Jin Ifrid Dalam Lampu Aladin Anda

Kalau Aladin membutuhkan sesuatu dia tinggal menggosok-gosok lampu wasiatnya. Lalu keluarlah Jin Ifrid yang siap diperintah tuannya, apapun juga.

Dalam diri kita ada satu sosok yang luar biasa hebatnya, yang bisa mewujudkan apa saja yang kita inginkan. Benar-benar ibarat jin ifrid yang ada di kisah Lampu Wasiat Aladin. Kalau kita “pandai” memanggil “jin” ini, kita bisa menyuruhnya melakukan apa saja yang kita mau. Bahkan termasuk hal-hal yang luar biasa, yang mustahil kita bisa.

Sosok luar biasa ini ada dalam diri kita. Dia menjaga kita sejak bayi sampai hari ini. Dia tak pernah tidur, selalu bekerja 24 jam non-stop. Dia bahkan menjaga kita saat kita sedang tidur. Dia belajar apapun yang kita ajarkan kepadanya, walau mungkin kita  tak pernah merasa mengajarnya. Setiap kita mempelajari sesuatu, rekamannya ia simpan utuh, detil dan mudah dipanggil kembali oleh otak kita.

Sayangnya sosok hebat ini tak bisa berfikir. Benar-benar mirip Jin. Apalagi berfikir kritis. Ia hanya bisa menelan 100% apapun yang kita katakan padanya. Programnya sangat automatis. Namun sosok ini sangat patuh atas apapun perintah yang diberikan. Ia bisa melakukannya bahkan saat kita tidur, atau saat kita tak butuh lagi.

Sosok hebat itu adalah “otak bawah sadar” kita. Saya sebenarnya kurang merasa tepat dengan istilah otak bawah sadar itu, namun memang terminologi yang tepat masih belum bisa ditemukan. Saya lebih merasakan bahwa sosok hebat itu adalah sebenarnya jati-diri-murni kita. Dia lah yang menyimpan seluruh data rekaman diri kita, sejak usia hari pertama kita lahir, sampai detik ini. Semua rekaman itu ada padanya. Pada diri kita.

Jadi bukan pada “otak fisik” kita. Sebab “otak fisik” kita ini, akan kembali jadi tanah saat kita meninggalkan dunia ini. Dimana ilmu yang kita miliki selama ini? Dimana rekaman amal yang kita perbuat selama ini? Apa yang kita bawa di alam akhir nanti?

Saya percaya, bahwa manusia bukanlah makhluk biologis semata, dengan jaringan materi fisik yang bisa kita lihat, kita bedah, atau kita isi dengan berbagai makanan.  Selain tubuh-materi ini, kita juga memiliki tubuh-non-materi. Kita sebut saja tubuh-ruhani.

Nah pada dasarnya tubuh-ruhani inilah diri kita yang sejati, yang nantinya “pulang” kembali kepada sang pemilik, Allah SWT. Tubuh ruhani inilah yang menyimpan semua data ilmu amal dan sikap kita, untuk kemudian kita pertanggungjawabkan di yaumil akhir nanti.

Tubuh ruhani inilah mungkin, menurut saya, apa yang disebut-sebut para ahli sebagai alam bawah sadar itu. Saya kira disebut demikian, karena para ahli belum bisa memecahkan kode rahasianya, hingga istilah itu memang lebih pas. Tubuh ruhani ini, tersusun tentu saja bukan dari unsur-unsur “dunia”, melainkan dari unsur-unsur “ukhrawi”, materi-materi yang bersifat ukhrawi, yang tentu saja kita tak kan bisa melihatnya.

Nah kembali ke otak bawah sadar tadi, sesungguhnya ini merupakan salah satu “alat” yang dimiliki oleh tubuh-ruhani (yaitu diri kita) untuk mengelola hidup kita. Dia  akan berhubungan dengan bagian diri kita lainnya, yaitu otak sadar kita, dan mungkin  dengan fungsi-fungsi tubuh lainnya.

Otak sadar, secara fisik dia memang ada di kepala kita sebagai “rumahnya”, namun secara “hakiki” dia juga ada di tubuh-ruhani kita. Otak ini sangat kritis, cerdas, cenderung memberi penilaian dan verifikasi, namun dialah “sang komandan”  yang bertugas memberi “perintah” kepada bawah sadar untuk melakukan sesuatu.  Secara simbolis, otak sadar ini adalah “aladin” nya sedangkan “otak bawah sadar” adalah Jin Ifrid-nya.

Otak sadar yang sangat kritis sering memberi penilaian negatif terhadap kemampuan diri kita, bahkan terhadap kemampuan bawah sadar kita. Otak sadar kita hanya memberi perintah-perintah yang “masuk akal” saja, yang logis, ada data historis sebelumnya. Jika kita selama ini sering gagal, maka perintah yang diberikan otak sadar kita adalah perintah-perintah defensif.

Karena bawah sadar tak bisa berfikir,  maka ia selalu membutuhkan “perintah”. Ia selalu berada dalam keadaan terprogram untuk “diperintah melakukan sesuatu”. Jika otak sadar tak memberikan perintah yang jelas, karena kekhawatiran yang tinggi misalnya, maka bawah sadar akan menganggap perintah itu adalah input-input dominan yang masuk ke dalam database-nya. Bila input kekhawatiran itu yang dominan, maka bawah sadar menganggap”apa yang dikhawatirkan itulah” perintah yang harus ia jalankan. Sebab itu akan terjadilah apa yang dikhawatirkan tsb. Persis bahkan.

Bila kita sering mengatakan secara berulang “nasibku buruk sekali”, maka jin ifrid (bawah sadar) itu akan menganggap kata-kata itulah perintah yang harus ia lakukan. Maka terjadilah seperti yang kita nubuatkan itu.

Sebab itu kita perlu berlatih terus mengendalikan diri kita, jiwa kita, tubuh ruhani kita. Berlatih untuk terus bersikap selalu berharap atas kemurahan Allah SWT, berlatih menahan (shaum) diri kita dari sikap-sikap yang tak terpuji, dlsb. Latihan-latihan itu akan sekaligus mengisi database bawah sadar kita dengan input-input baru, perintah-perintah baru, sehingga jadilah kita menjadi manusia baru.

Dengan berlatih menahan diri dan mengendalikan diri (shaum) misalnya dengan cara puasa, insyaAllah kita mampu menjadi manusia yang fitri, manusia yang kembali pada fitrah, suci. Sehingga jiwa, diri kita, tubuh ruhani kita digelari Allah SWT, sebagai hamba-hambanya yang bertaqwa. InsyaAllah.

Semoga kita menjadi bagian dari rombongan kafilah manusia  taqwa ini ya. Amin 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *