PUSTAKA NILNA 

Belajar internet marketing
Loading....
Recent Article links:

Category 'Keluarga'

Apa anak 6 tahun bisa diajar menulis?

oleh  Nilnaiqbal

Ada seorang ibu bertanya pada saya, apakah anaknya yang masih usia 6 tahun sudah bisa belajar menulis?

Sejenak saya tertegun. Saya membuka kursus menulis memang sudah lama, sejak tahun 1990. Tapi semua peserta yang saya bimbing umumnya kalangan remaja dan mahasiswa. Baru sejak tahun 2004 saya mulai mengajar untuk orang-orang tua kantoran (perusahaan/instansi). Namun saya belum pernah membimbing anak-anak apalagi yang masih TK. Itulah sebabnya saya tertegun.

Tetapi selama saya berinteraksi dengan para mahasiswa saya ataupun para dosen, manager, eksekutif yang ikut kelas saya …ada satu kalimat yang paling sering keluar dari mulut mereka. Tampaknya kalimat itu telah jadi paradigma yang begitu kuat membenam dalam bawah sadar mereka, yaitu: menulis itu susah atau menulis itu perlu bakat. Saya rasa bahkan bagi kebanyakan kita ungkapan itu “memang sudah menjadi sebuah kebenaran”.

Pertanyaannnya, dari mana datangnya paradigma itu? Sejak kapan?

Mengapa ia kita percayai?

Sekarang saya merasa yakin sekali, bibit-bibit keyakinan itu bermula ketika kita masih kecil, ketika kita masih berusia dibawah 10 tahun. Ketika sambungan-sambungan sel-otak kita sedang “membangun dirinya”.

Pada waktu itu mungkin kita mengalami pengalaman-pengalaman negatif tentang menulis. Bisa jadi ketika di sekolah. Lalu tersimpanlah kalimat “menulis itu memang susah”. Ketika peristiwa sejenis berulang, kalimat itu tersimpan lagi. Terus berulang. Diperkuat lagi oleh kata-kata teman kita, kata-kata guru kita. Lama-lama kita pun percaya. Lalu “mekanisme otomatis” di otak kita melumpuhkan kerja kreatif kita. Begitu terus sampai kita dewasa.

Apa ini artinya bagi kita sebagai orang tua? Apakah kita ingin anak-anak kita juga menyimpan “kalimat” itu? Tentu tidak bukan? Continue reading

Bagaimana Gaya Belajar Anak Anda?

Albert Einstein kecil suka melamun. Guru-gurunya di Jerman mengatakan, dia tidak akan pernah berhasil di bidang apapun.

Winston Churchill sangat lemah dalam pekerjaan sekolah. Dalam berbicara dia agak  gagap dan cadel. Tapi akhirnya saat dewasa ia jadi pemimpin besar dan orator ulung.

Thomas Alva Edison pernah dipukul di sekolah dengan sebuah ikat pinggang kulit karena gurunya menganggap dia “mempermainkan” karena mengajukan begitu banyak pertanyaan. Dia sering sekali dihukum sehingga akhirnya ia dikeluarkan dari sekolah.

Untunglah ibu Edison adalah seorang perintis proses belajar yang sejati. The World Book Encyclopedia menulis, “Dia memiliki pengertian yang tidak lazim pada waktu itu bahwa belajar dapat menjadi kegiatan yang mengasyikkan. Dia membuat permainan untuk mengajarinya – dia menyebutnya eksplorasi- dunia pengetahuan yang mengasyikkan…”.

Begitulah. Einstein, Churchill, dan Edison ternyata memiliki gaya belajar khas yang berbeda dan tidak sesuai dengan gaya belajar yang diterapkan di sekolah-sekolah mereka. Akibatnya sistem sekolah pun cenderung “menolak” mereka.

Lihat pula anak-anak “nakal” di kelas-kelas kita dahulu. Mereka selalu membuat gaduh, mengganggu teman-teman lain, atau membuat berbagai keonaran. Nilai mereka memang rata-rata di bawah standar. Persoalannya, mengapa mereka gagal?

Amati juga anak-anak kita. Ketika disuruh belajar, dia nggak mau diam. Baru saja duduk, udah melirik ke kiri kanan, lalu loncat dan berlari-lari lagi. Banyak orang tua jadi frustasi dan merasa gagal. Persepsinya, anak-anak ini nggak mau belajar. Susah diatur.

Lain lagi istri saya. Kalau saya mau menjelaskan sesuatu kepadanya, hanya dengan lisan saja, dia langsung protes. “Nggak nangkap” katanya. Baru setelah saya ambil kertas, mencoret-coret maksud saya di kertas dan dia melihatnya, dengan mudah sekali ia memahami maksud saya. Continue reading

Masa Depan Keluarga Kita (bag-2, habis)

Siklus hidup kita saat ini sedang mengalami akselerasi. Kita tumbuh lebih cepat, meninggalkan rumah lebih segera, dan kawin lebih dini.  

“Kita memperkecil jarak berbagai peristiwa itu dan merampungkan periode sebagai orang tua secara lebih cepat,” kata Dr. Bernice Neugarten, seorang spesialis perkembangan keluarga dari Universitas Chicago. 

Kekuatan yang kelihatan paling besar kemungkinannya akan menggoncangkan keluarga dalam dasawarsa mendatang adalah dampak teknologi kelahiran yang baru. Kemampuan untuk menentukan terlebih dahulu kelamin bayi, bahkan “memprogramkan” IQ-nya, wajahnya, dan ciri kepribadiannya, kini harus dianggap sebagai suatu kemungkinan yang nyata. Penanduran embrio, bayi yang hidup invitro, kemungkinan untuk dengan minum pil saja pasti akan mendapat anak kembar dua atau tiga, atau bahkan kemungkinan untuk memasuki sebuah “babytorium” dan benar-benar membeli sebuah embrio, semua ini demikian jauh melampaui pengalaman manusia, Continue reading

Masa Depan Keluarga Kita (bag - 1)

 “Keluarga telah mati, kecuali pada tahun pertama atau tahun kedua selama mengasuh anak.” (William wolf - psikolog) 

Para kritikus sosial sedang punya kesempatan baik berspekulasi tentang masa depan keluarga. “Keluarga akan mendekati titik kepunahan total,” kata Ferdinand Lunberg, pengarang The Coming World Transformation.

Dulu, ikatan keluarga amat mesra. Kekerabatan pun berlangsung sepanjang usia. Ayah, ibu, kakek dan nenek tiap hari kumpul bersama. Hidup damai, tenteram, tak tergesa-gesa. Itulah ciri peradaban masyarakat pertanian setiap negara.

Lalu masuk era industrialisasi, berubahlah suasana. Hubungan manusia dengan tempat pemukiman terancam sirna. Manusia pun mulai menjalani kehidupan serba keras, lapar, berbahaya, dan mengelana. Tapi kendati demikian, fungsi rumah (meski hanya sebuah gubuk) tetaplah jadi tempat berlindung utama.

Kepustakaan penuh dengan petunjuk yang baik tentang pentingnya rumah. “Seek home for rest, for home is best.” Carilah rumah untuk istirahat, sebab rumah itu paling ramah. Begitu nasehat Thomas Tussers dalam Instructions to housewifery, sebuah buku petunjuk abad ke-16. Yang lain lagi, “A man’s home is his castle …” (rumah seseorang adalah istananya).  ”Home, sweet home …” (rumahku, rumah yang manis). Begitu mesra hubungan manusia dengan rumahnya.

Lalu datang industrialisasi modern. Ia kian menuntut adanya massa pekerja yang siap dan mampu meninggalkan tanahnya untuk mencari pekerjaan dan pindah tempat berkali-kali. Ini berbeda sekali dengan masyarakat tani yang cenderung menetap menetap untuk jangka waktu yang lama. Revolusi industri mulai merenggangkan kasih mesra manusia dengan tempat tinggalnya.

Akibatnya, keluarga besar (extended family) termasuk di dalamnya ayah, ibu, anak, paman, bibi, kakek dan nenek, sedikit demi sedikit terpaksa “merampingkan tubuhnya”. Timbullah apa yang dinamakan “keluarga inti” (nuclear family). Itulah dia, suatu unit keluarga yang ringkas, portable (mudah dibawa) kemana-mana. Ia hanya terdiri dari suami, istri dan sejumlah kecil anak mereka. Keluarga ini, yang jauh lebih mobile sifatnya dari keluarga besar tradisional, jadi model standar di semua negara. Continue reading

Mengapa Anak Malas Belajar?

Mengapa anak-anak lebih suka bermain ketimbang belajar? Mengapa sebagian anak senang tinggal di rumah, sebagian lagi tidak betah? Ada beberapa penyebabnya.

Pertama, kontruksi bangunan rumah. Hal ini memang jarang terperhatikan oleh banyak sekali keluarga. Mereka masih menganggap rumah sebagai “benda mati”. Padahal, rumah pada hakekatnya bukan hanya tempat tinggal belaka, melainkan juga tempat terbinanya kasih-sayang diantara keluarga, tempat dibinanya Continue reading

Ciri Hidup Kita Kini

oleh : Nilna Iqbal

Dulu, ikatan kekerabatan berlangsung sangat mesra. Usia persaudaraan pun bersemi sampai tua. Tiap hari mereka senantiasa kumpul bersama. Hidup damai, penuh ketentraman, tak tergesa-gesa.

Tapi semenjak masuk era modernisasi berubahlah suasana. Hampir semua jenis pola hubungan manusia tercabik-cabik mewujud jadi aneka romantika baru. Terjadi apa yang sesungguhnya kita sama-sama saksikan, kini. Revolusi industri mulai merenggangkan kasih mesra manusia dengan segala lingkungannya.

Usia Hubungan Kian Pendek

Manusia memang sedang dipercepat gerak hidupnya. Usia keterlibatan dan interaksi manusia dengan lingkungan sosial cenderung semakin singkat. Lebih-lebih masyarakat kota. Pola hubungan kian formal dan terbatas. Hampir dalam segala jenis hubungan manusia, dengan keluarga, dengan para tetangga, dengan rumahnya, dengan anak-istrinya, dengan orang tuanya, dengan handai taulan, karib kerabat, bahkan juga dengan kekasih pujaan hatinya.

Kalau dulu, ikatan kekerabatan dalam keluarga bisa berlangsung sepanjang usia, agaknya di masa yang akan datang, harapan ini sulit diwujudkan. Tingkat perceraian dan perpecahan keluarga akan semakin tinggi. Kesibukan suami dan isteri yang masing-masing berbeda profesi, ditunjang oleh mobilitas yang makin tergesa-gesa, berakibat waktu-interaksi kian pendek. Anak-anak pun terbiasa (akibat dibiasakan) dalam sentuhan yang kian singkat dan tak mendalam.

Tentu ada pengaruhnya. Rasa keterikatan anak pada orang tua jadi senakin sulit dibuktikan adanya. Rumah tangga pun terancam kohesivitasnya. Hingga ketika ada ‘gangguan’ sedikit saja, ikatan yang sudah lemah begitu rupa, bisa pecah itu keluarga.

Sahabat…Lewat Sambil Mengapung

Ikatan persahabatan pun demikian. Ia lebih menyerupai sebuah sampan yang meluncur dalam arus riak sungai perubahan. John Barth menangkap makna peregeseran ini dengan sebuah ungkapan dalam novelnya The Floating Opera, “Para sahabat kita lewat sambil mengapung; kemudian mereka hanyut terus dan kita harus percaya saja pada kabar angin atau sama sekali kehilangan jejak mereka; kemudian mereka muncul kembali dan kita memperbaharui persahabatan kita sambil menduga keadaannya sekarang atau mendapati bahwa mereka dan kita sudah tidak lagi saling mengerti”.

“Tak lama lagi”, kata Profesor Eli Ginzberg dari Universitas Columbia, “kita semua di sini akan jadi manusia tipe metropolitan, tanpa ikatan atau keterlibatan, bahkan, dengan para sahabat dan tetangga lama”.

Pun begitu hubungan kita dengan jiran. Max Weber menunjukkan fakta yang mencolok bahwa manusia yang tinggal dalam kota tak dapat mengenal tetangganya seakrab apabila mereka tinggal dalam lingkungan masyarakat yang kecil. Bahkan hubungan dengan tetangga tidak lagi dipandang sebagai ikatan jangka panjang. Angka rata-rata perpindahan geografis terlalu tinggi untuk itu. Hubungan ini diharapkan berlangsung selama individu tinggal di suatu lokasi, suatu jangka waktu yang pada umumnya makin lama makin pendek.

Setiap kali suatu keluarga pindah, mereka cenderung menggugurkan sejumlah teman dan kenalan biasa. Setelah ditinggalkan, akhirnya mereka pun dilupakan. Memang betul ada argumen, perpisahan tidak mesti mengakhiri semua hubungan. Berpisah bukannya bercerai. Betul, tapi itu cuma hiburan pelepas duka. Mungkin kita masih mau memelihara kontak dengan satu atau dua orang teman di tempat tinggal kita yang lama dan kita pun cenderung memelihara kontak yang sporadis dengan sanak keluarga. Tetapi pada tiap perpindahan terdapat erosi yang mematikan. Mula-mula ada lalu-lintas surat-menyurat yang sibuk dan bersemangat. Mungkin sekali-sekali ada kunjungan atau obrolan telepon. Akan tetapi frekuensinya berangsur-angsur menurun dan akhirnya berhenti sama sekali. Ini sudah kenyataan.

Seolah Tersiksa

Yang lebih pendek lagi umumnya ikatan hubungan jasa. Di sini terlibat para penjual, pengantar barang, pelayan pompa bensin, pengantar susu, pemangkas rambut, penata rambut dan sebagainya. Pergantian hubungan di tengah kelompok ini relatif lebih sering. Biasanya kita mengakhiri hubungan ini tanpa beban mental sama sekali. Tiada sedih, tiada duka. Wajar saja.

Kita memang hanya tertarik pada efisiensi pedagang sepatu dalam melayani kebutuhan kita. Kita tidak peduli apakah suaminya seorang pemabuk, heteroseks, atau homoseks. Karena kita hanya butuh membeli sepasang sepatu dan bukannya persahabatan, kasih sayang atau kebencian pedagang itu. Selama penjual sepatu memberikan jasanya yang agak terbatas itu kepada kita dan dengan demikian memenuhi harapan kita yang juga agak terbatas, kita tidak mendesaknya untuk percaya kepada Tuhan kita atau menjaga kebersihan rumahnya, menganut nilai politik kita atau menikmati makanan dan musik yang sama dengan kita. Kita membiarkannya bebas dalam segala soal yang lain, sebagaimana ia membiarkan kita bebas untuk menjadi apa saja atau melakukan apa saja yang tidak mengganggu kita.

Kita hanya tertegun sejenak ketika seseorang berteriak minta tolong, dan sambil mengurut dada, kita pun terus melanjutkan pekerjaan dan perjalanan kita.

Ini gejala baru dalam psikologi masyarakat kota. George Simmel berujar, “Bila manusia kota bereaksi secara emosional kepada siapa saja yang ia jumpai, atau memenuhi otaknya dengan segala informasi tentang mereka, maka batinnya akan diliputi ‘kabut’ (atomized) dan ia akan jatuh ke dalam kondisi mental yang tak dapat dibayangkan. Ia tak mengerti, tiba-tiba ia merasa tersiksa”.

Pendek kata secara umum, rata-rata jangka waktu hubungan antar pribadi dalam hidup kita sekarang ini dan di masa depan akan menjadi semakin pendek.

Manusia….Mobile

Rata-rata rentang waktu hubungan antar manusia itu adalah akibat wajar dari meningkatnya jumlah hubungan dan tingginya tingkat mobilitas hidup masyarakat. Dewasa ini orang kota rata-rata bertemu dengan lebih banyak orang dalam seminggu dibandingkan dengan orang desa di zaman feodal setahun, bahkan mungkin seumur hidupnya. Kebanyakan orang yang ia kenal sama saja seumur hidupnya.

Orang kota mungkin mempunyai suatu kelompok inti yang interaksi dengan anggotanya bertahan selama periode yang lebih lama, tetapi ia pun berinteraksi dengan ratusan, atau ribuan orang yang boleh jadi hanya sekali atau dua kali dijumpainya dan kemudian lenyap sama sekali dari ingatannya.

Meningkatnya perlawatan mengakibatkan peningkatan jumlah hubungan sementara. Dalam hal yang satu ini, Amerika memang nomor satu. Dalam tahun 1967 saja misalnya, 108 juta orang Amerika melakukan 360 juta perjalanan. Dan perlawatan ini sendiri mencakup jumlah 312 milyar mil-penumpang. Lebih-lebih lagi perjalanan bisnis dan liburan.

Yang juga menarik adalah data-data tentang gerak perpindahan masyarakat desa ke kota di Indonesia. Di tahun 1960 misalnya 72 % dari anak muda yang berumur 15-24 tahun masih bekerja di desa-desa. Pada tahun 1972 angka tersebut menurun menjadi 60 %, kebalikan dari angka dan tahun tersebut. Pada tahun 1985, angka ini menurun secara drastis menjadi 48,5 persen, suatu penurunan rata-rata 1% per tahun dalam kurun waktu 25 tahun terakhir. Pada tahun 2000, kurang dari 35 % mereka yang berumur antara 15-24 tahun bekerja di desa. Sungguh suatu perubahan yang cukup mendasar dalam kurun waktu kurang lebih 20 tahun terakhir ataupun untuk masa yang akan datang. Dan gerakan mereka itu akan lebih cepat lagi ketika ada di kota. Umumnya desa pun tinggal kenangan masa lalu saja.

Good Bye…My Sweet Home

Hubungan kita dengan rumah pun terancam punah. Dulu dalam dunia yang serba keras, lapar dan berbahaya, rumah, meskipun tak lebih dari sebuah gubuk, dianggap sebagai tempat berlindung terakhir. Kepustakaan penuh dengan petunjuk yang baik tentang pentingnya rumah. “Carilah rumah untuk beristirahat, sebab rumah itu paling ramah” (Seek home for rest, for home is best) adalah kalimat dari “Instruction to Housewifery”, sebuah buku petunjuk abad ke-16 oleh Thomas Tusser. Masih ada belasan ungkapan lain yang kini bersarang dalam musium kebudayaan. “A man’s home is his castle…” (Rumah seseorang adalah istananya). “home, sweet home…” (Rumahku, rumahku yang manis).

Kini, orang suka berpindah. Dan apabila seseorang mengakhiri hubungannya dengan rumahnya, ia pun biasanya mengakhiri hubungan dengan segala jenis tempat “satelit” di kejiranan itu. Ia berganti pasar-raya, pompa bensin, terminal bis, dan pemangkas rambut, dan dengan segala manusia yang pernah ia jumpai di situ, sekalipun pacarnya. Kita sedang menyaksikan sejarah kemerosotan arti tempat bagi kehidupan manusia.

Pacaran…Sementara Saja

Kegiatan mondar-mandir, bermusafir dan pindah tempat tinggal ini akhirnya menjadi kebiasaan hidup. Makin besar mobilitas seseorang, makin banyak pula perjumpaan tatap muka yang singkat, kontak antar manusia yang sepintas, yang masing-masing merupakan hubungan tertentu yang fragmentaris dan yang paling penting, dalam waktu yang sangat terbatas.

Louise Wirth kemudian mencatat sifat fragmental hubungan manusia kota. “Secara karakteristik, para penghuni kota saling bertemu dalam peran yang sangat segmental…” tulisnya. “Ketergantungan mereka pada orang lain terbatas pada sebagian aspek yang amat kecil dari lingkungan kegiatan orang lain itu. Daripada terlibat mendalam dengan setiap insan yang kita jumpai”, katanya menjelaskan, “kita lebih perlu mempertahankan hubungan yang mengambang dan terbatas dengan seseorang”.

Ini pun terjadi dalam hubungan kita dengan sang kekasih. Laki-laki akan semakin banyak ketemu gadis-gadis cantik yang senantiasa berbeda tiap ditemuinya. Kaum wanita pun kian banyak melangsungkan hubungan dengan banyak ragam polah pria. Jadinya, mereka terus diguncang rasa kesetiaannya. Suatu saat mereka sama-sama bertemu dalam suatu pesta, lalu saling tertarik…lalu akhirnya akrab…intim…pacaran. Tapi kedua-duanya sama-sama sibuk. Mereka akan teralih perhatian dalam pikirannya dari 100% memikirkan kekasih (dulu memang bisa begitu), menjadi tinggal 50%, sisanya untuk kantor, teman, dan lingkungan aktivitas lainnya. Hingga suatu saat lain…ia bertemu lagi dengan gadis atau jejaka lain dalam suatu kesempatan lain. Entah bagaimana…ini pun bisa menjadi akrab…lalu intim. Begitulah…siklus hubungan pria wanita akan kian dipersingkat juga. “Duhai, kekasih…sayang ini sulit sekali terelakkan”, bisik kalbunya. “Arus kehidupan ini…mengapa begitu cepat, elaknya membenarkan diri.”

Ngetop Mendadak…

Tidak hanya interaksi-manusia yang kian pendek umurnya, citra dan perhatian kita pada sesuatu pun pendek usianya. Ia muncul dalam sekejap lalu segera berlalu, senyap.

Tidak ada produk yang lebih cepat munculnya atau lebih kejam lenyapnya dariapada orang yang terkenal mendadak, isu yang heboh sesaat, dan berita yang bertukar dua sampai tiga kali sehari. Perhatian kita dialihkan dari suatu topik ke topik lain, dari satu tokoh ke tokoh yang lain, dari isu yang satu ke isu yang lain, dengan kecepatan yang terus meningkat. Citra itu seperti hinggap sebentar dalam benak, lalu terbang lagi dan kemudian digantikan citra yang baru lagi., pergi lagi. Demikian seterusnya.

Ribuan “tokoh” seakan berpawai melewati panggung sejarah masa kini. Manusia nyata (real) yang dibesarkan dan diproyeksikan oleh media massa, kemudian disimpan sebagai citra dalam benak jutaan orang yang belum pernah mengenal mereka, belum pernah mengajak mereka bicara, belum pernah melihat mereka “secara pribadi”. Mereka menjadi kenyataan, hampir (dan kadangkala lebih) sama nyatanya seperti orang lain yang mempunyai hubungan “pribadi” dengan kita.

Kita telah menyaksikan tiba-tiba melonjaknya atau merosotnya popularitas “gaya rambut Bardot”, “mode Cleopatra”, James Bond dan Batman, belum lagi tudung lampu Tiffany, kaca mata pop, poster Michael Jackson atau Lady Diana, bulu mata palsu, dan tak terbilang macam-macam barang tetek bengek serta keanehan yang dipantulkan atau disesuaikan dengan cepatnya perubahan budaya pop itu.

Mengomentari media massa, sejarawan Marshall Fishwick menyatakan dengan kecut, “Kita bahkan belum sempat mengenal baik ‘Pahlawan Super’, ‘Kapten Tampan’ dan ‘Tuan Hebat’, tahu-tahu mereka telah terbang ke luar layar televisi untuk selamanya”.

‘Drama publik ini”, kata sosiolog Orrin Klapp, pengarang buku yang memukau Symbolic Leader, “sebagian besar merupakan produk dari teknologi komunikasi yang baru. Musibah, keresahan, ketololan, persaingan, skandal, lemak babi, biskuit beracun, boom bank, konglomerat, seakan-akan merupakan hiburan atau seakan-akan roda rolet politik yang berputar-putar. Yang disukai datang dan perginya dengan sangat cepat sehingga memusingkan…

Riak informasi telah berubah menjadi gelombang dahsyat yang memecah dengan hempasan yang makin lama makin cepat, menghantam kita, bagaikan mencari jalan masuk ke sistem syaraf kita.

Begitulah, usia interaksi dan perhatian manusia, baik terhadap manusia lain atau lingkungan sosialnya, kian hari, kian pendek, hingga pola hubungan dan perhatian pun semakin formal dan terbatas. Manusia semakin jauh dari manusia lainnya.

Yah…beginilah nasib dunia…hidup manusia. Desakan perubahan itu begitu dahsyat. Desakan itu bahkan sedang kita alami saat ini. Angin kencang perubahan ini…akankah mengakhiri persahabatan kita yang hakiki, ukhuwah kita yang baru saja bersemi? Lantas, dimanakah kebahagiaan itu akan kita pertaruhkan lagi? Atau mungkin…memang begitulah ciri hubungan kita, nanti. Hubungan singkat? Masyaallah…Bagaimana ini?

Bagaimana Bayi dan Anak-Anak Belajar?

oleh : Nilna Iqbal

Gordon Dryden & Dr. Jeannette Vos dalam bukunya The Learning Revolution, mengungkapkan fakta-fakta yang sangat mengejutkan. Saat ini, katanya, berbagai metoda belajar tengah berkembang pesat di seluruh dunia, sehingga setiap anak akan mampu mempelajari apapun secara lebih cepat –sekitar 5 sampai 20 kali lebih cepat– bahkan 10 sampai 100 kali lebih efektif, pada usia berapapun. Metoda-metoda itu ternyata sederhana, mudah dipelajari, menyenangkan, logis – dan terbukti andal.

Inilah beberapa fakta itu. Di Christchurch, Selandia Baru, Michael Tan berhasil lulus ujian matematika tingkat smu pada usia 7 tahun. Dan Stephen Witte, 12 tahun lulus enam ujian beasiswa universitas dan berhasil meraih hadiah fisika dari SMU Papanui, tidak lama setelah diizinkan melompati empat kelas.

Di Alaska, para pelajar di SMU MT. Edgecumbe menjalankan empat perusahaan proyek percontohan. Salah satu proyeknya: ekspor salmon asap ke Jepang senilai us$ 600.000– mereka sekaligus belajar ilmu pemasaran, bisnis, ekonomi dan Bahasa Jepang.

Di SD Pantai Tahatai Di Selandia Baru, anak-anak berusia 6 tahun menggunakan komputer untuk membuat cd-rom dan merencanakan “sekolah masa depan” mereka sendiri. Mereka juga menggunakan komputer untuk mengaktifkan unit-unit pembangkit energi surya dan angin yang didesain agar setiap rumah mampu memenuhi kebutuhan energinya sendiri.

Ternyata pembelajaran mandiri adalah salah satu kunci utama. Jika kita bisa menyediakan lingkungan dan peralatan yang baik untuk pelatihan mandiri, anak-anak kecil pun akan menjadi pendidik mandiri yang antusias sepanjang hidupnya.

Maria Montessori, dokter wanita pertama asal Iitalia, telah menyediakan lingkungan semacam itu hampir 100 tahun lalu, membuktikan bahwa anak-anak usia 3 – 4 tahun dengan mental terbelakang, mampu berkembang baik dalam hal menulis, membaca, dan perhitungan dasar. Dan sampai sekarang ini di daerah terpencil Montana, negara bagian Amerika yang berpenduduk paling jarang, semua anak berusia 4 tahun di taman bermain Montessori International telah mampu mengeja, membaca, menulis dan melakukan hitungan dasar, bahkan sebelum mereka masuk sekolah. Saat ini mereka mencanangkan pada usia 4 tahun itu anak-anak bahkan sudah mampu menguasai tiga atau empat bahasa!

Bagaimana dengan anak-anak kita? Lihatlah betapa banyak orang tak menyadari bahwa mereka telah “merusak” potensi hidup anaknya. Lihatlah anak-anak kita sekarang. Dimana mereka pada sebagian besar waktu hidupnya? Di depan televisi-kah? Main seharian dengan anak-anak lainkah? Apa yang mereka pelajari? Siapa guru-guru mereka? Siapa idola mereka? Apa kata-kata yang meluncur dari pikirannya?

Ternyata, semua ini bergantung bagaimana ia dididik sejak awal kelahirannya! Kita tahu, setiap anak, anak negara manapun, anak siapapun adalah pemilik otak terhebat di dunia. Walaupun beratnya kurang dari 1,5 kg, kemampuan otaknya beribu kali lebih hebat dari super komputer terhebat di dunia. Dan anak-anak kita pun memilikinya! Masing-masing terdiri dari otak sadar dan otak bawah sadar.

Otak sadar aktif saat kita sengaja melakukan sesuatu. Sedangkan otak bawah sadar selalu aktif 24 jam sehari terus menerus. Ia bekerja sejak bayi masih dalam kandungan sampai kita dewasa dan mati.

Dari berbagai hasil penelitian ditemukan bahwa ternyata di bawah sadar inilah “terinstall” semua potensi hidup kita, yang nantinya akan keluar dalam bentuk sikap, nilai hidup, skill, kecerdasan, kepribadian dan kebiasaan.

Salah satu sifat otak bawah sadar ini adalah “tidak kritis”. Jadi apapun input yang masuk ke dalamnya akan tetap disimpan dan dianggap benar. Beda dengan otak sadar … ia kritis. Oleh karena itulah yang harus kita waspadai justru input-input yang bakal masuk lewat pintu otak bawah sadar ini.

Benyamin s. Bloom, professor pendidikan dari universitas chicago, menemukan fakta yang cukup mengejutkan:
-  Ternyata 50% dari semua potensi hidup manusia terbentuk ketika kita berada dalam kandungan sampai usia 4 tahun.
-  Lalu 30 % potensi berikutnya terbentuk pada usia 4 – 8 tahun.

Ini berarti 80% potensi dasar manusia terbentuk di rumah, justru sebelum mulai sekolah. Akan seperti apa kemampuannya, nilai-nilai hidupnya, kebiasaannya, kepribadiannya, akhlaqnya, dan sikapnya … semua 80% tergantung pada orang tua. Sadar atau tidak. Baik “dibentuk” secara sengaja atau pun tidak sengaja!

Artinya, akan jadi siapa anak kita, akan bagaimana cara berpikir dan bersikapnya ditentukan sepenuhnya oleh informasi dan pengetahuan apa yang tersimpan di otak bawah sadarnya. Panca indera adalah pintu masuk yang langsung masuk ke pusat kecerdasan anak. Apapun yang ia dengar, apapun yang ia lihat, apapun yang ia rasakan, semua langsung tersimpan di otak bawah sadarnya.

Ia juga belajar tentang sikap dan kepribadian dari orang-orang yang mengasuhnya. Bagaimana ayah ibunya berbicara, apa yang dikatakan, bagaimana ia bereaksi terhadap emosi-emosi tertentu, bagaimana orangtua bereaksi terhadap tekanan amarah, tangisan, dan kerewelan. Semua bahasa komunikasi anak (dalam bentuk gerakan, tangisan dan kerewelan) adalah alat-alat ia belajar.

Lantas, apakah bisa kita menghasilkan “anak hebat” hanya dengan cara mendidik “ala kadarnya”? Dengan “semaunya”, secara naluriah belaka? Tentu tidak bukan!

Hal pertama yang langsung kita sadari adalah, sebagai ayah dan ibu, kita adalah guru anak-anak kita. Baik kita melakukannya dengan benar ataupun “nggak sengaja” salah.

Pertanyaan berikutnya, sudah tahukah kita kurikulum apa yang sedang berlangsung pada usia 0 – 4 tahun atau 8 tahun perkembangan pendidikan anak-anak kita?

Ternyata, kebanyakan orang tua tidak punya “kurikulum” pendidikan usia-dini ini. Tentu tak heran akhirnya kurikulum alamiah lah yang diterapkan. Kurikulum yang akhirnya dipelajari anak-anak kita adalah kurikulum-alamiah yang diciptakan oleh lingkungan tempat kita saat ini hidup dan berada. Lewat program-program televisi, pergaulan di sekitar rumah kita, juga pergaulan antar penghuni di dalam rumah tangga kita sendiri.

Apa yang “diajarkan” (tanpa sengaja) pada bayi dan anak-anak kita?

Secara keilmuan bisa jadi masih kosong! Bagaimana dengan sikap? Tak dapat dibendung, ternyata banyak sekali hal negatif yang “dipelajari” anak-anak kita.

Lalu adakah kegiatan-kegiatan pembelajaran secara sengaja? By design? Hampir tidak ada! Ada semacam “keyakinan” yang telah jadi paradigma kuat dalam pikiran para orang tua, bahwa anak-anak “bersekolah” ya dimulai sejak TK ! Sehingga mengabaikan proses belajar mengajar “yang umumnya tak sengaja” yang justru berlangsung setiap detik di rumah kita. Bahkan anehnya tak sedikit yang tega menyerahkan bayi dan anak-anaknya itu “berguru” kepada para pembantunya!

Jika kita mulai menyadari fakta-fakta ini, ada beberapa tindakan yang bisa segera kita lakukan, jika memang kita ingin berubah:

1. Orang tua (ayah dan ibu), harus belajar semua hal yang berhubungan dengan metoda-metoda pendidikan anak

Pada dasarnya orang tua adalah guru terpenting dan rumah adalah sekolah paling penting, Didiklah anak dengan ilmu. Kenali dan rancang kurikulum sendiri untuk keperluan ini. Apa muatan sikap dan perilaku yang ingin kita hasilkan pada balita kesayangan kita, dan bagaimana caranya. Bagaimana pula caranya kita menanamkan aqidah Islam pada balita kita. Apa yang boleh kita lakukan dan apa yang  jangan kita lakukan. Kuncinya belajar! Orang tua lah yang harus belajar….!

2. Kenali dan kendalikan jenis input informasi (ucapan/penglihatan/pendengaran/pergaulan) yang masuk lewat pintu otak bawah sadar balita kita.

Jika kita sadar ini, maka programkan secara sengaja muatan positif. Install-kan program-program positif ke dalam otak bawah sadar anak-anak kita. Sebagai contoh televisi. Kendalikan keinginan kita nonton acara tv bersama anak-anak. Beberapa pemimpin bisnis terkemuka di dunia seperti Mitch Sala, Jim Dornan, Rich De Vos, Bob Andrew, dan banyak lagi yang lainnya bahkan sangat menyadari betapa berbahayanya “virus negatif” yang dibawa TV ini. Mereka pun tidak membiarkan dirinya dan bahkan juga anak-anaknya berada di depan televisi!

Kenali juga bahwa input positif bisa berasal dari pendengaran. Maka kendalikan kata-kata kita. Apapun situasinya, jaga mulut! “katakan yang baik-baik saja, atau kalau tidak lebih baik diam”, pesan Rasulullah SAW dalam salah satu sabdanya. “…fal yakun khairan au lisashmut”!

Juga program/install otak balita kita dengan input yang disengaja. Misalkan tatkala menidurkan bayi kita, apa salahnya kita memperdengarkan ayat-ayat al qur’an kepada bayi, baik melalui kaset maupun kita sendiri yang membacakannya.

Percayalah semua input yang disengaja ini membekas dan terinstall dengan baik di otak bawah sadar anak-anak kita.

Programkan dengan sengaja! Itu sebabnya kita perlu punya kurikulum! Ini bukan berarti kita mau mendikte “masa depan profesi anak kita”. Sama sekali tidak. Apapun jalan hidup dia nanti setelah dewasa, terserah dia. Yang kita bentuk secara sengaja adalah potensi dasar “human being”-nya. Sikapnya, perilakunya, kebiasaannya, potensi aqidahnya. Bukankah ini memang wajib! Bagi setiap orang tua untuk mendidik anaknya agar menjadi hamba Allah dan khalifah-nya di muka bumi ini?

Ada beberapa contoh tindakan, misalnya dengan membacakan buku-buku cerita-cerita ilahiyah, kenalkan Allah dan segala konsep ilahiyah lainnya, lalu kisah-kisah perjuangan rasulullah dan para sahabat, dan berbagai kisah-kisah positif lainnya. Semua kisah itu akan membekas amat dalam ke dalam jiwa anak-anak kita! Lalu juga hindari cerita-cerita dan film-film televisi! Ingat kita adalah guru!

Insyaallah, jika betul-betul kita serius, bukan tidak mungkin yang akan kita lahirkan nanti adalah calon-calon pemimpin dunia! Dari tangan didikan kita lahirlah para jenderal, para profesor, para ilmuwan yang mampu mengubah dunia ini berada dalam ridlo Allah SWT. Amin ya allah ya rabbal ‘alamiin.