PUSTAKA NILNA 

Belajar internet marketing
Loading....
Recent Article links:

Archive for March, 2008

Anda Bersikap Terbuka atau Tertutup?

Sikap terbuka (open mindedness) amat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan komunikasi yang efektif. Lawannya: dogmatisme.

Mari kita lihat bagaimana karakteristik orang yang bersikap terbuka dikontraskan dengan karakteristik orang tertutup (dogmatis) yang saya ramu dari buku Psikologi Komunikasi - nya Jalaluddin Rahmat, dalam daftar berikut ini.

Sifat Orang Yang Terbuka
Pertama, seorang yang bersifat terbuka biasanya menilai pesan secara obyektif, dengan menggunakn data dan keajegan logika.

Kedua, orang terbuka rata-rata lebih mampu membedakan sesuatu dengan mudah, mampu melihat nuansa-nuansa.

Ketiga, orang yang bersifat terbuka lebih banyak berorientasi pada isi (content) ketimbang orangnya, bungkus atau polesan-polesannya. Continue reading

Benarkah Para Pebisnis Hanya “Mengejar Dunia”?

oleh  Nilna iqbal

“Kesengsaraan yang paling sengsara ialah miskin di dunia dan disiksa di akhirat.” (HR. Ath-Thabarani dan Ash-Shihab)

Tak dapat dipungkiri, sampai saat ini masih saja ada beberapa penilaian dan pandangan “miring” sebagian masyarakat Islam, tentang bisnis. Semua pandangan ini, menurut Muhammad Ali Haji Hashim dalam bukunya Bisnis Satu Cabang Dari Jihad, terbitan Pustaka Al-Kautsar, sesungguhnya bersifat antifitrah dan antibisnis.

Pandangan-pandangan negatif itu, antara lain sebagai berikut:

1. Mengejar keuntungan dan harta kekayaan dunia melalui bisnis bertentangan dengan ajaran Islam.

2. Mengejar kesuksesan bisnis tidak harus diutamakan dalam mencari kesempurnaan hidup dunia dan akhirat.

3. Tidak ada hubungan antara bisnis dengan beribadah dan beramal shalih.

4. Bisnis, harta kekayaan dan uang adalah puncak utama segala maksiat dan kepincangan dalam masyarakat.

5. Tidak ada hubungan antara bisnis dengan kewajiban menuntut dan meningkatkan ilmu pengetahuan.

6. Waktu yang digunakan untuk beribadah di masjid (selain ibadah fardhu) lebih bermanfaat dan menguntungkan dibandingkan dengan waktu yang digunakan untuk bekerja menyukseskan bisnis, baik milik perusahaan atau sendiri.

7. Menghadiri majlis ilmu, khususnya ilmu agama, lebih mulia derajatnya daripada bekerja dan mengusahakan bisnis. Asumsinya, tak ada kebaikan dan amal ibadah yang dapat direalisasikan melalui bisnis. Tak ada manfaat ilmu yang bisa diperoleh melalui bisnis. Continue reading

Pernah Sakit Kepala?

Ini betul-betul penyakit yang cukup merepotkan jutaan manusia. Kebanyakan memang, sakitnya cuma sebentar. Tapi juga ada yang kambuh lagi setelah berbulan-bulan atau mungkin bertahun-tahun kemudian.

Sakit kepala ini timbul mungkin oleh berbagai sebab. Misalnya, tumor, infeksi, luka-luka di kepala, tekanan darah tinggi, penyakit mata, infeksi di hidung, kerongkongan, telinga, dan banyak lagi sebab yang lain.

Meskipun demikian, kebanyakan sakit kepala tidak berhubungan dengan kelainan organis. Banyak sebetulnya yang disebabkan oleh migraine (sakit kepala sebelah) atau sesuatu gangguan jiwa seperti ketegangan.

Seseorang jangan sekali-kali menganggap bahwa sakit kepalanya disebabkan oleh sesuatu penyakit yang serius, karena kebanyakan sakit kepala bersifat fungsional dan tidak ada hubungannya dengan perubahan-perubahan organis dalam otak.

Anehnya, otak itu sendiri tidak peka terhadap nyeri. Ini berarti bahwa kebanyakan sakit kepala bukanlah disebabkan oleh sesuatu kerusakan yang sebenarnya dalam otak itu sendiri. Meskipun demikian, suatu ketegangan atau tekanan pada selaput otak atau pembuluh-pembuluh darah yang besar di dalam kepala sudah pasti akan menimbulkan nyeri atau sakit kepala yang hebat. Sesuatu peradangan di dalam kepala, seperti yang terjadi dalam radang selaput otak, akan menyebabkan nyeri yang hebat di seluruh kepala. Tapi, jangan khawatir, sebab-sebab seperti itu jarang sekali terjadi dewasa ini.

Salah satu penyebab sakit kepala yang cukup “berat” adalah pengaruh yang terasa sesudah banyak meminum minuman keras. Minuman keras itu menjadi racun bagi jaringan-jaringan dan langsung mengganggu selaput otak. Ini menyebabkan rasa nyeri di kepala.

Minuman keras juga membesarkan pembuluh nadi di otak. Jelas hal ini menimbulkan nyeri yang serupa dengan sakit kepala sebelah. Karenanya, perawatan terbaik untuk sakit kepala seperti ini hanyalah “mengharamkan” meminum minuman keras ini dalam bentuk apapun jua.

*** 

Perawatan terbaik untuk sakit kepala hanyalah dengan mencegahnya jangan sampai timbul. Sakit kepala sebelah misalnya, selalu timbul dari tekanan dan ketegangan hidup. Hal ini yang menyebabkan sejenis gangguan listrik dalam otak. Dari situlah kesulitan mungkin akan segera merambat ke lambung lalu menjalar ke usus.

Disini akan diberikan beberapa anjuran sebagai upaya perawatan: Continue reading

Latihan Konsentrasi, Yuk!

Kalau Anda ingin berkonsentrasi, usaha yang paling sulit justru memusatkan pikiran itu sendiri.

Tak banyak orang yang mampu mengendalikan pikiran. Apalagi memusatkan segenap perhatian pada satu soal tertentu dengan mengabaikan sama sekali ingatan, pendengaran, perabaan, penglihatan, perasaan, dan semua kegiatan pikiran lain.

Sungguh sulit, memang. Sebab sekalipun tidak dalam keadaan berfikir, pikiran mengadakan kontraksi sendiri. Ia terus mengelana ke mana-mana, seakan-akan kita mengkhayal. Semakin ditekan, semakin mengganggulah pikiran yang tak diundang itu. Pikiran yang setiap detik dipergunakan, rupanya telah terbiasa dengan sikap tak suka diam. Karena itulah pemusatan pikiran memerlukan latihan yang sungguh-sungguh dan penuh kesabaran. Tapi, semua orang pasti mampu melakukannya. Asal mau saja…! Continue reading

Mengatasi Perasaan Malas Dalam Bekerja

oleh: Nilna

Paling tidak  ada enam prinsip yang bisa kita latih dan kita biasakan ketika “rasa malas” dan “perasaan dongkol” mulai merasuki jiwa kita.

Pertama, kalau Anda pada dasarnya sukar dan lambat menyesuaikan diri pada suatu tugas tertentu, maka semakin Anda mengasyiki pekerjaan itu, semakin cepat Anda menjadi “panas” dan gairah. Andapun tumbuh untuk terus melanjutkan pekerjaan tersebut.

Dalam praktek, rasa enggan untuk memulai suatu pekerjaan hanya dapat diatasi dengan sedikit “menahan” hati untuk terus berusaha melanjutkan pekerjaan. Cukup beberapa menit saja. Insya Allah, tak berapa lama kemudian, secara menakjubkan, tiba-tiba Anda merasa betah dan tak lagi ingin menghentikan pekerjaan. Continue reading

Akibat Minuman Keras

oleh: Nilna Iqbal

Alkoholisme merupakan salah satu persoalan masyarakat yang paling genting yang dihadapi oleh dunia kita dewasa ini.

Ia telah terlalu sering membawa kemiskinan, kejahatan, kegagalan dalam perusahaan, dan perpecahan dalam rumah tangga.

Satu dari tiap lima pasien yang dibawa ke rumah sakit jiwa, menderita penyakit akibat terus menerus minum minuman keras. Inilah satu persoalan yang harus diperhatikan oleh setiap orang. Baik mereka yang minum maupun mereka yang tidak minum.

Ada peminum yang minum dengan tetap, sedangkan yang lain minum hanya bilamana mereka di bawah tekanan atau kecemasan. Ada pula yang minum berlebih-lebihan dan merusak diri sendiri dengan cepat. Yang lain pula minum dengan ukuran tertentu, tetapi proses merusak diri sendiri masih berjalan terus. Minuman keras berfungsi sebagai obat penenang saraf  yang lain, dan karena mudah sekali didapat di banyak tempat di dunia, sehingga bahayanya bahkan lebih besar lagi.

Minuman keras sering merusak hati, dan menyebabkan “cirrhosis hepatis”. Minuman keras itu juga menyebabkan “gastritis” atau peradangan selaput lendir lambung. Pengaruhnya pada otak malah lebih nyata pula. Terlalu banyak minuman keras menyebabkan keadaan yang serius yang disebut “oedema” otak, dimana terdapat pembengkakan dan terbendungnya darah yang nyata sekali pada jaringan-jaringan otak, sehingga daya koordinasi yang normal tidak dapat berjalan lagi. Minuman keras melemahkan jantung, sehingga lambat-laun jantung itu tidak lagi bekerja dengan baik. Continue reading

Ternyata Perasaan Tenang Itu Juga Berbahaya

Ada satu persoalan yang akhir-akhir ini mengganggu saya. Tanpa saya sadari, selama ini saya telah terbuai oleh kesibukan sehari-hari dan merasa tenang-tenang saja dengan urusan agama. Urusan yang sangat penting sebenarnya. Hari ini barulah saya “ngeh” ternyata perasaan tenang itu sangat berbahaya. Bagaimana tidak? Karena merasa aman, saya pun lengah terhadap mara bahaya. Karena merasa terlindungi, saya pun kurang berjaga-jaga. Karena merasa benar, saya pun jarang bertaubat. Karena merasa udah menjalankan ibadah rutin, saya pun jarang menyucikan diri.

Apakah Anda juga pernah mengalaminya? Entahlah, yang jelas, biasanya perasaan seperti ini memang tidak disadari secara sengaja.

Tapi mari kita mencoba merenung sejenak. Mari mari kita menelaah apa yang selama ini tanpa sengaja telah kita percaya dan kita lakukan secara otomatis begitu saja? Pernahkah kita mempertanyakan paradigma-paradigma yang selama ini kita pegang teguh? Apakah paradigma kita itu sudah benar? Mempelajari secara mendalam keyakinan-keyakinan kita? Mempertanyakan kebenaran ibadah-ibadah kita? Memeriksa kembali sikap-sikap mental kita? 

Ah itulah memang masalahnya. Kita nggak sempat lagi. Sibuk oleh rutinitas kantor, urusan kuliah, cari uang, mengurus anak dan istri. Setiap hari berlalu dalam lingkaran yang sama dan mesin kehidupan itu terus berputar-putar meninabobokkan kita sampai akhirnya tak kita sadari, umur kita udah makin tua.

Tanpa saya sengaja secara sadar, jangan-jangan sebenarnya selama ini saya beragama itu hanya ikut-ikutan saja, mewarisi kebiasaan-kebiasaan yang telah dilatih sejak kecil. Saya merasa terpukul sekali tak mampu menjawab pertanyaan ini. Apakah saya benar-benar mengenal Allah SWT? Seberapa banyak yang saya tahu tentang Tuhan? Apakah ketika saya shalat, saya membayangkan “wajah” Tuhan? Wajah seperti apa yang dibayangkan? Jangan-jangan selama ini setiap saya shalat sebenarnya saya tengah menyembah Tuhan yang berbeda, Tuhan yang kita reka!

Ketika mengucapkan “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin“, apakah saya mengucapkannya datar, cepat atau mungkin sambil menguap? Adakah perasaan bahwa saat itu sedang berada di hadapan-Nya, dan memohon, “Hanya pada Mu ya Allah kami beribadah, hanya kepada Mu ya Allah, kami memohon pertolongan.” Apakah benar itu permintaan saya? Mengapa rasanya biasa-biasa saja?

Ketika mengakhiri shalat, saya pun mengucap salam, “Assalaamu’alaika  ayyuhan nabiyyu wa rahmatullahi wabarakatuh“. Mengapa saya tak menyadari bahwa saat itu saya sedang mengucapkan salam kepada baginda Rasulullah SAW, yang saat itu juga pasti beliau membalas salam saya? Bukankah saat itu tengah berada dalam sebuah majlis yang dihadiri oleh Rasulullah saw dan ruh-ruh suci lainnya? Mengapa saya abaikan pertemuan-pertemuan indah itu?

Ya Allah, sungguh selama ini kami telah banyak menzalimi diri kami. 

Tapi mengapa kok saya masih tetap saja merasa tenang? Seolah-olah sudah yakin sekali bahwa akhir dari hidup yang singkat ini pastilah surga? Kenapa saya begitu yakin? Apakah karena sudah melakukan shalat 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, naik Haji, berzakat, melakukan amal-amal shaleh, lalu kita merasa tenang dan yakin bahwa Allah ridha dengan kita? Continue reading