Apakah anda sudah jadi “manusia baru”?
Dalam menghadapi iklim perubahan besar sekarang ini, perusahaan memerlukan manusia-manusia baru. Yaitu manusia yang punya sikap mental (attitude) baru dan cara berpikir (mindset) baru. Sejarah menunjukkan bahwa hampir setiap terobosan yang terjadi di seluruh dunia selalu dimulai dengan menghentikan cara-cara lama, paradigma lama, sikap lama … berubah menuju paradigma baru, sikap baru. Perubahan pada cara melihat, cara mempersepsi, dan cara berpikir atas segala persoalan perusahaan.
Perubahan ini terjadi jika ada perubahan pada asumsi-asumsi dasar ataupun keyakinan, perubahan pada nilai-nilai. Inilah yang disebut dengan perubahan budaya. Sehingga dengan budaya baru ini, lahirlah perilaku-perilaku baru, kebiasaan-kebiasaan baru, karya dan inovasi baru. Lalu paa akhirnya melahirkan tata kelola perusahaan yang baru yang kian selaras dengan lingkungan bisnis yang makin kompetitif.
Salah satu perubahan penting agar budaya perusahaan betul-betul terinternalisasi menjadi perilaku dan kebiasaan baru, memang harus bermula dari perubahan sikap. Sikap jauh lebih penting dari fakta. Juga jauh lebih penting dari pada masa lalu, dari pada pendidikan, daripada uang, daripada keadaan, daripada kegagalan, daripada sukses, daripada yang dipikirkan, atau yang dikatakan atau dilakukan oleh orang lain. Sikap juga jauh lebih penting dari penampilan, bakat, atau keahlian. Sikap-lah yang akan membesarkan atau bahkan menghancurkan perusahaan. Chuck Swindoll, dalam Improving your serve, mengatakan bahwa, “kehidupan ini adalah 10 persen apa yang terjadi terhadap diri kita, sedangkan 90 persen adalah bagaimana kita bereaksi terhadapnya.” Sikap kitalah yang menentukannya. Kita pula yang memilihnya.
Sikap pula yang membedakan seseorang yang punya excellence performance dengan bad performance. Sikap itulah yang sadar atau tidak membentuk cara ia bekerja dan sekaligus membentuk kebiasaan-kebiasaannya dalam perusahaan, selain juga ditentukan oleh budaya dan kebiasaan kelompok tempat dimana ia berada. Semua akan tercermin dalam perilaku pekerjaan dan hasil pekerjaannya.
Tapi betapapun juga, setiap orang pasti bisa mengubah sikapnya menjadi lebih baik, asalkan ia mau berubah. Sikap itu hanya sebuah pilihan. Kita lah yang memilihnya. Karena itu dengan terus berlatih, dan terus memelihara sikap mau belajar dan mau diajar, insyaallah kita bisa menjadi lebih baik. Janganlah menjadi seperti apa yang disinyalir Allah dalam QS. Al-Baqarah : 6, “…. sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tetap saja tidak percaya.”
Kita juga harus memahami bahwa perusahaan sangat berkepentingan menginternalisasikan budaya perusahaan melalui penguatan nilai-nilai yang telah dirumuskan. Nilai-nilai itu bukan untuk kita hafal luar kepala,melainkan agar menjadi bagian internal dari sikap kita, yang kemudian terproyeksi dalam tindak perilaku dan kebiasaan kita. Jika dalam pikiran kita selalu “hidup” nilai “mementingkan pelanggan” misalnya, maka pastilah akan muncul sikap-sikap yang selalu tanggap akan kebutuhan yang diinginkan pelanggan, baik yang mereka nyatakan, ataupun bahkan yang tidak mereka ungkapkan. Kita akan berusaha menafsirkan dan akan terus menggali, karena kita begitu peduli dengan harapan-harapan pelanggan dan senantiasa menempatkan diri sebagai solusi atas masalah yang pelanggan hadapi.
Begitu pula jika kata-kata service excellent betul-betul telah menjiwai pikiran kita, secara otomatis akan muncul tabiat dan perilaku senang melayani dan memuaskan pelanggan, bahkan melebihi harapan normal mereka.
Tinggal sekarang mau nggak kita melatih diri setiap hari “mengamalkan” nilai-nilai yang kita budayakan itu. Awalnya memang perlu secara sadar kita lakukan. Lalu kalau perilaku-perilaku itu terus kita latih, setiap hari, secara sengaja, kadang berhasil kadang gagal namun terus melakukannya, maka lama-lama perilaku sadar itu akhirnya berubah menjadi kebiasaan-kebiasaan otomatis kita, menjadi budaya kita. Inilah harapan kita. InsyaAllah hasilnya akan luar biasa.






















Comments (2 comments)
Sudah lama saya ingin mengajak kawan-kawan saya menerapkan ilmu dari Bpk ini, dengan menciptakan Budaya Perusahaan yg dapat mengarahkan semangat serta produktifitas yang sejalan dgn visi dan misi perusahaan.
Pertama saya coba merumuskan nilai-nilai positif yg sesuai dgn idealisme perusahaan, kemudian kami kristalkan menjadi semboyan, moto atau tag-line yang setiap kali terbaca oleh kawan-kawan sekerja saya.
Pada proses internalisasi ini, ternyata benar kata Bpk, dibutuhkan “SIKAP”
yang konsisten yg tentunya didukung keseragaman sistem nilai yang kuat.
Dikarenakan pengaruh reformasi yang terlanjur bablas, mengobrak-abrik segmentasi sosial kawan-kawan kami, sehingga sistem nilai yang kami anut tidak lagi kokoh untuk menjadi sandaran “SIKAP” kami diatas.
Sekarang bagaimana cara menyatukan kembali sistem nilai yang telah semburat berkeping-keping ini, selain lewat jalur agama yang sensi.
—————–
“Wah sayang sekali ya Pak. Tantangan zaman sekarang memang luar biasa pak. Menurut saya kepemimpinan yang kuat yang komit untuk kembali membangun yang juga sekaligus mampu menjadi teladan …. mungkin bisa jadi salah satu jalan”. Wallahu a’lam.
wiro permono / September 27th, 2007, 2:25 am
MAS NILNA YANG MULIA, A BASIC THING ON CHANGE..GOOD, FRIEND!
‘Semakin besar kita berkorban, semakin besar perubahan yang kita berikan. Sikap hanya salah satunya.’ harry ‘uncommon’ purnama
UNCOMMON LEADERSHIP INDONESIA
021.715.87887
————–
Betul sekali pak Harry. “Memasukkan rasa bahagia kepada banyak orang” mungkin merupakan salah satu jalan ya pak.
harryuncommon / September 27th, 2007, 3:51 pm
Bagaimana Menurut Pendapat Anda?