PUSTAKA NILNA 

Belajar internet marketing
Loading....
Recent Article links:

Archive for February, 2008

Ketika Nasruddin Dituduh Subversif

Suatu hari Mulla Nasruddin dipanggil ke istana raja. Disana sudah berkumpul para filsuf, ahli ilmu mantik, dan ahli hukum. Mereka berkumpul untuk menginterogasi Nasruddin. Perkaranya sudah dianggap sebagai sebuah kasus yang amat serius.

Persoalannya adalah Nasruddin sering datang ke berbagai tempat dengan meneriakkan satu khutbah yang sama. Dalam berbagai khutbah itu, ia menyebut orang-orang berilmu, seperti para filsuf, sebagai orang yang bodoh, kebingungan dan tak bisa mengambil keputusan. Tentu saja, ceramah Nasruddin ini dianggap subversif dan mengganggu ketertiban negara.

Singkat cerita, mereka yang merasa tersinggung meminta raja untuk mengadili Nasruddin. Digelarlah sebuah pengadilan dengan Nasruddin sebagai terdakwa tunggal. Continue reading

Kiat Menulis Untuk Media Massa

oleh: Nilna Iqbal

Sebuah tulisan untuk media-massa sebenarnya tidak selalu harus benar-benar “tulisan pribadi” atau yang sering kita bayangkan sebagai karya asli/original, meluncur dari kata-kata sendiri, buah pikiran asli, murni.

Ada memang jenis naskah yang lebih enak ditulis dengan cara “mengarang“, yaitu yang keluar dari hati nurani atau pikiran sendiri. Misalnya saat menulis surat pribadi atau surat pembaca, menulis cerita, menulis essay/opini, menulis hasil pengamatan, pengalaman atau observasi.

Akan tetapi untuk tulisan jurnalistik, cara “ngarang” ini biasanya belum pas sebagai naskah jadi. Kekuatan naskah karya jurnalistik sebenarnya terletak pada “isi atau materi” alias substansi. Dan hal ini tidak mungkin dihasilkan hanya mengandalkan pikiran sendiri apalagi melulu suara hati penuh emosi. Pembaca berita tidak akan peduli dengan pikiran anda, juga perasaan anda. Yang mereka mau, fakta-fakta apa yang anda temukan dan laporkan. Yang perlu kita fokus ya pada fakta-fakta itu.

Jadi, kalau mau menulis untuk media-massa, rahasianya : BAHAN! Skill menulis apapun yang anda miliki saat ini, pakai sajalah. Asal bisa menulis kalimat yang orang lain mengerti, sudah cukup itu. Soal bagus atau jelek, biarkan saja. Ntar juga diperbaiki sama editor/redaktur, asalkan memang isinya “layak terbit”. Sambil terus berjalan, saking seringnya menulis, lama-lama skill atau cara kita menulis itu akan baik juga secara otomatis. Akan berlaku teori “kuantitas akan melahirkan kualitas“. Continue reading

Happy or UnHappy is A Choice

oleh: Nilna Iqbal

Hidup, selalu berhadapan dengan masalah.
Berani hidup berarti harus berani pula menghadapi macam-macam masalah.

Seorang motivator ulung, Skipp Ross dalam salah satu seminarnya ‘Say Yes To Your Potential’ di Jakarta beberapa tahun lalu menekankan betapa kuatnya pengaruh pikiran terhadap seluruh ‘jiwa’ hidup kita. Termasuk hal-hal yang menyebabkan kita merasa bahagia, merasa sengsara, bakal sukses, ataupun bernasib gagal.

‘Semua itu hanya permainan pikiran kita saja’, katanya. Tergantung bagaimana cara kita ‘menyetel’ pikiran-pikiran kita. Gelombang apa yang kita kirimkan, gelombang apa yang kita terima, kita sendirilah ‘bos’-nya.

Untuk setiap situasi, hanya ada dua kemungkinan yang bakal terjadi. Ada situasi yang bisa kendalikan, ada pula situasi yang tidak bisa kendalikan. Umumnya kejadian-kejadian fisik yang menimpa kita memang tidak bisa kendalikan. Akan tetapi, banyak sekali situasi dimana pikiran kita sendiri bisa mengendalikannya terutama hal-hal yang sifatnya emosional. Misalnya menghadapi masalah, stress terhadap bisnis dan pekerjaan, senang atau menggerutu, puas atau tidak, rasa menerima atau menyesal, semua ini sebetulnya tergantung ‘penyetelan’ pikiran kita. Pilihannya ada di ‘kita’.

Skipp Ross mengatakan, ‘Happy or Unhappy is A Choise’. Merasa bahagia atau merasa sengsara, itu adalah pilihan bebas kita. Tapi yang pasti, adalah jauh lebih bijaksana jika kita (pikiran kita) memilih bahagia. Untuk setiap situasi, secara terus-menerus, setiap jam, setiap hari. Jadi ‘kita’lah yang menentukan. Kita-lah yang memilih. Continue reading

Sekolah lagi, Yuk!

Sudah 18 tahun saya tidak lagi “belajar” dalam arti belajar secara serius atau menimba ilmu secara mendalam. Saya yakin pasti banyak juga teman-teman lain yang setelah selesai kuliah, lalu bekerja atau berbisnis, sudah “tersedot” waktu dan energinya, dan tak pernah lagi “belajar”. Alasan apapun yang dikemukakan saya percaya, itu benar. Saya juga selalu saja bisa menemukan alasan-alasan yang “membenarkan” sikap itu.

Pertanyaan yang paling penting memang, “Buat apa sekolah lagi? Bukankah sudah cukup kita belajar dari buku-buku yang kini tersebar dimana-mana? Apapun bidang yang ingin kita pelajari, ada bukunya. Lagi pula belajar dalam bidang profesi atau usaha yang sedang digeluti toh masih tetap dilakukan, baik lewat seminar-seminar atau belajar sendiri.”

Oke lah itu memang sudah kita lakukan. Tapi, yang saya maksud justru belajar dalam arti yang lebih terstruktur, mendalam, melepaskan dahaga kita akan ilmu. Seperti dulu kita sekolah atau kuliah sampai bertahun-tahun lamanya.

Bedanya, dulu saya kuliah kurang termotivasi. Saya lebih peduli dengan nilai dan target-target prestasi lainnya. Karena itu saya lebih banyak belajar cara SKS aja. Sistem Kebut Semalam. Besok mau ujian, sekarang sampai subuh baru belajar mati-matian.

Akibatnya tak banyak “ilmu” yang saya peroleh, kecuali hanya kulit-kulitnya aja. Tapi saya juga tidak peduli. Bahkan mungkin sebagian besar pelajaran yang saya peroleh dulu waktu sekolah atau kuliah, sekarang sudah hilang semua.

Tetapi akhir-akhir ini, saya sering sekali gelisah. Ada “jeritan batin” yang senantiasa mengganggu. Ketika mencoba merenungkan kembali makna-makna hidup yang dijalani, rasanya banyak sekali waktu yang terbuang percuma. Setiap hari, kita sibuk terus dengan urusan-urusan sesuap nasi pengisi perut.

Padahal tubuh kita ini ‘kan ada tiga: perut, otak, dan hati. Tiga-tiganya juga perlu “makan”. Makanan perut, oke lah itu sudah kita lakukan setiap hari. Tetapi makanan otak, apa? Makanan hati, apa? Apakah kelaparan dan kehausan otak dan hati kita ini tidak pernah kita “peduli”? Continue reading

Kecemasan Di Bawah Sadar

Kalau seseorang gagal membentuk citra-diri dan konsep diri-nya, apa sih yang akan terjadi?

Psikolog James Marcia, setelah melakukan study cukup mendalam tentang persoalan ini sampai kepada kesimpulan, ‘akan terjadi kekaburan identitas‘ pada diri mereka. Psikolog lain, Erikson, malah menambahkan; orang itu bisa jadi gagal menuju kedewasaannya. Ia akan terus terlunta-lunta dalam ‘pencarian-diri’ yang berkepanjangan dan kacau balau.

Akibat lainnya, akan muncul perasaan cemas. Yang anehnya, perasaan “cemas” itu nggak kerasa. Cemasnya lain, bukan cemas, sembarang cemas, semacam “cemas di bawah sadar“. Karena itu, wajahnya sih akan biasa-biasa aja. Tapi tengoklah tingkah-lakunya sehari-hari.

Richard Logan, juga seorang psikolog, berhasil menunjukkan beberapa mekanisme ‘pertahanan-diri‘  yang dilakukan seorang untuk mengurangi kecemasan akibat kekaburan identitas yang tengah dialaminya. Semacam kompensasi. Inilah dia: Continue reading

Ketika Penundaan Menciptakan “Penjara”

oleh : Maya A Pujiati - Insight Area

Setumpuk pekerjaan menantang kita di setiap waktu. “Itulah bukti bahwa kita masih hidup”, begitu kata beberapa orang yang mencoba menghibur diri.

Bagi seorang ibu rumah tangga seperti saya, pekerjaan yang paling sering menumpuk adalah perabotan dan pakaian kotor. Sampai tak habis pikir, mengapa dua hal ini tak pernah ada habisnya. Terlebih, saya merasa bahwa tanpa solusi yang jitu, keduanya terlalu sering memenjarakan saya, membuat saya tak bisa melakukan pekerjaan yang lebih produktif, termasuk menemani anak-anak bermain. Ya, karena saya sudah terlalu lelah.

Semua sedikit berubah ketika suatu malam, sehabis sholat Isya, di bawah pengaruh dua gelas kopi yang saya minum pagi dan sore hari, saya membuka-buka buku yang agak aneh, Berpikir ala Einstein: Think like A Genius. Buku itu hasil coretan Todd Siler, seorang Doktor di bidang psikologi dan seni. Terima kasih untuk penerbit Kaifa yang sudah berani menerbitkannya di Indonesia.

Sebuah gambar pada halaman 103 buku itu, melukiskan 4 keadaan pikiran: pertama adalah TAK AKAN SELESAI, kedua TAK AKAN BISA SELESAI KALAU SEKARANG, ketiga TOH SUDAH TERLAMBAT UNTUK MENYELESAIKANNYA, dan yang keempat UNTUK APA MENYELESAIKAN APAPUN?. Paling menarik dari semua kata-kata tersebut adalah sebuah judul yang menegaskan ide besar gambar itu: MENUNDA ADALAH MENGISI WAKTU. Continue reading