Sekolah lagi, Yuk!

Sudah 18 tahun saya tidak lagi “belajar” dalam arti belajar secara serius atau menimba ilmu secara mendalam. Saya yakin pasti banyak juga teman-teman lain yang setelah selesai kuliah, lalu bekerja atau berbisnis, sudah “tersedot” waktu dan energinya, dan tak pernah lagi “belajar”. Alasan apapun yang dikemukakan saya percaya, itu benar. Saya juga selalu saja bisa menemukan alasan-alasan yang “membenarkan” sikap itu.

Pertanyaan yang paling penting memang, “Buat apa sekolah lagi? Bukankah sudah cukup kita belajar dari buku-buku yang kini tersebar dimana-mana? Apapun bidang yang ingin kita pelajari, ada bukunya. Lagi pula belajar dalam bidang profesi atau usaha yang sedang digeluti toh masih tetap dilakukan, baik lewat seminar-seminar atau belajar sendiri.”

Oke lah itu memang sudah kita lakukan. Tapi, yang saya maksud justru belajar dalam arti yang lebih terstruktur, mendalam, melepaskan dahaga kita akan ilmu. Seperti dulu kita sekolah atau kuliah sampai bertahun-tahun lamanya.

Bedanya, dulu saya kuliah kurang termotivasi. Saya lebih peduli dengan nilai dan target-target prestasi lainnya. Karena itu saya lebih banyak belajar cara SKS aja. Sistem Kebut Semalam. Besok mau ujian, sekarang sampai subuh baru belajar mati-matian.

Akibatnya tak banyak “ilmu” yang saya peroleh, kecuali hanya kulit-kulitnya aja. Tapi saya juga tidak peduli. Bahkan mungkin sebagian besar pelajaran yang saya peroleh dulu waktu sekolah atau kuliah, sekarang sudah hilang semua.

Tetapi akhir-akhir ini, saya sering sekali gelisah. Ada “jeritan batin” yang senantiasa mengganggu. Ketika mencoba merenungkan kembali makna-makna hidup yang dijalani, rasanya banyak sekali waktu yang terbuang percuma. Setiap hari, kita sibuk terus dengan urusan-urusan sesuap nasi pengisi perut.

Padahal tubuh kita ini ‘kan ada tiga: perut, otak, dan hati. Tiga-tiganya juga perlu “makan”. Makanan perut, oke lah itu sudah kita lakukan setiap hari. Tetapi makanan otak, apa? Makanan hati, apa? Apakah kelaparan dan kehausan otak dan hati kita ini tidak pernah kita “peduli”?

Dalam kesendirian, kadang saya iri dengan teman-teman yang kuliah lagi, ngambil S2, lalu S3, dan masih terus rajin melakukan penelitian-penelitian. Kalau sudah ingat itu, pengen sekali rasanya saya kuliah juga. Tetapi …. nah itulah, selalu saja ada alasan rasionalisasi ya 🙁

Untunglah saya sejak kecil sudah senang membaca buku. Jadi kadang saya menyelesaikan persoalan “dahaga intelektualitas” ini dengan membaca buku. Akan tetapi tetap saja, solusi ini belum menyelesaikan akar masalahnya. Buku yang saya baca, banyak yang tidak bisa menjawab persoalan-persoalan lanjutan berikutnya. Atau bahkan saya harus membaca banyak sekali buku (yang tentu saja lumayan menyita waktu) agar saya bisa puas dengan topik tertentu sampai mendalam.

Ah, kayaknya saya memang perlu kuliah terstruktur lagi. Saya perlu sekolah lagi. Tapi sayangnya saya tak menemukan sekolah yang “sesuai” dengan yang saya cari.

Saya ingin ada sekolah yang benar-benar memuaskan dahaga saya sampai ke titik yang paling dalam. Bisa jadi untuk satu topik saja, kita belajar sampai bertahun-tahu, bahkan sampai ajal datang. Di sekolah ini tidak ada ujian, tidak perlu ada absensi, tidak perlu ada ijazah, tidak perlu atribut-atribut akademis apapun. Seseorang yang belajar disini, bebas menentukan “topik” yang ingin ia kuasai, dan memilih “guru” yang ia sukai. Tidak ada istilah lulus. Setiap orang bebas belajar sedalam yang bisa ia kejar, sepanjang masih ada guru yang mampu melayaninya.

Beberapa tahun lalu, saya sempat “kuliah filsafat” pada salah seorang “guru” di Bandung. Setiap Senin malam, kurang lebih sekitar 3 sampai 4 jam saya datang ke rumahnya menimba ilmu beliau. Ada 5 – 9 orang kawan yang ikut belajar bersama saya. Lumayan mengasyikkan!

Sayangnya, setelah 1,5 tahun kami belajar, beliau harus hijrah ke Jakarta, justru pada saat topik yang sedang kami pelajari sangat-sangat menarik perhatian kami. Walau sudah lebih 18 bulan kami “kuliah” tentang satu topik yang spesifik, justru “ilmu” yang masih harus kami pelajari tampak semakin banyak yang “tersisa”.

Sejak kehilangan guru itu, saya coba melanjutkan pelajaran lewat buku-buku yang sempat saya beli. Tetapi sungguh saya tidak bisa memahaminya. Akhirnya “kuliah” saya pun berhenti.

Kini, rasanya saya “tak kuasa” lagi. Saya bermaksud mengajak beberapa kawan untuk membuat sekolah khusus orang dewasa seperti itu. Sekolah yang mampu memberikan “cahaya ilmu” ke dalam sanubari.

Sekolah ini tidak perlu tempat yang mahal. Tempat belajar pun bisa di rumah sang guru, atau di rumah salah seorang peserta, atau mungkin di ruang pertemuan kantor salah seorang sahabat lainnya. Karena itu, saya hanya akan menerima “murid” yang memang “punya motivasi tinggi sekali”, yang memang pengen menuntut ilmu. Mereka bisa memilih topik yang ingin mereka pelajari. Sekolah akan membantu mereka untuk belajar di “kelas” yang tersedia. Sekolah hanya memfasilitasi.

Jadi bisa saja, seseorang hanya mau belajar satu bidang/topik saja. Sementara yang lainnya, mungkin 2 atau 4 topik. Pelaksanaannya, menggunakan waktu-waktu libur atau malam hari. Senin mungkin belajar fiqih di rumah A, Rabu mungkin belajar filsafat di rumah B, dst.

Bagaimana dengan gurunya? Entah bagaimana, saya punya keyakinan, masih banyak ulama-ulama besar, ilmuwan dan professor-professor di negeri ini, khususnya di Bandung, yang semangat “mensedeqahkan” dan “mewariskan” ilmu nya kepada murid-murid yang “cinta ilmu”. Dalam suatu kesempatan saya pernah mengikuti “kuliah singkat” seorang guru besar ITB yang dengan senang hati dan suka rela meneteskan ilmunya kepada saya dalam suatu kelompok kecil, secara rutin seminggu sekali. Sayangnya, kelompok belajar kami yang “mengerucut” dan hilang. Akan tetapi satu hal yang saya simpulkan, beliau yang benar-benar seorang “guru sejati” pasti juga akan mencari “murid sejati”. Saya yakin, ini juga menjadi sebuah kebutuhan riil seorang “guru”.

Apa saja yang ingin saya pelajari? Terus terang, saya ingin sekali mendalami beberapa topik yang menarik buat saya, diantaranya:
– filsafat
– sejarah
– tafsir
– fiqih
– sosiologi
– psikologi

Paling tidak, gerakan sekolah ini kami buat untuk kebutuhan khusus kami. Memang saya hanya batasi 10 sampai 15 orang dulu, yang memang benar-benar serius dan mau belajar, khususnya yang tinggal di kota Bandung. Sebagai langkah awal, saya hanya akan mengajak kawan-kawan yang saya kenal dulu yang saya tahu persis mereka pun “gelisah” seperti saya.

Sementara, buat teman-teman lainnya, kalau memang tertarik, cobalah buat sendiri juga. Saya yakin, mudah sekali. Yang penting ada yang mau dan serius untuk konsisten! InsyaAllah akan sangat besar sekali manfaatnya.

Saya membayangkan, kalaulah sekolah seperti ini tumbuh berjamuran di setiap pelosok negeri … waw … akan dahsyat sekali.

Seperti apapun modelnya, tidak penting.
Intinya, “mari kita sekolah lagi!”

4 thoughts on “Sekolah lagi, Yuk!”

  1. terima kasih untuk pemcerahan mas nilna, tiada kata terlambat dalam menimba ilmu, !
    tetapi untuk bersekolah lagi, saya kembali merenung ! apakah saya bisa membagi waktu untuk melaksanakan rutinitas “sekolah” ?
    sungguh sangat sulit untuk mencari sekolah yang “sesuai”
    ————————
    Memang tidak mudah, Mas. Tapi minimal sekali, mari kita pupuk terus sikap “teacheable” (mau belajar dan mau diajar). Ya kan Mas?

  2. iya mas.. yang namanya dahaga akan ilmu tidak akan terobati dengan banyak baca buku. tetep aja ada nuansa yang hilang kalo kita sekedar belajar lewat buku. nuansa itu baru kita dapatkan kalo kita belajar dari guru
    sayang mas Iqbal ada di bandung.. kalo di jakarta saya mo ikut belajar dan jadi murid lagi 🙂
    salam
    ———————-
    Bikin juga di Jakarta dengan teman-teman nya Mas 🙂

  3. Saya ikutan juga dunk kalo ada yang di Jakarta!
    —————
    Wah kayaknya bisa di “agenda” kan saja dengan teman kita F. Wiyanto tuh 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *