Happy or UnHappy is A Choice

Hidup, selalu berhadapan dengan masalah.
Berani hidup berarti harus berani pula menghadapi macam-macam masalah.

Seorang motivator ulung, Skipp Ross dalam salah satu seminarnya ‘Say Yes To Your Potential’ di Jakarta beberapa tahun lalu menekankan betapa kuatnya pengaruh pikiran terhadap seluruh ‘jiwa’ hidup kita. Termasuk hal-hal yang menyebabkan kita merasa bahagia, merasa sengsara, bakal sukses, ataupun bernasib gagal.

‘Semua itu hanya permainan pikiran kita saja’, katanya. Tergantung bagaimana cara kita ‘menyetel’ pikiran-pikiran kita. Gelombang apa yang kita kirimkan, gelombang apa yang kita terima, kita sendirilah ‘bos’-nya.

Untuk setiap situasi, hanya ada dua kemungkinan yang bakal terjadi. Ada situasi yang bisa kendalikan, ada pula situasi yang tidak bisa kendalikan. Umumnya kejadian-kejadian fisik yang menimpa kita memang tidak bisa kendalikan. Akan tetapi, banyak sekali situasi dimana pikiran kita sendiri bisa mengendalikannya terutama hal-hal yang sifatnya emosional. Misalnya menghadapi masalah, stress terhadap bisnis dan pekerjaan, senang atau menggerutu, puas atau tidak, rasa menerima atau menyesal, semua ini sebetulnya tergantung ‘penyetelan’ pikiran kita. Pilihannya ada di ‘kita’.

Skipp Ross mengatakan, ‘Happy or Unhappy is A Choise’. Merasa bahagia atau merasa sengsara, itu adalah pilihan bebas kita. Tapi yang pasti, adalah jauh lebih bijaksana jika kita (pikiran kita) memilih bahagia. Untuk setiap situasi, secara terus-menerus, setiap jam, setiap hari. Jadi ‘kita’lah yang menentukan. Kita-lah yang memilih.

Tatkala segala sesuatu tampak berjalan normal dan lancar-lancar saja kita pun merasa bahagia. Namun… ketika berdering telepon di rumah dan di ujung sana seorang debt collector (penagih hutang) bersikeras bahkan marah-marah pada kita karena kita terlambat membayar tagihan kartu kredit yang telah jatuh tempo, saat itu rasanya jengkeee…el sekali. Pengennya marah-marah, kesel, sakit hati, benci, bahkan sampai seharian terus begitu…! Tapi ingat, ‘happy on unhappy is a choise’. Merasa bahagia atau merasa sengsara, itu hanya sebuah pilihan. Adalah jauh lebih bijaksana, jika memilih bahagia! Saat itulah kita harus segera menyetel ‘pikiran’ kita dan segera kirimkan pesan-pesan positif ke dalamnya. Sehingga detik itu juga kita pun jadi merasa tetap bahagia. Biasa saja! Bukankah semua rasa itu cuma tergantung pilihan kita saja!

‘You are the key.
You are the solution…’
‘Andalah kuncinya, andalah solusinya’

Untuk setiap masalah yang kita hadapi, kegagalan-kegagalan yang kita hadapi, resiko yang kita terima, situasi buruk yang menimpa, apapun juga… itu bukan salah siapa-siapa. Bukan salah pegawai anda, ketika apa yang anda delegasikan tidak berhasil ia capai, bukan salah istri anda ketika akhirnya ia serong dengan orang lain, bukan salah kawan-bisnis anda tatkala ia selalu lebih jaya. Andalah yang harus bertanggung-jawab terhadap apapun yang menimpa anda.

‘You are the problem, you are the solution’

Tanamkan rasa dan kesadaran paripurna ‘I am Responsible’. Ucapkan berkali-kali sehingga secara perlahan masuk ke dalam kesadaran kognitif kita. Katakan dengan keras pada hati kita, ‘Sayalah yang bertanggung jawab. Sayalah yang salah. Sayalah yang harus memperbaikinya. Hanya saya yang bisa mengatasinya. Sayalah kuncinya!’

Ada hal yang bisa anda kontrol, ada hal yang tidak bisa anda kontrol. Tapi anda pasti bisa mengontrol pikiran anda. Anda pasti bisa mengontrol perasaan anda. Anda pasti bisa mengontrol sikap anda. Ini hanya soal pilihan saja!

Apa Isi Pikiran Anda?
Kebanyakan dari apa yang kita alami secra emosonal merupakan dampak yang ada pada pikiran kita. Berat ringannya stres yang kita derita sangat dipengaruhi cara kita berpikir. Sedangkan cara kita berpikir merupakan akibat langsung dari apa yang kita simpan di dalam otak kita.

Bagi seorang ahli komputer, output yang anda terima dari komputer tergantung dari input yang dimasukan ke dalamnya. Hal yang sama juga terjadi pada otak kita. Output kita -yakni apa yang kita ucapkan, apa yang kita pikirkan dan apa yang kita kerjakan- merupakan akibat langsung dari input kita (yakni apa yang kita baca, apa yang kita lihat, dan apa yang kita dengar). Pada dasarnya kitalah yang memilih input-input itu.

Adapun pilihannya ada dua macam: sesuatu yang akan menambah statis, atau yang akan menambah stabil kehidupan kita.

Kita banyak mengenal orang-orang yang selalu diliputi rasa takut dan cemas. Mereka takut kepada orang lain. Mereka juga tidak berani berjalan di lingkungan rumah mereka sendiri setelah hari gelap. Mereka memasang jeruji pada jendela mereka dan memasang kunci tambahan di pintu mereka. Padahal kebanyakan dari mereka belum pernah mengalami masalah yang menjadikan mereka trauma pada orang lain. Mereka belum apa-apa sudah merasa takut akibat terlalu sering melihat hal-hal yang negatif di televisi. Akibatnya mereka hidup dengan stress yang berkepanjangan.

Kita harus sadar bahwa otak kita selalu dalam proses memprogram. Kita sendirilah yang memilih apa-apa yang akan dimasukan ke dalam otak kita. Karena itu, jauhkan hal-hal negatif yang akan mengisi ruang ‘pikiran’ kita. Senantiasa masukkan hal-hal yang positif. Misalnya pilih lingkungan sosial/pergaulan yang positif yang terdiri dari orang orang positif. Kurangi berada dalam lingkungan sosial negatif, yang cenderung mengeluh, yang cenderung pessimis, yang cenderung suka membicarakan kegagalan-kegagalan.

Selain itu perbanyak belajar dan bergaul dengan orang-orang sukses, baik dari kisah-kisahnya di buku positif, maupun dalam pertemuan-pertemuan seminar yang senantiasa bersuasana positif dan penuh semangat. Miliki sikap mau terus belajar dan mau terus diajar (teacheable). Jangan berpikir kita sudah matang (sebab itu berarti tinggal busuknya saja). Berusahalah terus bersikap ‘hijau’, mau berkembang. Rendahkan hati untuk siap mendengarkan ucapan-ucapan positif orang lain. Jangan dulu berprasangka buruk terhadap segala sesuatu. Jangan dulu menggunakan asumsi negatif sebelum melihat fakta yang sebenarnya. Belajarlah untuk punya sikap 24 jam senantiasa positif, optimis dan selalu punya harapan positif. Selalulah berharap positif. Itu akan membuat hidup kita selalu bahagia! (Nilnaiqbal)

4 thoughts on “Happy or UnHappy is A Choice”

  1. Bener juga ya, masalahnya adalah banyak orang tdk sadar bahwa dia sedang dalam proses menginput hal-hal yang akan memberikan output yang tdk bagus, misal ada orang yang suka nonton acara berita kriminal di tv dia tdk sadar bahwa dia sedang menginput hal yang akan memberikan output tindakan kekerasan..mudah-mudahan saya lebih sadar dalam inputting ini.
    —————
    Pintu-pintu bawah sadar kita selama ini memang nggak pernah kita “urus”. Kita biarkan ia dimasuki oleh “input-input asing” yang tidak kita inginkan sebetulnya. Jadilah kita produk dari “kebodohan” kita sendiri. Gimana menurut anda?

Leave a Reply to Guick Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *