahan pasti menuntut kita keluar dari zona kenyamanan (comfort zone). Itulah sebabnya tidak banyak orang yang benar-benar menyukai perubahan. Sebab untuk berubah ke arah yang lebih baik, biasanya memang tidak gratis dan memang tidak nyaman. Ada ‘harga’ yang harus kita bayar! Entah itu pengendalian sikap kita, pengorbanan waktu kita, fokus pikiran kita, bahkan terkadang bisa jadi terimbas juga pada keluarga kita.

Berubah berarti keluar dari kebiasaan-kebiasaan lama, membentuk kebiasaan-kebiasaan baru. Berhenti bekerja dengan cara-cara lama (yang biasanya sudah rutinitas), lalu terpaksa belajar lagi untuk bisa bekerja dengan cara-cara baru (tentu saja ini tidak terlalu nyaman). Akan tetapi, siapapun yang mau melakukannya, dan bersedia untuk keluar dari zona kenyamanannya, insyaAllah 99,9% pasti akan berhasil melaluinya. Sedang mereka yang masih dikuasai bisikan untuk menentang perubahan, dengan tetap mempertahankan kebiasaan-kebiasaan lama pasti akan tergilas, tertinggal, dan gagal.

Untuk mendapatkan hasil yang berbeda, lakukanlah dengan cara yang berbeda. Untuk mengubah nasib ya berubahlah. Kalau kita kita mau mengubah arah, kita akan berakhir di tempat yang sama.

Memang yang paling sulit adalah mengubah sikap atau attitude kita. Betapa tidak, selama ini kita sangat suka dan nyaman dengan sikap itu. Lalu tiba-tiba kita harus mengubah sikap-sikap yang biasanya kita suka itu menjadi sikap-sikap baru! Kalau selama ini kita tergolong orang yang senang dilayani, tentu tidak mudah untuk segera berubah menjadi manusia baru: suka melayani. Kalau kita terbiasa tidur sampai matahari terbit, tentu tidak mudah untuk bangun shalat malam. Kalau biasanya kita begitu mudah tersinggung bahkan naik pitam, tentu sedikit lebih sulit untuk menjadi lebih sabar. Kalau kita takut melakukan sesuatu yang baru, tentu sulit untuk segera memulainya, sehingga selalu saja ada ribuan alasan untuk terus menundanya.

Berubahlah. Tinggalkan zona kenyamanan. Memang akan ada tekanan dari berbagai arah. Ada banyak pergolakan batin. Ada banyak keluhan atas berbagai kesulitan. Akan banyak gejolak emosi yang menghimpit. Tapi itu adalah sebuah keniscayaan. Suatu jalan yang mau tidak mau terpaksa harus kita tempuh. Itulah sebuah pertanda jalan yang kita tempuh memang benar. Tidak mudah memang. Tetapi teruslah berjalan….

*** Penulis: Nilna Iqbal

Jangan pernah merasa matang

“Selalulah merasa hijau. Jangan pernah merasa matang.
Sebab jika sudah merasa matang, yang tinggal hanya busuknya ….”

Ini masalah sikap. Sikap untuk mau berubah, sikap untuk mau berkembang.

Dalam menghadapi berbagai keadaan, umumnya kita cenderung berharap, orang lainlah yang berubah, lingkunganlah yang berubah, situasilah yang berubah. Saya tidak!

Kalau skripsi nggak beres-beres kita berharap dosen mau “baik hati”. Jika bisnis mulai bangkrut, yang salah selalu karyawan, saingan bahkan juga produk. Kalau banyak kader nggak bergerak, kita mulai “meragukan” komitmen mereka. Pokoknya “mereka” lah yang perlu berubah! Mereka perlu menyesuaikan diri dengan “pikiran atau kehendak kita”.
Mengapa bisnis yang kita lakukan selalu harus berakhir dengan kegagalan. Mengapa puluhan lamaran kerja saya selalu tak memperoleh jawaban? Mengapa istri saya belum juga mau berhenti mengkritik saya? Mengapa suami saya masih saja pulang terlalu malam? Mengapa? Mengapa?

Apa yang salah? Apa rahasianya bisa mengubah orang lain? Berbagai buku kita pelajari. Berbagai diskusi dilakukan, untuk mencari tahu resep mujarab: Bagaimana Caranya Mengubah Orang Lain!!!

Seorang suami ingin sekali mengubah istrinya menjadi seperti yang ia impikan. Sementara istri pun mati-matian berusaha mengubah suaminya menjadi “sang suami idaman” . Seorang pedagang sering ragu memulai bisnisnya, lalu bersikap menunggu sampai situasinya berubah seperti yang ia inginkan. Dan umumnya kita pun banyak bersikap menunggu tak mau melakukan apa-apa sampai akhirnya “keputusan” itu datang. Begitulah kita. Semua kita ingin lingkunganlah yang berubah. Dunialah yang berubah. Orang lainlah yang berubah.
Akan tetapi sekalipun sudah begitu banyak upaya yang kita lakukan untuk mengubah seseorang dan situasi, telah berhamburan program dan biaya diluncurkan, mengapa tak juga berhasil apa yang kita lakukan?

Mari sejenak kita berhenti menginginkan orang lain berubah. Bukalah pintu hati-bersih kita, dan mari belajar lebih banyak dari Rasulullah yang telah amat sukses berkat bimbingan Allah. Amati lebih teliti bagaimana beliau “mengubah manusia” dan bahkan mengubah dunia.

Beliau mempraktekkan langsung sikap “Ibda’ binafsik” …Mulailah dari dirimu! Mulailah dari cara berpikirmu. Mulailah dari cara kerjamu. Mulailah dari Sikapmu!

Kita dulu yang harus berubah. Bukan orang lain. Bukan situasi. Bukan lingkungan. Selama ini kita cenderung menginginkan orang lain lah yang berubah. Inginnya rumah kita yang berubah. Inginnya teman-teman kita yang berubah. Inginnya struktur organisasi berubah. Inginnya situasi berubah. Inginnya semuanya …. selain diri kita.

Selama cara berpikir kita tidak pernah kita ubah, cara kerja kita tidak kita ubah, cara kita memimpin tidak kita ubah, cara kita mengkader tidak kita ubah, cara kita membangun tim-kerja tak kita ubah, maka sampai bertahun-tahun ke depan pun, tidak perlu heran ketika hasilnya pasti tetap sama. Sekalipun kita lakukan berulang-ulang, bertahun-tahun…… Pertumbuhan nol atau bisa jadi bahkan negatif.

Perubahan hanya akan terjadi lewat proses belajar. Sikap untuk selalu mau belajar adalah satu-satunya sikap penting agar seseorang mencapai puncak keberhasilan. Dalam keadaan bagaimana pun seseorang memulai tangga kehidupannya, di level apapun latar belakang pendidikannya, setiap orang yang mau belajar dan mau berkembang …. maka sesungguhnya ia sedang menaiki tangga keberhasilannya sendiri.

Sikap untuk selalu mau belajar, mau diajar, mau berkembang sering disebut sikap teacheable, dengan siapapun orangnya, apapun latar belakangnya. Mereka yang paling teacheable, maka mereka-lah yang paling cepat menaiki tangga kesuksesannya, di bidang apapun.

Sebuah organisasi akan tak terbatas pertumbuhannya jika sikap “teacheable” ini mendarah daging menjadi kebiasaan (budaya) organisasi tersebut. Tak ada istilah berhenti belajar. Fokus seluruh sistem adalah “pembelajaran”. Besar atau kecilnya suatu organisasi akan lebih banyak ditentukan oleh seberapa banyak orang-orang teacheable di dalam organisasi tersebut.

Semakin banyak anggota yang teacheable dalam organisasi, maka akan lahir banyak kader. Jika banyak kader yang terus belajar dan mengasah kemampuan memimpin mereka, maka akan lahir banyak leader (pemimpin). Tak heran jika kemudian organisasi itu akan mengalami pertumbuhan dahsyat tak terbatas secara amat luar biasa. Sebabnya satu, sikap mau belajar tanpa pernah merasa matang, di level apa pun jabatan dan tingkatannya,

Kita sendiri melihat bagaimana sikap ini tumbuh demikian pesat di kalangan para sahabat Rasul. Mereka melakukannya dengan cara menduplikasi (meniru) Rasul. Mereka belajar dari beliau tanpa berhenti. Diantara para sahabat saling belajar dan mengajar. Mereka mengamalkan amanat Rasul, “Sesungguhnya Belajar itu wajib hukumnya baik bagi laki-laki maupun perempuan” . Apa yang terjadi kemudian? Organisasi yang beliau pimpin, dalam waktu yang amat spektakuler mampu mengubah dunia!

Belajar memang tidak mudah. Bahkan untuk selalu konsisten memiliki sikap belajar, memang luar biasa sulit. Kita harus mau mengantongi ego kita. Baru kita akan punya sikap belajar yang luar biasa. Belajar dari orang diatas kita, itu sih biasa-biasa saja. Namun maukah kita belajar dari musuh kita, belajar dari bawahan kita, belajar sesama kita, belajar dari saingan kita. Itu memang tidak mudah. Tapi itu bukan berarti tidak bisa!

“Untuk mendapatkan hasil yang berbeda, lakukanlah hal yang berbeda”, itu rahasianya. Karena itu, mari kita selalu berubah (berkembang lewat proses belajar tanpa henti). Maka insyaAllah, orang-orang yang kita sayangi, orang-orang yang kita pimpin, perlahan tapi pasti, mereka pun akan berubah!

*** penulis: nilna iqbal

Makna Sebuah Persaudaraan

Orang bilang, dunia ini panggung sandiwara. Di sana berlangsung drama besar hidup manusia. Dengan tiap diri selaku pemain utama. Dengan peran masing-masing yang saling berbeda. Dengan penampilan yang bukan jati diri sebenarnya. Dengan bersembunyi di balik polah aneka rupa. Sebagai wujud pelarian diri yang terlunta-lunta. Akibat jalan hidup gelap-gulita. Sebab menghindari sinar terang ilahi sebagai penuntun hidupnya …!

Hingga, jangan heran kalau hubungan antara sesama … hubungan antar manusia, antar pribadi … antara kau dan aku … jarang bisa bersua. Malah, bukan suatu yang mustahil, kita tak ‘kan pernah saling saudara. Dalam sebuah persaudaraan yang sejati.

Yaitu persaudaraan dimana “engkau” bukan lagi seorang “asing”, seorang “dia”. Persaudaraan dimana “engkau” bukan lagi orang “antah-barantah” yang kebetulan bertatap muka. Bukan lagi persaudaraan karena engkau berguna buat saya. Bukan lagi persaudaraan karena kau dan aku sering jumpa. Bukan lagi persaudaraan lantaran kita saling menyapa. Bukan pula persaudaraan lantaran kita pintar menjawab salam. Bukan pula persaudaraan lantaran kita satu tempat teduh, satu organisasi ataupun satu bangsa. Apalagi lantaran mahir bersandiwara!

Tapi, lebih dari segala itu. Lebih dari sekedar saling sapa. Lebih dari sekedar saling jabat. Pun lebih pula dari sekedar diskusi, tarik suara. Sebab bukan suatu kemustahilan segala itu hanya pura-pura. Sekedar tenggang rasa. Sekedar ingin menunjukkan kita pun masih bisa sopan di tengah galauan massa …!

Ya, itulah persaudaraan dimana ‘kau’ dan ‘aku’ melebur jadi ‘kita’. Menyatu dalam suka dan duka. Bersatu dalam suatu kebersamaan yang dalam tapi nyata. Dengan silaturrahmi jembatan emasnya. Ia ‘kan jauh melebihi cinta. Bertahta dalam kemaujudan dan tetesan syorga. Bersemayam dalam hati insan penuh iman yang yang saling bersaudara. Di sana baru menjelma satu cita-cita. Duhai … siapa takkan iri melihatnya???!

Jenjang-Jenjang Persaudaraan
Manusia … siapa pun dia, senantiasa saling berhubungan sesamanya. Antara orang tua dengan anak. Antara suami dengan istri. Antara kakek dengan nenek. Antara buruh dengan majikan. Antara anggota dengan pimpinan. Antara kau-aku-mereka-kita … pendek kata, semua!

Namun, bila kita amati baik-baik, ternyata interrelasi tersebut seolah tersusun atas 3 tangga (tingkat). Mulai dari tangga paling bawah, yang lebar hingga di atasnya banyak manusia. Sampai tangga tertinggi, yang kecil dengan sedikit manusia di sana. Sebab memang tak seberapa yang sanggup menggapainya. Pertanyaan pun muncul. Posisi kita di mana?

Tangga Pertama: Basa-Basi
Inilah tingkat/tangga persaudaraan yang paling rendah. Paling lemah. Bahkan boleh dibilang, inilah persaudaraan pura-pura! Pada tangga ini, biasanya ucapan yang keluar cuma sekedar basa-basi. Misalnya: “Hei, apa kabar? … Mau ke mana? … Bagaimana keadaanmu sekarang? Wah, kau tambah cantik aja! … Mampir sebentar, yaa?”

Padahal itu hanya basa-basi. Ia terlontar sekedar “mengisi kekosongan”, membuyarkan kecanggungan dan kekikukan. Masing-masing berada dalam sikap “pura-pura”. Kita waktu itu tak bermaksud apa-apa dengan kata-kata itu. Ingin tahu pun, tidak!

Inilah persaudaraan yang biasa terjadi dalam bus, pesta-pesta atau “ngomong-ngomong” dengan tetangga. Tiada terjadi pertemuan, apalagi persaudaraan. Dalam arti yang sebenarnya. Masing-masing cuma berpura-pua, bersandiwara atau hanya omong-kosong sekedar sopan-santun. Ya, hakekatnya mereka tetap ‘sendiri’, sekalipun duduk berdua, berada bersama.

Memang bukan hal yang aneh kalau itu terjadi lantaran baru berkenalan, baru saling jumpa. Tetapi, kenyataan sering menunjukkan lain. Kendati hampir setiap hari jumpa, yang terjadi tak lebih dari sekedar saling angguk, saling sapa (kadang salam seenaknya), saling menaikkan pipi lalu … tersenyum. Biarpun cuma pura-pura!

Lebih mengkhawatirkan lagi … mereka sering bertemu-muka. Tiap kali bertemu, masing-masing berucap salam, “Assalamu’alaikum”. Tapi hanya basa-basi! Tak tergerak sedikit pun di hatinya persembahan salam keselamatan pada saudaranya sesama seiman. Inilah persaudaraan yang amat tak berarti apa-apa!

Maka jangan heran, kalau persaudaraan umat Islam cuma sebatas tangga ini … ia takkan membuahkan hasil apa-apa. Persatuan umat Islam akan sulit terwujud dan rahmatan lil ‘alamin pun sukar dibangkitkan! Suatu yang sangat menyedihkan, bukan?

Tangga Kedua: Dialog DuaTempurung Kepala
Yang ini, mulai sedikit meningkat tinggi. Mereka tidak lagi bertegur-sapa dalam artian sekedar basa-basi. Mereka mengucap salam bukan lagi bersandiwara. Bukan lagi melepas “sesak nafas”. Atau takut dibilang tak sopan, dan sebagainya.

Dalam tangga kedua ini … boleh dikata, sudah mulai berlangsung dialog. Sudah mulai terjalin hubungan. Kendati masih sebatas ‘isi kepala’. Tapi yang jelas, mereka mulai sudah punya ‘nyali’ untuk mengambil resiko mengatakan pada orang lain beberapa gagasan, pendapat, putusan, dan sebagainya.

Memang, barangkali mulanya baru sampai pada tahap membicarakan orang lain. Ini timbul karena masih ada perasaan segan, perasaan malu, perasaan takut “menelanjangi” pribadi sendiri. Dalam dialog yang terjadi, kita biasanya sudah cukup puas sebatas membicarakan pikiran, gagasan dan tingkah laku orang lain. Kita masih belum berani bicara ‘kau’ dan ‘aku’.

Demikianlah, pada taraf ini, perasaan masih terselimuti kikuk, kaku, segan. Pembicaraan pun tampak seakan formil. Kalau ‘terpaksa’ ketawa, paling hanya buat “menyenangi” hati orang lain. Atau kalau tidak, ya agar ia dikatakan “tahu sopan-santun!”

Biasanya, yang demikian terjadi pada orang yang baru mulai lebih jauh berkenalan. Tapi juga sering terjadi pada orang yang sudah lama “seatap” namun selalu hidup dalam suasana formil-formilan.

Dalam suatu kelompok diskusi pun hal ini sering terjadi. Ketika sesama anggota bertemu memang ada pembicaraan, tapi kikuk sekali. Banyak ucapan dan tingkah seolah dibuat-buat. Terkadang keduanya malah salah tingkah. Bahkan tak jarang mereka merasa tersiksa sendiri dengan pertemuan tersebut …! Hingga waktu keduanya berpisah … lega sekali rasanya. Seakan baru saja melepaskan beban berat satu juta ton! Ketakutan yang paling memalukan, bukan?

Akan tetapi, setelah melalui proses sekian lama, akhirnya terjalin juga dialog yang lebih dalam. “kau”dan “aku” bukan lagi bicara ”dia”, bukan lagi bicara orang lain. Kini, ‘kita’ telah mulai berani bicara “diri kita”. Tapi, memang masih sebatas ‘isi kepala’ saja. Dialog yang terjadi baru berupa dialog antar gagasan, antar pendapat. Belum lagi “dari hati ke hati”.

Tangga Ketiga: Dialog Emosional
Inilah hubungan antar manusia dalam sebuah pertautan emosional. Dan ini pulalah yang membuat arti sebuah persaudaraan menjadi suatu pengalaman yang sangat menyenangkan.

Ya, ‘kau’ dan ‘aku’ mulai bicara isi hatinya. “Kau” mulai bersedia menyingkap sebagian dari dirimu. “Aku” pun mulai sedia hendak terjun mendekati pintu hatimu. Kita sudah mulai saling membuka diri, dalam arti sebenarnya.

Dalam taraf ini, kita tidak saja bercerita tentang isi kepala kita. Tapi lebih dari itu, isi hati kita. Apalah artinya buah-pikiranku. Isi yang memenuhi kepalaku tidak lah sesuatu yang terlalu istimewa. Orang boleh-boleh saja setuju atau tidak setuju dengan gagasanku. Kalau kulempar satu gagasan ke tengah masyarakat … mungkin banyak yang lalu mendukung pikiranku. Lalu kemudian menyebar … dan kemudian menjadi milik kita bersama. Tapi … perasaan, luapan emosional yang berada di balik gagasan itu … bahkan yang sebetulnya membangun gagasan itu … itu resmi milik kepunyaanku. Dialah khas yang membentuk diriku.

Jelas tak seorang pun akan persis sama hatinya dengan hatiku. Tak seorang pun mengalami gairah agama yang persis sama dengan perasaanku. Tak seorang pun mengalami frustasi, menderita kesakitan atau merasakan gejolak nafsu persis seperti yang aku alami. Pun tak kan persis sama perasaan kebencianku pada korupsi dengan perasaan yang juga tentu kau alami …!

Pendek kata … hatiku dan hatimu beda! Ia bergetar pada frekuensi yang pasti berbeda. Percayalah …!

*** penulis: nilna iqbal

Gaya Hidup Kita Kini

Dulu, ikatan kekerabatan berlangsung sangat mesra. Usia persaudaraan pun bersemi sampai tua. Tiap hari mereka senantiasa kumpul bersama. Hidup damai, penuh ketentraman, tak tergesa-gesa.

Tapi semenjak masuk era modernisasi berubahlah suasana. Hampir semua jenis pola hubungan manusia tercabik-cabik mewujud jadi aneka romantika baru. Terjadi apa yang sesungguhnya kita sama-sama saksikan, kini. Revolusi industri mulai merenggangkan kasih mesra manusia dengan segala lingkungannya.

Usia Hubungan Kian Pendek

Manusia memang sedang dipercepat gerak hidupnya. Usia keterlibatan dan interaksi manusia dengan lingkungan sosial cenderung semakin singkat. Lebih-lebih masyarakat kota. Pola hubungan kian formal dan terbatas. Hampir dalam segala jenis hubungan manusia, dengan keluarga, dengan para tetangga, dengan rumahnya, dengan anak-istrinya, dengan orang tuanya, dengan handai taulan, karib kerabat, bahkan juga dengan kekasih pujaan hatinya.

Kalau dulu, ikatan kekerabatan dalam keluarga bisa berlangsung sepanjang usia, agaknya di masa yang akan datang, harapan ini sulit diwujudkan. Tingkat perceraian dan perpecahan keluarga akan semakin tinggi. Kesibukan suami dan isteri yang masing-masing berbeda profesi, ditunjang oleh mobilitas yang makin tergesa-gesa, berakibat waktu-interaksi kian pendek. Anak-anak pun terbiasa (akibat dibiasakan) dalam sentuhan yang kian singkat dan tak mendalam.

Tentu ada pengaruhnya. Rasa keterikatan anak pada orang tua jadi senakin sulit dibuktikan adanya. Rumah tangga pun terancam kohesivitasnya. Hingga ketika ada ‘gangguan’ sedikit saja, ikatan yang sudah lemah begitu rupa, bisa pecah itu keluarga.

Sahabat…Lewat Sambil Mengapung

Ikatan persahabatan pun demikian. Ia lebih menyerupai sebuah sampan yang meluncur dalam arus riak sungai perubahan. John Barth menangkap makna peregeseran ini dengan sebuah ungkapan dalam novelnya The Floating Opera, “Para sahabat kita lewat sambil mengapung; kemudian mereka hanyut terus dan kita harus percaya saja pada kabar angin atau sama sekali kehilangan jejak mereka; kemudian mereka muncul kembali dan kita memperbaharui persahabatan kita sambil menduga keadaannya sekarang atau mendapati bahwa mereka dan kita sudah tidak lagi saling mengerti”.

“Tak lama lagi”, kata Profesor Eli Ginzberg dari Universitas Columbia, “kita semua di sini akan jadi manusia tipe metropolitan, tanpa ikatan atau keterlibatan, bahkan, dengan para sahabat dan tetangga lama”.

Pun begitu hubungan kita dengan jiran. Max Weber menunjukkan fakta yang mencolok bahwa manusia yang tinggal dalam kota tak dapat mengenal tetangganya seakrab apabila mereka tinggal dalam lingkungan masyarakat yang kecil. Bahkan hubungan dengan tetangga tidak lagi dipandang sebagai ikatan jangka panjang. Angka rata-rata perpindahan geografis terlalu tinggi untuk itu. Hubungan ini diharapkan berlangsung selama individu tinggal di suatu lokasi, suatu jangka waktu yang pada umumnya makin lama makin pendek.

Setiap kali suatu keluarga pindah, mereka cenderung menggugurkan sejumlah teman dan kenalan biasa. Setelah ditinggalkan, akhirnya mereka pun dilupakan. Memang betul ada argumen, perpisahan tidak mesti mengakhiri semua hubungan. Berpisah bukannya bercerai. Betul, tapi itu cuma hiburan pelepas duka. Mungkin kita masih mau memelihara kontak dengan satu atau dua orang teman di tempat tinggal kita yang lama dan kita pun cenderung memelihara kontak yang sporadis dengan sanak keluarga. Tetapi pada tiap perpindahan terdapat erosi yang mematikan. Mula-mula ada lalu-lintas surat-menyurat yang sibuk dan bersemangat. Mungkin sekali-sekali ada kunjungan atau obrolan telepon. Akan tetapi frekuensinya berangsur-angsur menurun dan akhirnya berhenti sama sekali. Ini sudah kenyataan.

Seolah Tersiksa

Yang lebih pendek lagi umumnya ikatan hubungan jasa. Di sini terlibat para penjual, pengantar barang, pelayan pompa bensin, pengantar susu, pemangkas rambut, penata rambut dan sebagainya. Pergantian hubungan di tengah kelompok ini relatif lebih sering. Biasanya kita mengakhiri hubungan ini tanpa beban mental sama sekali. Tiada sedih, tiada duka. Wajar saja.

Kita memang hanya tertarik pada efisiensi pedagang sepatu dalam melayani kebutuhan kita. Kita tidak peduli apakah suaminya seorang pemabuk, heteroseks, atau homoseks. Karena kita hanya butuh membeli sepasang sepatu dan bukannya persahabatan, kasih sayang atau kebencian pedagang itu. Selama penjual sepatu memberikan jasanya yang agak terbatas itu kepada kita dan dengan demikian memenuhi harapan kita yang juga agak terbatas, kita tidak mendesaknya untuk percaya kepada Tuhan kita atau menjaga kebersihan rumahnya, menganut nilai politik kita atau menikmati makanan dan musik yang sama dengan kita. Kita membiarkannya bebas dalam segala soal yang lain, sebagaimana ia membiarkan kita bebas untuk menjadi apa saja atau melakukan apa saja yang tidak mengganggu kita.

Kita hanya tertegun sejenak ketika seseorang berteriak minta tolong, dan sambil mengurut dada, kita pun terus melanjutkan pekerjaan dan perjalanan kita.

Ini gejala baru dalam psikologi masyarakat kota. George Simmel berujar, “Bila manusia kota bereaksi secara emosional kepada siapa saja yang ia jumpai, atau memenuhi otaknya dengan segala informasi tentang mereka, maka batinnya akan diliputi ‘kabut’ (atomized) dan ia akan jatuh ke dalam kondisi mental yang tak dapat dibayangkan. Ia tak mengerti, tiba-tiba ia merasa tersiksa”.

Pendek kata secara umum, rata-rata jangka waktu hubungan antar pribadi dalam hidup kita sekarang ini dan di masa depan akan menjadi semakin pendek.

Manusia….Mobile

Rata-rata rentang waktu hubungan antar manusia itu adalah akibat wajar dari meningkatnya jumlah hubungan dan tingginya tingkat mobilitas hidup masyarakat. Dewasa ini orang kota rata-rata bertemu dengan lebih banyak orang dalam seminggu dibandingkan dengan orang desa di zaman feodal setahun, bahkan mungkin seumur hidupnya. Kebanyakan orang yang ia kenal sama saja seumur hidupnya.

Orang kota mungkin mempunyai suatu kelompok inti yang interaksi dengan anggotanya bertahan selama periode yang lebih lama, tetapi ia pun berinteraksi dengan ratusan, atau ribuan orang yang boleh jadi hanya sekali atau dua kali dijumpainya dan kemudian lenyap sama sekali dari ingatannya.

Meningkatnya perlawatan mengakibatkan peningkatan jumlah hubungan sementara. Dalam hal yang satu ini, Amerika memang nomor satu. Dalam tahun 1967 saja misalnya, 108 juta orang Amerika melakukan 360 juta perjalanan. Dan perlawatan ini sendiri mencakup jumlah 312 milyar mil-penumpang. Lebih-lebih lagi perjalanan bisnis dan liburan.

Yang juga menarik adalah data-data tentang gerak perpindahan masyarakat desa ke kota di Indonesia. Di tahun 1960 misalnya 72 % dari anak muda yang berumur 15-24 tahun masih bekerja di desa-desa. Pada tahun 1972 angka tersebut menurun menjadi 60 %, kebalikan dari angka dan tahun tersebut. Pada tahun 1985, angka ini menurun secara drastis menjadi 48,5 persen, suatu penurunan rata-rata 1% per tahun dalam kurun waktu 25 tahun terakhir. Pada tahun 2000, kurang dari 35 % mereka yang berumur antara 15-24 tahun bekerja di desa. Sungguh suatu perubahan yang cukup mendasar dalam kurun waktu kurang lebih 20 tahun terakhir ataupun untuk masa yang akan datang. Dan gerakan mereka itu akan lebih cepat lagi ketika ada di kota. Umumnya desa pun tinggal kenangan masa lalu saja.

Good Bye…My Sweet Home

Hubungan kita dengan rumah pun terancam punah. Dulu dalam dunia yang serba keras, lapar dan berbahaya, rumah, meskipun tak lebih dari sebuah gubuk, dianggap sebagai tempat berlindung terakhir. Kepustakaan penuh dengan petunjuk yang baik tentang pentingnya rumah. “Carilah rumah untuk beristirahat, sebab rumah itu paling ramah” (Seek home for rest, for home is best) adalah kalimat dari “Instruction to Housewifery”, sebuah buku petunjuk abad ke-16 oleh Thomas Tusser. Masih ada belasan ungkapan lain yang kini bersarang dalam musium kebudayaan. “A man’s home is his castle…” (Rumah seseorang adalah istananya). “home, sweet home…” (Rumahku, rumahku yang manis).

Kini, orang suka berpindah. Dan apabila seseorang mengakhiri hubungannya dengan rumahnya, ia pun biasanya mengakhiri hubungan dengan segala jenis tempat “satelit” di kejiranan itu. Ia berganti pasar-raya, pompa bensin, terminal bis, dan pemangkas rambut, dan dengan segala manusia yang pernah ia jumpai di situ, sekalipun pacarnya. Kita sedang menyaksikan sejarah kemerosotan arti tempat bagi kehidupan manusia.

Pacaran…Sementara Saja

Kegiatan mondar-mandir, bermusafir dan pindah tempat tinggal ini akhirnya menjadi kebiasaan hidup. Makin besar mobilitas seseorang, makin banyak pula perjumpaan tatap muka yang singkat, kontak antar manusia yang sepintas, yang masing-masing merupakan hubungan tertentu yang fragmentaris dan yang paling penting, dalam waktu yang sangat terbatas.

Louise Wirth kemudian mencatat sifat fragmental hubungan manusia kota. “Secara karakteristik, para penghuni kota saling bertemu dalam peran yang sangat segmental…” tulisnya. “Ketergantungan mereka pada orang lain terbatas pada sebagian aspek yang amat kecil dari lingkungan kegiatan orang lain itu. Daripada terlibat mendalam dengan setiap insan yang kita jumpai”, katanya menjelaskan, “kita lebih perlu mempertahankan hubungan yang mengambang dan terbatas dengan seseorang”.

Ini pun terjadi dalam hubungan kita dengan sang kekasih. Laki-laki akan semakin banyak ketemu gadis-gadis cantik yang senantiasa berbeda tiap ditemuinya. Kaum wanita pun kian banyak melangsungkan hubungan dengan banyak ragam polah pria. Jadinya, mereka terus diguncang rasa kesetiaannya. Suatu saat mereka sama-sama bertemu dalam suatu pesta, lalu saling tertarik…lalu akhirnya akrab…intim…pacaran. Tapi kedua-duanya sama-sama sibuk. Mereka akan teralih perhatian dalam pikirannya dari 100% memikirkan kekasih (dulu memang bisa begitu), menjadi tinggal 50%, sisanya untuk kantor, teman, dan lingkungan aktivitas lainnya. Hingga suatu saat lain…ia bertemu lagi dengan gadis atau jejaka lain dalam suatu kesempatan lain. Entah bagaimana…ini pun bisa menjadi akrab…lalu intim. Begitulah…siklus hubungan pria wanita akan kian dipersingkat juga. “Duhai, kekasih…sayang ini sulit sekali terelakkan”, bisik kalbunya. “Arus kehidupan ini…mengapa begitu cepat, elaknya membenarkan diri.”

Ngetop Mendadak…

Tidak hanya interaksi-manusia yang kian pendek umurnya, citra dan perhatian kita pada sesuatu pun pendek usianya. Ia muncul dalam sekejap lalu segera berlalu, senyap.

Tidak ada produk yang lebih cepat munculnya atau lebih kejam lenyapnya dariapada orang yang terkenal mendadak, isu yang heboh sesaat, dan berita yang bertukar dua sampai tiga kali sehari. Perhatian kita dialihkan dari suatu topik ke topik lain, dari satu tokoh ke tokoh yang lain, dari isu yang satu ke isu yang lain, dengan kecepatan yang terus meningkat. Citra itu seperti hinggap sebentar dalam benak, lalu terbang lagi dan kemudian digantikan citra yang baru lagi., pergi lagi. Demikian seterusnya.

Ribuan “tokoh” seakan berpawai melewati panggung sejarah masa kini. Manusia nyata (real) yang dibesarkan dan diproyeksikan oleh media massa, kemudian disimpan sebagai citra dalam benak jutaan orang yang belum pernah mengenal mereka, belum pernah mengajak mereka bicara, belum pernah melihat mereka “secara pribadi”. Mereka menjadi kenyataan, hampir (dan kadangkala lebih) sama nyatanya seperti orang lain yang mempunyai hubungan “pribadi” dengan kita.

Kita telah menyaksikan tiba-tiba melonjaknya atau merosotnya popularitas “gaya rambut Bardot”, “mode Cleopatra”, James Bond dan Batman, belum lagi tudung lampu Tiffany, kaca mata pop, poster Michael Jackson atau Lady Diana, bulu mata palsu, dan tak terbilang macam-macam barang tetek bengek serta keanehan yang dipantulkan atau disesuaikan dengan cepatnya perubahan budaya pop itu.

Mengomentari media massa, sejarawan Marshall Fishwick menyatakan dengan kecut, “Kita bahkan belum sempat mengenal baik ‘Pahlawan Super’, ‘Kapten Tampan’ dan ‘Tuan Hebat’, tahu-tahu mereka telah terbang ke luar layar televisi untuk selamanya”.

‘Drama publik ini”, kata sosiolog Orrin Klapp, pengarang buku yang memukau Symbolic Leader, “sebagian besar merupakan produk dari teknologi komunikasi yang baru. Musibah, keresahan, ketololan, persaingan, skandal, lemak babi, biskuit beracun, boom bank, konglomerat, seakan-akan merupakan hiburan atau seakan-akan roda rolet politik yang berputar-putar. Yang disukai datang dan perginya dengan sangat cepat sehingga memusingkan…

Riak informasi telah berubah menjadi gelombang dahsyat yang memecah dengan hempasan yang makin lama makin cepat, menghantam kita, bagaikan mencari jalan masuk ke sistem syaraf kita.

Begitulah, usia interaksi dan perhatian manusia, baik terhadap manusia lain atau lingkungan sosialnya, kian hari, kian pendek, hingga pola hubungan dan perhatian pun semakin formal dan terbatas. Manusia semakin jauh dari manusia lainnya.

Yah…beginilah nasib dunia…hidup manusia. Desakan perubahan itu begitu dahsyat. Desakan itu bahkan sedang kita alami saat ini. Angin kencang perubahan ini…akankah mengakhiri persahabatan kita yang hakiki, ukhuwah kita yang baru saja bersemi? Lantas, dimanakah kebahagiaan itu akan kita pertaruhkan lagi? Atau mungkin…memang begitulah ciri hubungan kita, nanti. Hubungan singkat? Masyaallah…Bagaimana ini?

penulis: nilna iqbal

Pengultusan Sains dan Teknologi

Kemajuan sains dan teknologi membawa kejayaan dan kebahagiaan umat manusia. Kenikmatan dan kemudahan hidup serta berbagai hiburan didapat sebagai hasil sains dan teknologi. Kekurangan tanah pertanian telah dapat diatasi dengan mengubah gurun-gurun pasir serta daerah tertutup salju menjadi areal pertanian yang subur. Jarak perjalanan, yang dulu mesti ditempuh berbulan-bulan, saat ini hanya berbilang jam, bahkan tak lama lagi bisa sekian detik saja. Mobil yang dijalankan dengan battery dan energi surya pun mulai dipakai.

Ilmu kedokteran pun kian mengagumkan. Ginjal, paru-paru, jantung dan alat tubuh penting lainnya telah dibuat dan diperdagangkan sebagaimana layaknya onderdil-onderdil mesin. Orang tua yang dulu dianggap bakal tak punya anak, kini, simsalabim, lahirlah si Upik atau si Buyung. Dengan teknik-teknik termaju seleksi gen, bersamaan dengan diagnosa janin dan perawatan yang cermat terbuka harapan yang memungkinkan “mengendalikan kualitas” keturunan kita.

Sekarang telah luas juga digunakan teknik inseminasi buatan (artificial insemination/AI) dengan air mani donor (orang lain), jika sang suami mandul, atau berpenyakit turunan parah seperti Hutington. Seorang suami, kini, bisa menyimpan air maninya dalam cryobank (bank tabungan air mani) sebelum dirinya disterilkan, atau memungkinkan sang istri punya anak dari suami yang udah mati! Dengan sistem “kloning” -inti sebuah telur “dibuahi” dengan inti sel somatik (badan) lalu dicangkokkan kembali ke rahim sehingga berkembang seperti biasa– ada kemungkinan nantinya seseorang bisa melahirkan anak monyet, kalau rela! Ada lagi cara fusi telur (penggabungan telur), yang akan melenyapkan perlunya sperma pria dan akan selalu menghasilkan/melahirkan bayi wanita! (lelaki makin tak laku?) Bahkan, kedua telur itu, bisa diperoleh dari satu wanita yang sama!

Banyak, banyak sekali kalau kita sebutkan satu per satu. Belum lagi metode memperlambat ketuaan, darmawisata ke ruang angkasa atau ke tepi alam semesta ini (?). Begitu juga perkembangan komputer dan teknologi komunikasi yang kian canggih dan sempurna yang akan dapat memberi kita solusi di berbagai bidang kehidupan. Robot pun kian banyak mengambil alih tugas manusia. Teaching machine, yang jauh lebih efisien, telah menggantikan fungsi guru. Untuk menumbal kekurangan tidur digunakan pula sleep machine. Pendeknya manusia akan dapat hidup enak dan sepuas mungkin. Semua berkat sains dan teknologi !

Akibatnya timbul anggapan pada sebagian kalangan: sains adalah segala-galanya. Sains dapat membuat sorga di dunia ini. Peradaban seperti ini oleh Prof. Jaques Barzun dalam bukunya Science, The Glorious Entertaintment disebut sebagai Scientific Culture -peradaban sains- manusia lebih percaya pada sains dan teknologi. Manusia dipimpin semata-mata oleh ratio, akal sehat dan inteleknya saja.

Kendatipun demikian masih ada ahli pikir yang cemas melihat perkembangan masyarakat dan cara pikir seperti itu, terlalu tunduk pada otoritas sains belaka. Keagamaan, ketuhanan, susila dan nilai-nilai etis lainnya ditanggalkan. Secara kualitatif hidup bergelimangan alam benda yang berlimpah-limpah dan tunduk hanya pada kekuasaan intelek saja pada hakekatnya miskin! Semu belaka. Sebab yang menjadi daya dorongnya adalah keuntungan atau laba. Inilah yang jadi ciri khas utama masyarakat peradaban sains itu.

Saingan yang tajam dalam kehidupan manusia, kurangnya rasa kegotongroyongan, tak pernah puas dengan segala yang ada, padahal hidup serba ada, menyebabkan timbulnya kebingungan, kegelisahan batin dan kerisauan hati dalam masyarakat. Manusia hidup dicekam stress dan ketegangan terus menerus. Lalu terjadilah peningkatan penjualan obat tidur, obat bius dan penenang saraf. Hal semacam itu takkan terjadi kalau manusia yang hidup dalam peradaban sains itu memperoleh kebahagiaan dan ketenangan batin. Hingga para ahli pikir Barat pun sampai bertanya-tanya, “Kalau dunia jadi demikian, adakah juga gunanya orang berumur panjang?”

Kekhawatiran ini tercermin dari pendapat banyak ahli pikir Barat sendiri. Hampir semua filosof besar mengatakan, “Kelam telah menyelimuti dunia barat dan satelitnya”. Oswald Spengler, Nikolai Danilevski, Arnold J. Toynbee, P. A. Sorokin, Walter Schubart, N. Berdyev, dan lainnya melukiskan zaman sekarang ini sebagai suatu masa transisi teramat besar dari peradaban lama menuju peradaban baru. Sistem peradaban lama, secara berangsur-angsur tapi pasti mulai melemah dan akhirnya padam sama sekali, lenyap dari permukaan bumi.

Seorang sastrawan modern besar, T. S. Elliot, menuangkan kekhawatirannya:

“Semua ilmu pengetahuan kita membawa kita makin dekat kepada kebodohan
semua kebodohan kita membawa kita makin dekat pada kematian
tapi… makin dekat pada kematian
bukan makin dekat pada tuhan…
mana lagi hayat kita yang telah hilang dalam kehidupan
mana lagi kebijaksanaan kita yang telah hilang dalam ilmu pengetahuan
mana lagi pengetahuan kita yang telah hilang dalam penerangan
perputaran semesta alam dalam dua puluh abad membawa kita
terjauh dari Tuhan…
dan kian dekat pada kehancuran…”

Islam Sinar Kehidupan Mutakhir

Bila mendung kerusakan harus disibakkan, jika penderitaan harus dihapuskan dari dahi manusia, maka cahaya Din haruslah terbit sebagai fajar membawa suasana baru nan tenteram. Kalau kita bertanya dari mana sinar cahaya itu, jawabannya semakin jelas: hanya dari Quran dan Sunnah Rasul!

Islam merupakan suatu kemasyarakatan, pedoman hidup yang amat sempurna, tatanan jiwa dan sekaligus kekuatan kebudayaan. Hanya Islam agama yang diridhoi Allah (QS. 3: 19) dan yang hanya yang dibenarkan oleh Allah (QS. 3: 85).

Pokok-pokok ajarannya sama modernnya dengan hari esok. Islam pun sanggup di hari ini mendengungkan era baru dalam hidup umat manusia. Ia dapat menampilkan pada manusia peradaban baru dari hidup dan kehidupan di dunia ini. Dia menampilkan kebenaran dan keadilan. Pesan-pesannya menembus jantung dan menggetarkan jiwa. Dia sanggup membebaskan manusia dari kurungan besi tuhan-tuhan palsu yang selalu membelenggu, dan selanjutnya mengantarkannya ke zaman damai lagi makmur sesuai cita-cita seluruh manusia.

Taqwa pada Allah serta berpegang teguh pada nilai-nilai moral adalah senjata utama yang sanggup mencegah hancurnya nilai-nilai kemanusiaan. Dan hanya wahyu Allah yang sanggup jadi kendali utama nafsu manusia serta dapat menuntun langkah-langkahnya (QS. 45: 23). Lembaran-lembaran sejarah jadi saksi akan kenyataan ini.

Tergantung Generasi Mud

A. N. Whitehead dalam bukunya Science and The Modern World menulis, “Bila kita ingat betapa pentingnya agama bagi umat manusia, begitu juga ilmu pengetahuan, maka tidaklah berlebih-lebihan bila dikatakan bahwa sejarah kita masa mendatang tergantung pada putusan generasi kini mengenai hubungan antara keduanya”.

Hal inilah yang mesti disadari oleh segenap generasi muda Islam. Dalam situasi yang amat khas ini terbuka kesempatan emas yang sangat menentukan sekali. Generasi muda satu-satunya harapan.

Maka peran aktif dan kerjasama yang harmonis berbagai komponen masyarakat amat diharapkan. Pengajaran agama dan kerohanian harus diefektifkan, disamping juga sains dan teknologi. Kontroversi agama dan ilmu pengetahuan harus disingkirkan, sebab keduanya selaras dan tak dapat dipisahkan.

Bagi kaum intelektual lebih penting mengetahui apa hakekat yang tersirat daripada yang tersurat dalam ayat-ayat Allah. Mementingkan yang tersurat –dengan tafsir-tafsir yang dogmatis yang tak memberi peluang untuk bertanya dan memberi tafsir lain- akan menanam pada penganutnya jiwa tertutup, menurut saja dan taqlid buta, dan ini dilarang Allah. Akan timbul fanatisme dan intoleransi pada pandangan lain.

Inilah yang jadi sebab utama timbulnya pertentangan antara ilmu dan agama, padahal keduanya itu satu padu tak teruraikan. Karenanya para filosof, para ulama dan saintis harus bekerjasama dalam pendidikan rohani ini. Mereka hendaknya, tanpa prasangka, bertemu dalam satu kehendak membangun dunia baru yang aman dan damai, dimana seluruh umat manusia berkoeksistensi dengan penuh toleransi dan pengertian.

Pengajaran seperti itu dititikberatkan pada kaum muda sebagai penyambut tongkat estafet generasi sebelumnya. Perlu disiapkan dan disuburkan generasi “ulama yang intelek dan intelek yang ulama”. Dunia sekarang ini dan dunia masa depan sangat membutuhkan. Mereka tidak hanya ahli dalam bidang-bidang kemasyarakatan, sains dan teknologi, tapi disamping itu juga seorang ulama. Siang hari mereka betebaran mencari dan menggali karunia Allah, mengamalkan ilmunya demi kemaslahatan manusia, bukan menghancurkannya, malam hari mereka tunduk dan zikrullah, menghambakan dirinya pada Allah, Pencipta dan pemeliharanya. Inilah umat yang dinanti-nantikan. Inilah yang disebut oleh Allah dalam Al Quran sebagai “ulil albab” itu.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal (ulil albab). Yaitu orang-orang yang senantiasa ingat Allah sambil berdiri dan duduk, dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini semua dengan sia-sia. Maha suci Engkau, sebab itu peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Ali Imran 190-191).

Sumber bacaan:
1. Prof. Dr. Garnadi Prawirosudirjo, MSc. Integrasi Ilmu dan Iman, Jakarta, Penerbit Bulan Bintang, 1975

2. Abul A’la Al Maududi, Islam Dewasa Ini.

3. Aku Tahu, No. 26 tahun III, Maret 1985

4. Sukmadjaja Asyarie-Rosy Yusuf, Index Al Quran, Bandung, Penerbit Pustaka, 1984

penulis: nilna iqbal

Kalimat apa yang anda percayai?

Setiap orang bersikap, bekerja, berjalan di atas kalimat-kalimat yang ia percaya. Pada kalimat-kalimat itulah kita bersandar dan menjalani kehidupan. Kita bisa juga menyebutnya paradigma!

Pertanyaannya: apakah anda tahu kalimat-kalimat apa yang aktif di dalam otak kita? Pada umumnya kalimat-kalimat yang menguasai jalan hidup kita itu bekerja secara otomatis dalam otak bawah sadar kita. Kalimat-kalimat itulah pikiran-pikiran kita. Ia kita akan mengejawantah dalam berbagai sikap, perilaku dan kebiasaan kita.

Bila kita merasa selalu gagal, maka sesungguhnya kalimat-kalimat kegagalan telah banyak menguasai pikiran kita. Bila kita sering merasa takut untuk memulai sesuatu, kalimat-kalimat itulah mendominasi otak kita.

Karena itu, bisa saya katakan jika kita merasa ada yang salah dalam diri kita, maka hal pertama yang harus kita obati adalah pikiran kita. Mungkin kita perlu meng-install ulang otak kita. Mengisinya dengan file-file baru, dengan kalimat-kalimat baru. Maka bila itu kita lakukan kita benar-benar bisa lahir baru kembali, menjadi manusia yang berbeda, menjadi manusia yang jauh lebih baik lagi.

Jadi mari kita install ulang otak kita! Diinstall dengan apa?

Instal-lah dengan kalimah-kalimat Ilahiyah. Instal-lah dengan kalimat-kalimat suci yang diturunkan Allah SWT untuk kita.

Ketika kita membaca Al Qur’an setiap hari, dengan pemahaman tentu saja, maka sesungguhnya kita telah menginstall kalimat-kalimat itu ke dalam pikiran kita. Ketika kita berdoa bermunajat kepada Allah SWT, sesungguhnya kita menginstall harapan-harapan dan keinginan-keinginan kita dalam bawah sadar kita. Ketika kita hanya mengatakan kalimat-kalimat positif saja setiap hari, maka kita telah menginstall file-file positif dalam diri kita.

Sabda Rasulullah SAW, “Kalau kau beriman kepada Allah SWT dan Yaumul Akhir, katakan hanya kalimat-kalimat yang baik saja … kalau tidak lebih baik diam.”

penulis: nilna iqbal