Mengapa Zat Putih Telur Penting?

Mengapa protein atau zat putih telur amat penting berada dalam makanan?

Sebab dari proteinlah protoplasma yang hidup dalam sel itu dibuat. Bahan hidup yang ajaib ini terus menerus mengisap dan menggunakan tenaga. Sebagian dari tenaga ini diperlukan untuk pertumbuhan sel itu sendiri. Yang tersisa dipakai untuk pekerjaan yang dilakukan oleh sel itu dan untuk panas yang ia hasilkan. Itulah yang menjadikan kita tetap hangat dan hidup.

Selama kita hidup dan sehat-sehat saja, sel-sel kita itu akan mempertahankan suhu tubuh yang sama tanpa menghiraukan cuaca. Untuk melakukan tugas ini, sel-sel itu harus mempunyai protein dan hidrat arang yang cukup.

Bahan protein dibentuk mula-mula sekali dalam tanaman dan pepohonan. Pabrik kecil di dalam daun dan akar bekerja terus-menerus dan mengubah bahan kimiawi alam yang sederhana menjadi bahan yang serba rumit, seperti protein, hidrat arang, dan lemak, sedia digunakan di dalam tubuh manusia.

Hidrat arang dan lemak menyediakan tenaga untuk semua sel tubuh. Protein diperlukan untuk pertumbuhan dan perbaikan sel. Protein adalah kelompok zat-zat yang paling rumit yang diketahui dalam bidang ilmiah dewasa ini.

Untunglah kita tidak perlu mengerti ilmu kimia makanan dan sel, sebelum kita memesan makanan kita. Hal ini tak perlu menyusahkan kita. Biarlah kita serahkan hal itu kepada para ahli ilmu pengetahuan dengan mikroskop dan perlengkapan mereka yang serba halus. Yang penting bagi kita adalah mengetahui dengan pasti bahwa kita mempunyai cukup protein di dalam makanan kita sendiri, karena inilah bahan makanan yang membangun tubuh yang kuat dan sehat.

Protein diperlukan terus menerus untuk perbaikan jaringan yang rusak. Protein penting untuk pembentukan tulang dan otot yang kuat pada anak-anak yang sedang tumbuh dan diperlukan juga seumur hidup. Kita tidak pernah akan hidup sehat kecuali kita mendapat cukup protein.

Protein bukan saja merupakan zat yang amat rumit, melainkan banyak sekali jenisnya yang belum diselidiki. Setiap jenis protein dilengkapi sejumlah tertentu “building blocks” atau asam amino, yang selalu diatur dalam urutan tertentu menurut jenis protein. Protein yang lebih rumit mempunyai lebih banyak asam amino.

Beberapa protein seperti albumin, mudah sekali larut dalam air. Yang lain seperti globulin, hanya dapat dilarutkan dalam cairan. Baik albumin maupun globulin terdapat di dalam peredaran darah bersama-sama dengan banyak macam protein yang lain, yang semuanya perlu untuk kehidupan. Semua protein di dalam tubuh terus menerus diubah dan digunakan.

Sebelum diserap oleh tubuh, semua protein dalam makanan harus dipecahkan lebih dulu menjadi asam amino. Ini terjadi di dalam usus kecil. Dari situlah pecahan protein ini diangkut oleh peredaran darah ke hati dimana protein itu diubah dan disimpan serta siap untuk digunakan dalam waktu mendatang. Dan dalam segala jaringan, pecahan protein ini akhirnya disenyawakan kembali dengan sejenis protein yang diperlukan oleh setiap macam sel.

Sumber Protein Yang Baik
Protein terdapat dalam hampir segala macam makanan. Tapi ada makanan yang mengandung jauh lebih banyak dari yang lain. Makanan yang paling banyak mengandung protein ialah susu, telur, keju, daging, ikan, biji-bijian yang masih berkulit-ari, ercis, kacang tanah dan kedele. Karena daging itu umumnya mahal, banyak keluarga mungkin tidak sanggup membelinya. Karena berbagai-bagai sebab, ada keluarga yang lebih menyukai makanan tanpa daging. Untunglah, kombinasi sayur-sayuran biasanya dapat mencukupi semua protein yang diperlukan seseorang.

Susu dan sejenisnya merupakan sumber protein yang terbaik. Umumnya, protein dari sumber ini mudah dicernakan dan diserap oleh tubuh. Susu mengandung protein yang sempurna dan juga menyediakan kalsium dan fosfor dalam proporsi yang tepat benar untuk anak-anak yang sedang tumbuh dan untuk para ibu yang sedang menyusui.

Tetapi meskipun susu merupakan makanan yang sebaik itu, kita harus masih berhati-hati. Sebab, susu mudah sekali dikotori oleh kuman-kuman penyakit baik selama proses pemerahan, maupun selama disimpan. Sebab itu semua susu harus dimasak atau melalui proses pasteurisasi sebelum dipakai. Memasaknya sampai mendidih sekalipun hanya beberapa menit akan dapat membunuh semua kuman yang berbahaya.

Daging juga merupakan sumber lain bagi protein. Di dalamnya terdapat pula banyak zat besi, fosfor, dan beberapa vitamin B complex. Tetapi semua daging binatang mengandung sejenis sampah yang harus dikeluarkan oleh ginjal. Ini berarti pekerjaan tambahan untuk tubuh dan juga membawa kesulitan bagi mereka yang ginjalnya mungkin sudah dirusakkan oleh penyakit.

Banyak sekali alasan yang baik untuk hidup dengan makanan tanpa daging. Meskipun demikian, seorang yang tidak makan daging harus mengetahui dengan pasti bahwa ia mendapat cukup protein dari makanan lain, seperti kacang-kacangan, biji-bijian yang masih berkulit-ari, susu dan sejenisnya.

Dan salah satu sumber protein yang patut diperhitungkan ialah kedele. Makanan yang sederhana ini mengandung protein yang lengkap. Kedele ditanam di Tiongkok dan di Jepang berabad-abad lamanya, lama sebelum sejarah negara-negara ini ditulis. Kedele ini mengandung banyak sekali protein. Ia mengandung protein dua kali lebih banyak ketimbang yang ada dalam daging, bahkan sampai empat kali lebih banyak tinimbang yang ada dalam telur.

Ah pokoknya, tiap hari kita mesti “makan” protein…. ya ‘kan?

Kekuatan Indera Manusia

Berapa macam bau yang mampu anda kenal dengan alat penciuman anda? Jawabnya ialah: Jika anda tidak merokok, anda akan mampu membedakan sekitar dua ribu bau – bauan yang berbeda. Kemampuan itu hanyalah setengah dari kemampuan yang dapat dilakukan oleh orang biasa pada waktu seratus tahun yang lalu.

Menurut Prof. Wilhem Neuhaus, manusia telah merusak ketajaman penciumannya, sehingga berada dibawah kemampuan hewan yang paling primitif sekalipun. Anjing pelacak polisi mampu mencium bau – bauan yang jaraknya jauh dan ketajamannya sejuta kali ketajaman manusia. Seorang yang pekerjaannya banyak berhubungan dengan bau–bauan akan dapat mengembangkan penciuman sedemikian rupa, sehingga sulit dipercaya. Misalnya seorang ahli kimia pembuat parfum, dapat membedakan dengan cepat lima ribu macam bau – bauan. Dan menurut para ahli, orang yang penciumannya paling peka didunia, dapat membedakan dua belas ribu bau – bauan. Mengapa kita tak dapat melakukannya?

Potensi dari daya pencium kita adalah 120 kali lebih sensitive dari alat perasa kita. Ukuran hidung tak ada hubungannya sama sekali dengan kepekaan daya penciuman kita. Karena bagian yang menonjol dari hidung, seperti lubang hidung, samasekali tak mampu mencium apa – apa. Penciuman dilakukan oleh hidung bagian dalam yang terletak dibelakang mata,diatas dinding mulut.

Molekul bau – bauan dalam bentuk gas yang berjalan, meski dalam udara yang diam sekalipun, masuk kedalam bagian sel penciuman yang menimbulkan suatu reaksi kimia. Tidak seperti mata dan telinga, yang mampu memberikan respons pada getaran tertentu dan jarak getar yang tepat. Menurut suatu teori, makin bertambah tua kita, makin berkuranglah ketajaman alat penciuman kita. Anak yang berumur enam tahun mampu membedakan bau – bauan dua kali lebih banyak dari pada yang dapat dilakukan oleh orang berumur 36 tahun. Karena anak kecil sangat senang mencium bau – bauan yang ada disekitarnya.

Seorang ahli bedah telinga, hidung dan tenggorokan mengatakan, bahwa dengan hanya mempunyai keinginan untuk mencium bau – bauan yang ada di sekeliling kita, kita dapat memperbaiki ketajaman penciuman kita sampai dua puluh lima persen.

Di suatu laboratorium parfum di Perancis bekerjalah Paul Eymelin yang penciumannya paling sensitive di dunia. Dia mampu membedakan sebanyak 12 ribu macam bau – bauan, dan dapat mengetahui bau parfum yang paling eksklusif sekalipun. Ahli parfum Inggris mempunyai ketajaman yang luar biasa lagi. Dia dapat mengenal bau parfum wanita yang duduk tiga baris dibagian depan pada pertunjukan konser. Seorang ahli parfum lainnya juga mampu menduga makanan utama apa yang terdapat dalam menu di suatu restoran, ketika dia membuka pintu restoran.

Para ahli Universitas Milan mengatakan, bahwa “rasa” bau diakibatkan adanya molekul yang tak nampak mendarat pada rambut halus dalam hidung. Rambut itu kemudian mencengkram molekul tadi selanjutnya terjadilah proses bau.

Makanan yang baunya sama, akan mempunyai rasa yang sama pula. Hal ini dapat Anda buktikan: cobalah ambil seiris kentang dan seiris apel. Tutuplah mata dan hidung Anda, kemudian makanlah. Anda tak akan dapat membedakan mana yang kentang dan mana yang apel.

Baru – baru ini perusahaan internasional dalam hal pencampuran makanan, mencoba memproduksi kopi. Warnanya seperti kopi, rasanya juga seperti kopi, tetapi baunya tidak seperti kopi. Penelitian yang dilakukan terhadap seribu orang wanita, ternyata hampir secara serempak menolak produksi itu.

Dr. Gustav Morler dari departemen kesehatan Munich University berkata, “Itulah sebabnya, jika anda meminum secangkir teh dan mengharapkan mempunyai rasa kopi, akan terasa enak. Sebab anda mencicipi kopi sebelum benar – benar lidah anda merasakannya.”

Contoh lain misalnya penelitian yang dilakukan oleh perusahaan minuman yang memberikan minuman berwarna seperti “strawberry” kepada beberapa orang. Setelah mereka minum dan kepadanya ditanyakan, apa yang ia minum, tanpa ragu-ragu mereka menjawab: “strawberry”, padahal yang mereka minum adalah “lemon squash”.

Kita manusia memiliki serat-serat perasa yang lebih sedikit dari hampir semua binatang. Manusia mempunyai “serat perasa” sebanyak 10 ribu buah, sedangkan sapi mempunyai 25 ribu buah.

Daya rasa kupu–kupu dua ratus kali lebih tajam dari perasa kita, burung 450 kali dan ikan 500 kali, dan lebih mampu mengenal rasa sesuatu paling sedikit 20 kali lebih cepat dari yang dapat dilakukan oleh manusia, misalnya ada empat rasa yaitu manis, asin, asam, dan pahit. Kita dapat merasakan suatu bagian kinine pada dua juta bagian air. Kita hanya membutuhkan waktu rata rata 0,307 detik untuk membedakan rasa asin, 0,446 detik untuk merasakan rasa manis, 0,536 detik untuk asam dan 1,083 detik untuk merasakan pahit. Padahal perasaan kita tetang pahit adalah paling tajam dari makhluk-makhluk lainnya.

Menurut penyelidikan yang dilakukan oleh London Hospital School of psychology, kelezatan suatu makanan tergantung pada atau dipengaruhi oleh warna makanan itu.

Di suatu ruang perjamuan lampu penerangannya dibuat sedemikian rupa, sehingga makanan yang tersedia berubah warnanya: ungu untuk warna daging, sop menjadi hitam, dan warna kentang menjadi hijau. Akibatnya tak satu pun dari tamu-tamu yang diundang makan dapat menghabiskan makanan yang dijamukan. Beberapa orang hanya bisa makan dua sendok saja, padahal masakan yang disediakan itu adalah istimewa. Begitu penerangan dinormalkan kembali, selera makan para tamu segera bertambah melihat makanan itu.

Cobalah lebih banyak mendengar
Akhirnya kita akan mencoba mengetahui kekuatan kita dalam mendengar. Seorang bernama william dikatakan hampir mendekati jenius, karena ia dapat hapal nama, alamat dan susu yang dipesan oleh para langganan sebanyak tiga ribu orang tanpa melihat daftar langganan.

Sebenarnya William tidak mempunyai pendengaran yang luar biasa. Dia hanya menanyakan apa yang diinginkan para langganan dan mendengarkan baik-baik apa yang dikatakan para langganan itu. Dengan demikian, dia termasuk di antara 25 persen penduduk elite yang mampu mendengarkan apa yang sebenarnya dia dengar.

Kebanyakan kita kurang dari 50 persen dapat mengingat apa yang telah dikatakan orang lain sesudah 20 detik pembicaraan selesai. Sepuluh menit kemudian masih untung kalau kita mampu mengingat 30 persen dari percakapan yang kita dengar tadi. Ini berarti dari 18 juta perkataan yang kita dengar pertahun, 12 juta begitu masuk telinga kiri, begitu keluar telinga kanan. Hal ini bukan berarti kita tuli, melainkan karena kita telah banyak berbicara daripada mendengar.

Sebenarnya mendengarkan itu tidak semudah seperti dugaan kita. Kebanyakan kita beranggapan, bahwa mendengarkan itu adalah suatu kegiatan yang sangat pasif, padahal merupakan suatu proses yang keaktifannya tinggi.

Seorang psikolog mengatakan, “Paling sedikit empat puluh persen dari pertengkaran-pertengkaran yang terjadi, di rumah maupun di sekolah, ditimbulkan karena salah dengar.”

Kita terlalu banyak melihat daripada mendengarkan. Nama dan informasi-informasi yang penting sering dilupakan, karena kita terlalu terhimbau oleh tampang orang yang memberikan informasi itu. Sering kita merasa yakin tentang apa yang dikatakan oleh pembicara, sehingga kita mendengarkan sepintas saja. Pikiran kita berpacu sepuluh kali lebih cepat daripada apa yang dapat kita ucapkan. Pada saat kita sedang menanti kata yang akan diucapkan orang, otak kita telah berada bermil-mil jauhnya.

“Mendengarkan adalah suatu seni,” kata seorang konsultan Auren Uris. “Dan itu dapat digunakan untuk mempengaruhi seseorang, sama halnya seperti pembicaraan, jika kita gunakan dengan cara yang jitu.”

Sukses diplomatik Mr. Robertson waktu membicarakan masalah perdamaian dengan presiden Korea Selatan Syngman Rhee untuk mengakhiri peperangan dengan Korea Utara puluhan tahun yang lampau adalah “mendengarkan baik–baik apa yang dikatakan oleh Rhee dengan penuh perhatian.” Para anggota parlemen terkejut sewaktu Rhee bagaikan mendadak menjadi lunak dan menyatakan bersedia membicarakan perdamaian di Korea Utara. Dia sadar, bahwa dia sedang menghadapi orang yang luar biasa, yaitu orang yang bersedia mendengar!

Presiden Lyndon Jhonson di kantornya di Gedung Putih menggantungkan kata-kata begini: “Janganlah Anda belajar sesuatu ketika sedang bercakap-cakap!”

Kita perlu sejak dini lebih banyak mendengar. Cobalah! Anda akan lihat sendiri hasilnya.

***

Harusnya Gimana Mendidik Anak-Laki?

Di sebuah radio swasta di Bandung sering diperdengarkan kisah seorang doktor di bidang fisika yang sikapnya begitu bersahaja. Beliau tak hanya cerdas di bidang fisika namun juga sangat peduli dengan pekerjaan rumahan yang biasa dilakukan istrinya. Beliau bahkan pernah terlambat menghadiri sebuah rapat hanya karena ingin membantu istrinya mencuci baju.

Tulisan ini mungkin sekedar refleksi dari saya pribadi terhadap pengalaman berinteraksi dan melihat fakta, bahwa kebanyakan laki-laki dewasa ternyata kurang peduli dengan masalah-masalah domestik (rumah). Pekerjaan itu sepertinya dilimpahkan secara konvensional kepada kaum hawa, padahal saya sendiri merasa bahwa hal itu tidak proporsional dan sesungguhnya kurang baik untuk sebuah sinergi antar jender, terutama bagi pasangan yang sudah menikah.

Bukankah ketika suami sakit, dijamin bahwa mereka akan dirawat dengan baik dan keperluan akan makanan dan minuman khas orang sakit juga siap di meja. Nah, ketika istri sakit, apa yang terjadi? Pasti suami kelabakan. Membuat bubur nggak bisa, membuat teh manis nggak bisa, membuat sayur bening apa lagi, dan bahkan mengompres pun tak biasa. Lucunya, layanan seperti itu sudah sering ia dapatkan; namun karena tak biasa dilakukannya, pengetahuan yang kelihatan remeh itu seolah begitu rumitnya.

Pendidikan masa kecil saya anggap sebagai penyebab paradigma pembagian kerja yang absolut itu terbentuk pada diri seseorang. Betul bahwa anak laki-laki dan anak perempuan memiliki ciri biologis yang khas yang membuat masing-masing memiliki tanggung jawab yang khas pula. Akan tetapi, dalam pikiran saya pembagian yang khas itu hanyalah berlaku pada wilayah-wilayah tertentu, dan tidak selebar seperti yang hari ini saya saksikan.

Mencuci piring, mencuci baju, menyapu, mengepel, memasak air, atau menyuapi anak, memandikan anak, membersihkan kamar mandi; menyeduh teh, susu, kopi, dan banyak pekerjaan domestik lainnya kini masih didominasi kaum ibu. Para ayah dan anak laki-laki, tinggal siap menerima ruangan yang rapi, baju yang bersih dan rapi, secangkir teh di meja, kamar mandi yang nyaman, makanan siap santap, dan segudang hal hasil pekerjaan para ibu, anak, atau adik perempuannya.

Pemilahan pekerjaan domestik secara absolut memang sudah lazim. Laki-laki dan bahkan perempuan sendiri seolah sudah menerimanya sebagai sebuah kodrat alam yang tak perlu ditolak. Kelelahan luar biasa akibat pekerjaan domestik yang tak pernah ada habisnya itu pasti adakalanya membuat kaum perempuan mengeluh atau akhirnya ‘terkapar’ tanpa kata-kata. Namun nyatanya semua harus terus begitu dan begitu, sehingga perempuan pun akhirnya menerima hal itu sebagai takdir. Namun sungguhkah memang begitu seharusnya? Continue reading “Harusnya Gimana Mendidik Anak-Laki?”

Bayi itu sudah bisa meniru, bahkan sejak hari pertama

Jika anda julurkan lidah ke arah bayi, bayi itu akan menjulurkan pula lidahnya kepada Anda. Bukalah mulut Anda, dan bayi pun akan membuka mulutnya.Sekilas kemampuan bayi seperti ini tampak biasa-biasa saja. Akan tetapi jika kita pikirkan sejenak, sebenarnya kemampuan ini sungguh menakjubkan.

Bukankah dalam rahim sama sekali tidak ada cermin? Jadi bayi belum pernah melihat wajahnya sendiri. Tapi bagaimana ia tahu, dimana lidahnya berada? Coba buktikan sendiri. Julurkan lidah Anda (jangan lupa lihat-lihat dulu sekeliling ya :).

Cara untuk mengetahui bahwa Anda berhasil melakukannya ialah melalui kinestesia, yaitu suatu perasaan internal yang mendeteksi tubuh kita sendiri. Dan subhanallah, sungguh menarik sekali, setiap bayi mampu melakukan hal itu! Sekalipun ia belum pernah melihat bentuk wajahnya! Continue reading “Bayi itu sudah bisa meniru, bahkan sejak hari pertama”

Hal-hal Remeh Yang Perlu Diperhatikan Saat Menggunakan Telpon

Beberapa tahun lalu, majalah Fortune pernah mengadakan survei pada perusahaan-perusahaan papan atas untuk menyusun peringkat sepuluh pemakai waktu paling boros. Hasilnya, telepon adalah nomor satu.

Telepon memang alat yang paling berguna bagi perusahaan tetapi juga dapat jadi penyebab perusahaan kehilangan pelanggan dan uang.

Menurut Nancy Friedman, lebih banyak perusahaan yang menderita kerugian bukan disebabkan oleh produksi yang buruk, melainkan karena pelayanan yang buruk.

Sebuah artikel di The Wall Street Journal mencatat hanya 30 persen telepon yang dilakukan perusahaan memang telah memenuhi persyaratan.

Karena itu, belajar menggunakan telepon secara efektif bagi semua ‘penerima’ telepon tentu saja jadi sesuatu yang penting bagi perusahaan. Sebab kontak pertama yang anda lakukan dengan seorang klien lebih sering melalui telepon.

Dengan demikian teknik anda bertelepon akan memberikan kesan pertama positif atau bisa juga negatif. Apalagi saat lawan bicara kita mendengar kita tanpa bantuan komunikasi non-verbal. Maka mau tidak mau kita harus trampil menyatakan diri secara verbal melalui pilihan kata-kata, nada suara, dan ekspresi vokal. Berlatihlah bicara dengan jelas dan penuh gairah/antusias.

Berikut ini beberapa point penting yang perlu kita latih berkali-kali hingga jadi kebiasaan.

Tulislah garis besar masalah yang akan anda bicarakan. Hematkanlah waktu resepsionis dengan mengatakan kepadanya identitas dan maksud anda pada awal pembicaraan. Jika orang yang ditelepon sedang tidak di tempat, tinggalkan berita/pesan yang memberitahukan keperluan anda. “Maukah anda menyampaikan kepada Bapak Daniel agar menelepon saya pada nomor 555-3219? Saya ingin membicarakan sebuah produksi yang mungkin menarik perhatiannya”. Menyebutkan identifikasi anda pada awalnya bukan berarti bahwa hal itu hanya sekedar sesuatu yang patut dilakukan, melainkan juga agar orang lain tahu bahwa anda adalah orang yang terhormat dan punya nilai.

Resepsionis atau sekretaris biasanya diwajibkan menanyakan sifat dari panggilan telepon anda.
Jika anda tidak merasa ada hal-hal khusus yang perlu dirahasiakan, sampaikanlah kepadanya. Percayailah dan yakinlah bahwa seorang Sekretaris Eksekutif adalah seorang yang cakap menyampaikan informasi dasar anda kepada boss-nya. Tetapi tahanlah hal-hal yang rinci sampai anda dapat berbicara langsung dengannya. Ia adalah mata-rantai komunikasi anda dengan boss-nya. Maka jadikanlah sekretaris itu sebagai teman anda yang terbaik. Tentu saja, bersikaplah sopan padanya sepanjang waktu.

Ingatlah bahwa cara anda menjawab telepon merupakan hal yang sungguh-sungguh penting.
Dia adalah jiwa dan wakil perusahaan. Di dalam pikiran si penelepon, anda adalah perusahaan itu sendiri. Karena itu ada baiknya berlaku seperti hendak melayani penelepon tersebut. Daripada bertanya: “Siapa yang menelepon ini dan ada keperluan apa?”, sebaiknya anda menawarkan bantuan dengan berkata: “Apa yang bisa saya bantu?”

Hargailah selalu setiap berita
Jangan sekali-kali percaya bahwa si penelepon akan menelepon lagi. Usahakan informasi dari penelepon diterima dengan sebaik-baiknya dan tak perlu ditunda. Begitu juga jika anda ingin memberikan informasi sampaikan saat itu juga. Jangan terlalu berharap ia akan menelepon lagi nantinya.

Jika karena suatu hal, penelepon terpaksa menunggu
Sebaiknya sebelum anda mempersilahkan penelepon menunggu, katakanlah sebab-sebabnya mengapa dia terpaksa harus menunggu. Sebab-menunggu itu betul-betul sesuatu yang sangat mengggelisahkan. “Maaf Pak, saya terpaksa mempersilahkan anda untuk menunggu sebentar sementara saya akan mencoba untuk mencari Ibu Hani”. Setelah itu, mintalah ijin dari dia agar dia mau menunggu. Katakanlah, “Apakah anda dapat memberikan nomor telepon anda yang mana saya nanti pasti akan menyampaikan kepada Bu Hani?”

Bila saat anda berhubungan telepon dan mendadak muncul interupsi dari seseorang yang ingin berbicara
Anda boleh saja meminta pada lawan bicara telepon anda untuk menunggu, apabila interupsi tersebut dilaksanakan dengan sopan.

Jika suatu waktu anda menerima keluhan yang disampaikan seseorang via telepon, maka persilahkan saja penelepon tersebut berbicara tanpa perlu diinterupsi. Dengarkanlah baik-baik dengan penuh perhatian. Bersikaplah simpatik. Lalu segera hubungkanlah penelepon itu dengan bagian perusahaan yang akan dapat menangani masalah yang ia sampaikan secara lebih baik dan cepat. Jangan sekali-kali bersikap kasar. Bukankah penelepon tersebut tidak “menghantam” anda secara pribadi? Dia merasa membutuhkan perhatian anda atas masalah yang dia hadapi. Buatlah catatan tentang pembicaraannya sehingga anda akan dapat mengetahui dengan jelas sebab-sebab dari keluhan yang disampaikan. Dan jangan sekali-kali mengatakan sesuatu yang anda tidak dapat berbuat. Sebaliknya katakanlah tentang segala sesuatu yang anda dapat perbuat. Misalnya, “Saya dapat mengerti mengapa anda menelepon. Sayangnya orang yang berwenang menangani masalah ini sedang tidak berada di tempat saat ini. Apakah boleh saya mencatat nomor telepon anda? Saya akan perhatikan dengan baik agar dia menelepon anda kembali hari ini dengan segala informasi yang anda butuhkan” atau, “pasti anda akan dapat menerima pengiriman barang itu secepat mungkin. Tetapi apakah boleh saya hubungkan anda langsung dengan bagian pengiriman? Saya merasa pasti dia akan dapat membantu anda”.

Jika anda berbicara telepon dengan seseorang yang memiliki kebiasaan berbicara panjang
Anda boleh saja berkata, “Maaf, saya sudah punya janji bertemu seseorang sebentar lagi. Apakah kita dapat melanjutkan pembicaraan ini pada waktu yang lain?”

Janganlah sekali-kali menelepon ke rumah seseorang untuk suatu urusan bisnis, kecuali bila dia menyatakan dan meminta agar anda menelepon ke rumahnya. Waktu berada di rumah bagi seseorang merupakan sesuatu yang bersifat pribadi dan bukan untuk urusan  pekerjaan.

Harap disadari bahwa hanya sedikit orang yang dilahirkan dengan suara emas, menakjubkan, dan bergema.
Rekamlah sebuah percakapan anda dan dengarkanlah bagaimana suara anda itu. Mungkin anda perlu merendahkan nada suara anda, berbicara lebih perlahan; atau berbicara lebih jelas. Analisalah suara anda dan perbaikilah dengan latihan.

Sewaktu anda berbicara dengan seseorang melalui telepon, taruhlah selalu kertas catatan untuk mendokumentasikan percakapan itu.
Jika anda perlu mengingatnya dengan persis apa yang anda bicarakan, anda dengan mudah dapat menunjuk rincian percakapan yang dahulu.

Efek-efek dosa: Mengapa saya tak mampu melihatnya?

Seandainya saya bisa melihat langsung efek dari sebuah perbuatan dosa, tentu saya akan berusaha menghindarinya. Seperti layaknya kita menghindari panasnya api, sebab kita tahu persis apa akibat yang bakal ditimbulkannya.

Saya tertarik dengan salah satu contoh dalam ayat 12 surat al-Hujurat, mengenai larangan Al-Qur’an untuk tidak melakukan ghibah, bergujing dan mencari-cari kesalahan orang lain. Pada bagian sambungan ayat itu dikatakan,  “Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (Q.S. al-Hujurat : 12)

Mengapa saya tidak bisa melihat efek dosa seperti yang dimaksud ayat itu? Mengapa ketika menggunjing orang lain, mata batin saya tak mampu melihat atau merasakan sedang memakan daging saudara saya yang telah mati?

Sejak lama saya juga tertarik dengan statement Al-Qur’an yang berbunyi, “Lau ta’lamuna ilmal yaqîn“, yang artinya kurang lebih niscaya kamu akan mampu menyaksikan neraka dan penduduknya itu dengan penglihatan batin.

Ya memang, kalaulah kita bisa memiliki pandangan mata seperti pandangan Nabi Ibrahim AS, “Wakazdalika nurî Ibrahima malakutassamâwâti wal ardhi” (al-An’am: 75), tentulah kita akan bisa menyaksikan orang-orang yang berada di neraka jahannam itu.

Mengapa saya tak mampu? Inilah masalahnya. Al-Qur’an sendiri sudah menjelaskan bahwa, “Sesungguhnya kamu berada dalam Keadaan lalai dari (hal) ini, Maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, Maka penglihatanmu pada hari itu Amat tajam.” (Q.S. al-Qaf : 22)

Ya, lantaran “mata batin” saya ini masih juga buta, dan pengetahuan yang seharusnya menyinari saya belum pula kuat menembus “hijab” … itulah penyebabnya. Kenapa? Saya yakin ini karena berbagai dosa masih terus saja saya lakukan. Tanpa saya sadari. Tanpa saya inginkan bahkan. Ini terjadi setiap hari!  Berulang! Astaghfirullahal ‘adziim ….!

Apa yang harus saya perbuat sekarang? Saya harus menerangi jiwa saya dengan pengetahuan yang satu ini. Ya, menurut saya ini adalah pengetahuan yang sangat penting. Pengetahuan tentang dosa-dosa. Dengan begitu saya akan belajar untuk berusaha menghindarinya. Saya mesti tahu apa saja yang dapat “membakar” tangan, mata, dan tubuh saya dari “api neraka”.

Saya baru saja tersadarkan, betapa selama ini, saya mungkin terlalu banyak mengabaikan dosa-dosa yang tidak kentara, dosa-dosa yang terlalu diremehkan. Khususnya dosa-dosa saya dengan orang lain, bahkan dengan anak-anak dan istri saya.

Betapa sering saya meninggalkan anak-anak saya justru ketika ia menginginkan kehadiran saya. Betapa mudah saya memberikan harapan dan janji, tetapi kadang tak ditepati. Betapa lancang saya mengambil hak-hak istri saya, walau ia tak menyatakan keberatannya. Begitu samar …!

Imam Ali bin Abi Thalib kw berkata, “Dosa paling keji adalah dosa yang diremehkan oleh pelakunya.”

Do’akan saya ya 🙂

*** Penulis: Nilna

Kata-Kata Kita Adalah Mantera

Dalam bukunya “De grondsla-gen van Uw Succes”, WJ Brown menulis, “Kehidupan batin manusia ibarat gunung es: 1/3 bagian nongol ke permukaan laut, sedang 2/3 lainnya tak kelihatan, tersembunyi di bawah permukaan air”.

Manusia selalu berfikir. Ia senantiasa berusaha agar setiap hal yang ia lakukan diurus secara sadar, sepenuhnya. Namun tak semua kehendak mudah dicapai. Pada waktu-waktu tertentu, manusia sering dipengaruhi oleh sesuatu yang “gaib”, bawah sadar.

Misalnya? ketika kita sedang di marahi orang tua, ketika Kita tertarik pada seseorang. Tapi kita tak bisa menerangkan kenapa, hal apa yang menyebabkan timbulnya perasaan semacam itu. Atau suatu ketika, tiba-tiba muncul suatu perasaan tidak enak, gelisah, hingga jantung pun berdebar-debar. Kita tak mampu menjelaskan, kenapa demikian. Tahu-tahu beberapa saat, atau beberapa hari setelah itu, kejadian tak diinginkan betul-betul menimpa. Dari kondisi semacam itu terbukti, kekuatan bawah sadar dalam diri kita sedang bekerja. Continue reading “Kata-Kata Kita Adalah Mantera”