PUSTAKA NILNA 

Belajar internet marketing
Loading....
Recent Article links:

Archive for April, 2008

Bank Wakaf dan Laboratorium Bisnis, Mungkinkah?

oleh  Nilnaiqbal

Menyedihkan! Calon-calon penganggur, calon-calon dhu’afa, dan orang-orang miskin terus meningkat dari tahun ke tahun seiring pertumbuhan manusia. Sungguh menyedihkan sekali, yang menghadapi problem sosial ini sebagian besar justru kita umat Islam. Boleh dibilang, ini problem umat Islam.  Akankah kita tega membiarkannya?

Hai orang berselimut, bangkitlah…

Kekayaan strategis kita yang sesungguhnya adalah umat. Manusia (umat Islam) adalah asset yang sangat mahal sebetulnya. Kita melihat betapa banyak negara yang miskin sumber daya alamnya, namun bisa menjadi negara yang tertinggi GNP-nya. Swiss dan Jepang misalnya. Bahkan Korea Selatan yang pada tahun 1965 lalu sama miskinnya dengan Indonesia kini telah jadi negara yang relatif sejahtera, karena mereka mendahulukan serta sangat mementingkan pengembangan kualitas sumber daya manusia.

Selain itu, bila lebih jauh dikaji, salah satu kelemahan lain umat Islam adalah masih lemahnya struktur ekonomi mereka serta kemampuan yang juga belum terbina dengan baik. Organisasi-organisasi Islam pun masih rapuh fondasinya dalam menghadapi gejolak masa datang.

Masa depan yang penuh dengan berbagai perkembangan baru, sekaligus juga membonceng tantangan-tantangan baru, di samping tentu akan membawa serta problem-problem baru. Nilai-nilai senantiasa berubah. Pandangan hidup dan aneka informasi dunia melingkupi masyarakat. Tak dapat tidak tantangan ini tak boleh dihindari begitu saja. Ia akan datang, bergejolak dan pasti. Yang jelas, bagaimana kesiapan kita sebagai umat Islam untuk menghadapinya.

Yang kita lihat sampai kini, masih amat minim perhatian kita menggugah kesadaran pentingnya arti penguasaan ekonomi di kalangan umat Islam. Masih seberapa persen pengusaha muslim yang betul-betul berhasil secara nyata? Masih kurang! Masih terlalu banyak orang kita yang lebih suka berebut kursi ‘pegawai negeri’ sebagai tujuan akhir hidupnya. Mereka lebih suka memilih ‘jalan mudah lagi aman’. Padahal kita ingin mereka mampu mandiri dan menentukan diri mereka sendiri. Dengan demikian beban pemerintah ‘menyuapi’ rakyat banyak pun akan terkurangi. Continue reading

Memaknai Kehidupan

Awal musim dingin 1942. Para penguasa Austria di Vienna menangkap dan menahan ratusan orang Yahudi. Diantara mereka ada seorang psikiater muda bernama Viktor Frankl. Saat itu Frankl adalah seorang tokoh yang lagi naik daun karena mengembangkan sebuah teori baru tentang kesejahteraan psikologis.

Menghadapi penangkapan itu, ia dan istrinya, Tilly, telah mengantisipasi. Mereka berusaha keras menjaga apa yang menjadi miliknya yang paling penting. Sebelum polisi sampai di rumahnya, Tilly menjahit ke dalam lapisan jaket Viktor sebuah manuskrip buku yang ia tulis tentang teori-teorinya.

Viktor memakai jaket itu ketika pasangan tsb dikirim ke Auschwitz. Hari pertama lolos. Namun, hari kedua, penjaga SS melucutinya, melepas semua pakaiannya. Sejak itu ia tak tahu lagi dimana manuskripnya.

Tiga tahun kemudian, di Auschwitz dan kemudian di Dachau, ketika istri, saudara, ibu dan bapaknya tewas dalam tungku gas, Frankl berusaha untuk menciptakan kembali teksnya dengan menggoreskan catatan-catatan di atas potongan-potongan kertas yang dicurinya.

Dan tahun 1946, satu hari setelah tentara sekutu membebaskan kamp-kamp konsentrasi, lembaran-lembaran kertas yang kusut itu membentuk apa yang kemudian menjadi sebuah karya yang paling berpengaruh dan abadi pada abad yang lalu, bukunya, Man’s Searching for Meaning.

Dalam buku itu Frankl melukiskan bagaimana ia dengan gigih menghadapi kerja yang sangat berat, penjaga-penjaga yang sadis, dan makanan yang tidak cukup. Continue reading

Menolong Orang Lain Dengan Uang Haram, Bolehkah?

Orang itu sangat popular di kalangan orang-orang awam. Dia dikenal seorang yang saleh, penuh takwa dan sangat religius. Disetiap tempat, orang-orang awam menyanjung kebesaran dan keagungannya, dan kerap kali mereka memperbincangkannya di majlis Imam Ja’far Ash-Shadiq.

Imam jadi tertarik untuk melihat “orang besar” yang disanjung–sanjung ini dari dekat, tanpa sepengetahuan orang-orang lain. Lalu dengan sembunyi-sembunyi beliau pergi ke tempat orang tersebut. Diperhatikannya para pengagumnya, yang terdiri dari lapisan masyarakat awam, mengelu-elukannya di sekitarnya. Sesuatu yang amat menarik dari orang ini adalah sikap dan tingkah lakunya dalam memperdayakan orang-orang awam.
 
Ketika dia berpisah dan berjalan seorang diri, secara perlahan Imam membuntutinya dari belakang. Beliau ingin melihat kemana orang ini pergi, apa yang dilakukannya, dan amal apa yang dibuatnya sehingga menarik perhatian orang-orang awam. Tak lama kemudian, terlihat orang ini berdiri di depan sebuah toko roti. Dia melihat orang tersebut mengambil dua keping roti, lalu disembunyikannya dibalik jubahnya dan pergi.
Baca selengkapnya, klik disini >>

Dialog Imam Ja’far Dengan Para Tokoh Sufi

Pada awal abad kedua Hijriyah, muncul satu kumpulan dari kalangan Muslimin yang menamakan diri: “Orang-orang Sufi dan Zuhud”. Mereka mempunyai cara hidup tersendiri, dan mengajak orang lain melakukan hal yang sama.

Mereka begitu intens dalam menonjolkan gaya ini seakan ajaran agama terbatas pada tasawwuf dan kezuhudan saja. Mereka mengajak orang mukmin agar menghindari nikmat-nikmat duniawi, meninggalkan pakaian-pakaian yang elok, makanan-makanan yang lezat dan tak mau tinggal di tempat-tempat yang mewah. Mereka mencela orang-orang yang menikmati pemberian-pemberian Ilahi ini, dan mencap orang-orang seperti itu sebagai “ahli dunia” dan jauh dari sisi Allah.

Ajaran ini sebelumnya pernah ada di Yunani, India, atau di belahan dunia lain sebelumnya. Lalu menyebar pula dikalangan orang-orang Islam, yang kemudian mereka celup dengan warna agama.

Cara dan ajaran seperti ini berkesinambungan dan memberikan pengaruh yang besar kepada generasi-generasi berikutnya. Bahkan bisa dikatakan, mereka telah berhasil membentuk suatu mazhab baru. Maka sebagai akibatnya, terbentuklah kelompok yang tidak menghargai pilar-pilar kehidupan, tidak terikat dengan pekerjaan-pekerjaan, disamping juga menimbulkan kemunduran dan keterbelakangan di negara-negara Islam.

Pengaruh mazhab dan falsafah ini tidak terbatas pada orang-orang yang menamakan diri mereka sebagai sufi saja, bahkan cara berfikir yang unik yang bertopengkan zuhud, taqwa dan menanggalkan dunia, merayap pula ke semua tingkatan dan kelompok-kelompok mazhab Islam yang lain, yang mereka sendiri kadang-kadang menamakan dirinya sebagai anti sufi.

Tapi harus kita katakan juga, bahwa tidak semua orang yang menamakan diri mereka sufi, mempunyai cara berfikir dan hidup seperti itu. Dan tidak diragukan lagi, bahwa cara ini harus kita golongkan sebagai jenis penyakit sosial, suatu penyakit berbahaya yang bisa melumpuhkan semangat dan mentalitas kehidupan masyarakat Muslim. Penyakit seperti itu harus diperangi dan dibersihkan. Tapi, sayang sekali, usaha untuk itu tidak pernah ditujukan untuk membersihkan cara dan tata berfikir mereka. Penyerangannya selalu terfokus pada nama-nama dan pribadi saja, dan kadangkala untuk mendapatkan kedudukan duniawi semata-mata. Dan tidak sedikit orang yang memerangi penyakit tersebut, tanpa disadari, justru ikut terjangkit dan menyebarkan kuman-kumannya kepada yang lain. Mungkin hal ini disebabkan ketidak pahaman dan terbatasnya ilmu orang-orang yang tampil memerangi pikiran tersebut.

Oleh karena itu, penyakit dan cara berfikir yang kacau dan ngawur ini harus kita perangi. Maka berikut ini adalah penjelasan Imam Ja’far Ash-Shadiq, guru dari seluruh imam-imam mazhab dalam Islam, tentang perkara penting ini dalam bentuk dialog langsung dengan tokoh sufi yang sangat terkenal, Sufyan Al-Tsury, insyaAllah merupakan petunjuk dan jawaban yang paling lengkap dalam rangka menolak cara berfikir yang salah ini. Dan Alhamdulillah, jawaban tuntas Imam Ja’far tersebut masih tetap terjaga dan tersimpan rapi di banyak buku-buku Islam sampai saat ini.

Alkisah, pada suatu hari, Sufyan Al-Tsury yang hidup di kota Madinah, datang mengunjungi Imam Ja’far Ash Shadiq r.a. Saat itu dia melihat imam sedang memakai pakaian yang rapi dan sangat elok, bagaikan tabir halus yang memisahkan antara kuning telur dengan putihnya. Sufyan mengkritik, “Anda tidak selayaknya menceburkan diri Anda dalam kemewahan duniawi. Dari Andalah diharapkan ketakwaan, kezuhudan dan sifat menghindari dunia.”

Lalu imam berkata, “Dengar baik-baik hai Sufyan. Akan aku katakan sesuatu yang berguna untuk dunia dan akhiratmu. Apabila engkau keliru dan tidak mengetahui pandangan agama Islam yang sebenarnya tentang perkara ini, maka ucapanku akan betul-betul berguna.  Baca Selengkapnya, Klik Disini >>

Einstein Never Used Flash Cards

oleh Maya A. Pujiati - Testimoni Buku

Tren untuk menciptakan anak-anak yang lebih pintar pada usia dini memang seringkali salah kaprah, berlebihan, dan terkadang ‘menyiksa’ anak-anak. Hal itu terjadi ketika orang tua tidak memahami benar esensi pendidikan dan menjadi kabur dalam memandang tujuan pembelajaran.

Beberapa fakta menunjukkan bahwa anak-anak memang memiliki kecerdasan yang luar biasa, meski tanpa stimulus dari orang tuanya. Berdasarkan fakta itu, sesungguhnya tugas orang tua adalah memberi ruang pada mereka untuk berkembang sesuai kemampuannya dan tidak membatasi mereka untuk mengeksplorasi lingkungan. Tentu saja hal ini tidak berarti bahwa anak-anak harus dibiarkan sendiri menemukan aneka pelajaran, tanpa peran orang tuanya. Persoalannya hanyalah, bagaimana membuat proses pengasuhan tetap seimbang.

Bermain, sebagai sebuah kegiatan alami anak-anak telah menjadi barang mahal. Pada tahun 1981 seorang anak sekolah masih bisa menghabiskan 40 persen waktunya untuk bermain. Tetapi tahun 1997 waktu bermain telah menyusut menjadi 25 persen. Konon setelah itu, 40 persen sekolah di Amerika Serikat telah menghapus jam istirahat.

Bagaimana dengan sekarang? Continue reading

Pentingnya Rileks

Suatu penelitian dilakukan terhadap burung-burung dan kelelawar yang mempunyai ”termostat” (alat pengatur temperatur) dalam tubuhnya, sehingga temperatur tubuhnya dapat disesuaikan dengan suhu sekitarnya.

Para ahli yakin, manusia pun mampu berbuat seperti itu, mendinginkan tubuhnya sekitar 20 derajat Fahrenheit dan mengurangi kerja jantung sampai sepertiganya. Cara itu disebut “hypothermic sleep”, yang telah dipraktekkan oleh suku Indian yang ahli dalam pengaturan nafas untuk membuat sirkulasi dalam tubuh jadi tetap. Dalam tidur sekalipun, jantung kita harus memindahkan sepuluh ton darah setiap jamnya. Dengan “pendinginan” itu beban kerjanya dapat diperingan, sehingga jantung kita bisa lebih tahan lama.

Hypothermic Sleep mungkin merupakan salah satu cara yang meyakinkan bagi manusia untuk dapat memperpanjang umurnya”, kata Dr. Robert Deropp, seorang ahli penyelidik umur manusia. Continue reading

Bagaimana Gaya Belajar Anak Anda?

Albert Einstein kecil suka melamun. Guru-gurunya di Jerman mengatakan, dia tidak akan pernah berhasil di bidang apapun.

Winston Churchill sangat lemah dalam pekerjaan sekolah. Dalam berbicara dia agak  gagap dan cadel. Tapi akhirnya saat dewasa ia jadi pemimpin besar dan orator ulung.

Thomas Alva Edison pernah dipukul di sekolah dengan sebuah ikat pinggang kulit karena gurunya menganggap dia “mempermainkan” karena mengajukan begitu banyak pertanyaan. Dia sering sekali dihukum sehingga akhirnya ia dikeluarkan dari sekolah.

Untunglah ibu Edison adalah seorang perintis proses belajar yang sejati. The World Book Encyclopedia menulis, “Dia memiliki pengertian yang tidak lazim pada waktu itu bahwa belajar dapat menjadi kegiatan yang mengasyikkan. Dia membuat permainan untuk mengajarinya – dia menyebutnya eksplorasi- dunia pengetahuan yang mengasyikkan…”.

Begitulah. Einstein, Churchill, dan Edison ternyata memiliki gaya belajar khas yang berbeda dan tidak sesuai dengan gaya belajar yang diterapkan di sekolah-sekolah mereka. Akibatnya sistem sekolah pun cenderung “menolak” mereka.

Lihat pula anak-anak “nakal” di kelas-kelas kita dahulu. Mereka selalu membuat gaduh, mengganggu teman-teman lain, atau membuat berbagai keonaran. Nilai mereka memang rata-rata di bawah standar. Persoalannya, mengapa mereka gagal?

Amati juga anak-anak kita. Ketika disuruh belajar, dia nggak mau diam. Baru saja duduk, udah melirik ke kiri kanan, lalu loncat dan berlari-lari lagi. Banyak orang tua jadi frustasi dan merasa gagal. Persepsinya, anak-anak ini nggak mau belajar. Susah diatur.

Lain lagi istri saya. Kalau saya mau menjelaskan sesuatu kepadanya, hanya dengan lisan saja, dia langsung protes. “Nggak nangkap” katanya. Baru setelah saya ambil kertas, mencoret-coret maksud saya di kertas dan dia melihatnya, dengan mudah sekali ia memahami maksud saya. Continue reading