PUSTAKA NILNA 

Belajar internet marketing
Loading....
Recent Article links:

Archive for November, 2007

Efek-efek dosa: Mengapa saya tak mampu melihatnya?

oleh: Nilnaiqbal 

Seandainya saya bisa melihat langsung efek dari sebuah perbuatan dosa, tentu saya akan berusaha menghindarinya.

Seperti layaknya kita menghindari panasnya api, sebab kita tahu persis apa akibat yang bakal ditimbulkannya.

Saya tertarik dengan salah satu contoh dalam ayat 12 surat al-Hujurat, mengenai larangan Al-Qur’an untuk tidak melakukan ghibah, bergujing dan mencari-cari kesalahan orang lain. Pada bagian sambungan ayat itu dikatakan,  “Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (Q.S. al-Hujurat : 12)

Mengapa saya tidak bisa melihat efek dosa seperti yang dimaksud ayat itu? Mengapa ketika menggunjing orang lain, mata batin saya tak mampu melihat atau merasakan sedang memakan daging saudara saya yang telah mati?

Sejak lama saya juga tertarik dengan statement Al-Qur’an yang berbunyi, “Lau ta’lamuna ilmal yaqîn“, yang artinya kurang lebih niscaya kamu akan mampu menyaksikan neraka dan penduduknya itu dengan penglihatan batin. Baca selengkapnya…

Kata-Kata Kita Adalah Mantera

Dalam bukunya “De grondsla-gen van Uw Succes”, WJ Brown menulis, “Kehidupan batin manusia ibarat gunung es: 1/3 bagian nongol ke permukaan laut, sedang 2/3 lainnya tak kelihatan, tersembunyi di bawah permukaan air”. 

Manusia selalu berfikir. Ia senantiasa berusaha agar setiap hal yang ia lakukan diurus secara sadar, sepenuhnya. Namun tak semua kehendak mudah dicapai. Pada waktu-waktu tertentu, manusia sering dipengaruhi oleh sesuatu yang “gaib”, bawah sadar.

Misalnya? Kita sering tertarik pada seseorang. Tapi kita tak bisa menerangkan kenapa, hal apa yang menyebabkan timbulnya perasaan semacam itu. Atau suatu ketika, tiba-tiba muncul suatu perasaan tidak enak, gelisah, hingga jantung pun berdebar-debar. Kita tak mampu menjelaskan, kenapa demikian. Tahu-tahu beberapa saat, atau beberapa hari setelah itu, kejadian tak diinginkan betul-betul menimpa. Dari kondisi semacam itu terbukti, kekuatan bawah sadar dalam diri kita sedang bekerja. Continue reading

Semakin Cerdas, Semakin Panas

“Kalau Einstein lagi berpikir keras
maka ia pun terserang demam…….!”

Sensasi ini selalu ditiup- kobarkan oleh beberapa suratkabar, tatkala ahli fikir Fisika Matematika ini mulai ramai diperbincangkan orang. Namun bagi para fisiolog dan psikolog, hal itu tidak begitu mengejutkan.

Banyak para pemikir yang tekun, cepat menjadi panas dalam pekerjaannya. Siswa-siswa yang cerdaspun, badannya lekas panas, ketika perhatian telah tertumpu sepenuhnya pada suatu persoalan baru yang menarik hatinya. Makin pintar, makin panas. Makin Bodoh, makin dingin………!

Timbul pertanyaan, apa yang akan kita lakukan seandainya ternyata badan tak mau panas dengan sendirinya, sewaktu menghadapi suatu pekerjaan? Perlukah digosok-gosok terlebih dahulu seluruh permukaan badan supaya panas ? Ataukah pasrah begitu saja menerima kenyataan pahit bahwa memang kita ini bodoh seumur hidup dan dingin?

Berbagai jawaban dilontarkan orang. Tapi jawaban-jawaban tersebut sarat dengan berbagai kekecualian. Continue reading

Memilih Mainan Anak

oleh: Maya A. Pujiati

Anak balita tanpa mainan? Hal itu jelas mustahil. Anak hidup dengan bermain dan belajar juga lewat bermain.

Membiarkan tangan anak kosong tanpa satu pun benda dipegangnya untuk dimainkan hanya akan menjadi bumerang bagi orang tua. Rewel dan uring-uringan sangat mungkin terjadi. Lebih parah lagi jika kemudian mereka beralih menjadi “TV mania”, yang kuat berjam-jam di depan televisi, sementara tayangannya belum tentu sesuai dengan usia mereka.

Namun di tengah membanjirnya produksi mainan anak, orang tua juga ternyata perlu selektif memilihnya. Beberapa kriteria perlu diperhatikan agar mainan yang kita berikan pada anak-anak memiliki nilai manfaat dan juga aman bagi mereka.

Berikut ini kriteria mainan dan permainan anak yang bisa menjadi acuan bagi orang tua. Baca selengkapnya~!

Ketika Putus Asa, Tolonglah Orang Lain

Kita berjuang bukan dengan kepandaian tetapi dengan kegigihan” -(George H. Mathason)

Kita semua ingin sekali jadi orang sukses. Tapi sayang sukses tidak pernah datang secara mudah begitu saja. Bukan sukses namanya kalau segala sesuatu tampak lancar-lancar saja tanpa pernah mengalami hambatan, rintangan dan kegagalan.

Sukses memang harus kita perjuangkan. Ada “harga” yang harus kita bayar. Kadang bahkan sangat mahal. Akan tetapi bagi siapapun juga yang mau memperjuangkannya, berani membayar harganya, suatu saat ia pasti sukses. Siapapun ia!

Salah satu tantangan yang sangat pahit yang harus kita lalui, lebih-lebih ketika terpuruk dalam kegagalan-demi-kegagalan adalah rasa putus asa. Perasaan ini sering sangat  menentukan sekali pada keputusan untuk melangkah selanjutnya. Jalan terus, atau ya sudah, stop saja. Quit!

Memang betul, kita semua tidak akan pernah bisa menghindar dari kegagalan. Tetapi ingat, menghindar dari rasa putus asa adalah sangat-sangat mungkin. Soal pilihan saja. Soal sikap dan attitude saja.

Kegagalan merupakan sesuatu dari dari LUAR DIRI kita, yakni sebuah kenyataan bahwa kita tidak berhasil mencapai target yang telah kita tentukan. Lain halnya dengan putus asa. Ini merupakan sesuatu yang berasal dari DALAM DIRI kita, sikap mental kita. Oleh sebab itu seharusnya ia bisa kita kendalikan.

Di dalam diri kita, benih-benih rasa putus asa itu memang ada. Masalahnya adalah apa yang harus kita perbuat jika rasa putus asa itu melanda kita. Continue reading

Masa Depan Keluarga Kita (bag-2, habis)

Siklus hidup kita saat ini sedang mengalami akselerasi. Kita tumbuh lebih cepat, meninggalkan rumah lebih segera, dan kawin lebih dini.  

“Kita memperkecil jarak berbagai peristiwa itu dan merampungkan periode sebagai orang tua secara lebih cepat,” kata Dr. Bernice Neugarten, seorang spesialis perkembangan keluarga dari Universitas Chicago. 

Kekuatan yang kelihatan paling besar kemungkinannya akan menggoncangkan keluarga dalam dasawarsa mendatang adalah dampak teknologi kelahiran yang baru. Kemampuan untuk menentukan terlebih dahulu kelamin bayi, bahkan “memprogramkan” IQ-nya, wajahnya, dan ciri kepribadiannya, kini harus dianggap sebagai suatu kemungkinan yang nyata. Penanduran embrio, bayi yang hidup invitro, kemungkinan untuk dengan minum pil saja pasti akan mendapat anak kembar dua atau tiga, atau bahkan kemungkinan untuk memasuki sebuah “babytorium” dan benar-benar membeli sebuah embrio, semua ini demikian jauh melampaui pengalaman manusia, Continue reading

Masa Depan Keluarga Kita (bag - 1)

 “Keluarga telah mati, kecuali pada tahun pertama atau tahun kedua selama mengasuh anak.” (William wolf - psikolog) 

Para kritikus sosial sedang punya kesempatan baik berspekulasi tentang masa depan keluarga. “Keluarga akan mendekati titik kepunahan total,” kata Ferdinand Lunberg, pengarang The Coming World Transformation.

Dulu, ikatan keluarga amat mesra. Kekerabatan pun berlangsung sepanjang usia. Ayah, ibu, kakek dan nenek tiap hari kumpul bersama. Hidup damai, tenteram, tak tergesa-gesa. Itulah ciri peradaban masyarakat pertanian setiap negara.

Lalu masuk era industrialisasi, berubahlah suasana. Hubungan manusia dengan tempat pemukiman terancam sirna. Manusia pun mulai menjalani kehidupan serba keras, lapar, berbahaya, dan mengelana. Tapi kendati demikian, fungsi rumah (meski hanya sebuah gubuk) tetaplah jadi tempat berlindung utama.

Kepustakaan penuh dengan petunjuk yang baik tentang pentingnya rumah. “Seek home for rest, for home is best.” Carilah rumah untuk istirahat, sebab rumah itu paling ramah. Begitu nasehat Thomas Tussers dalam Instructions to housewifery, sebuah buku petunjuk abad ke-16. Yang lain lagi, “A man’s home is his castle …” (rumah seseorang adalah istananya).  ”Home, sweet home …” (rumahku, rumah yang manis). Begitu mesra hubungan manusia dengan rumahnya.

Lalu datang industrialisasi modern. Ia kian menuntut adanya massa pekerja yang siap dan mampu meninggalkan tanahnya untuk mencari pekerjaan dan pindah tempat berkali-kali. Ini berbeda sekali dengan masyarakat tani yang cenderung menetap menetap untuk jangka waktu yang lama. Revolusi industri mulai merenggangkan kasih mesra manusia dengan tempat tinggalnya.

Akibatnya, keluarga besar (extended family) termasuk di dalamnya ayah, ibu, anak, paman, bibi, kakek dan nenek, sedikit demi sedikit terpaksa “merampingkan tubuhnya”. Timbullah apa yang dinamakan “keluarga inti” (nuclear family). Itulah dia, suatu unit keluarga yang ringkas, portable (mudah dibawa) kemana-mana. Ia hanya terdiri dari suami, istri dan sejumlah kecil anak mereka. Keluarga ini, yang jauh lebih mobile sifatnya dari keluarga besar tradisional, jadi model standar di semua negara. Continue reading

Sekolah Calon ‘Orang Tua’

oleh: Maya A. Pujiati 

Menjadi orang tua seringnya hanya akibat alamiah, karena sebuah pasangan menikah dan kemudian punya anak. Oleh karena itu, persiapan untuk menjadi orang tua mungkin hanya sedikit orang yang melakukannya dengan matang sebelum menikah.

Kejutan demi kejutan saat pertama kali menjadi ayah atau ibu seringkali tak terbayangkan sebelumnya. Pada beberapa pasangan kejutan-kejutan tersebut bisa dilalui dengan lebih santai karena mereka sudah memiliki dasar-dasar pengetahuan sebelum anak lahir. Akan tetapi, pada banyak pasangan, ternyata mengahadapi anak-anak, terlebih untuk mendidik mereka cukup membuat repot karena mereka sangat awam tentang hal tersebut.

Bagaimana mengatasi persoalan itu? Mari baca selengkapnya disini…

Mengamati Gaya Belajar Anak

oleh: Maya A. Pujiati

Pernahkah kita mencari tahu, mengapa ada anak yang bisa duduk diam dan ada pula anak-anak yang tak pernah berhenti bergerak; ada anak yang suka mendengarkan cerita tapi ada juga yang lebih suka membaca buku atau melihat-lihat gambar.

Selama ini, khususnya di sekolah formal, hal-hal semacam itu mungkin hanya dijadikan catatan, namun tak membuahkan gagasan untuk menerapkan model belajar yang paling sesuai untuk setiap anak yang berbeda tersebut.

Bagi para pendidik rumahan alias orang tua, mengamati gaya anak-anak dalam beraktivitas tidaklah sulit.Namun tahukah kita bahwa gaya setiap anak dalam beraktivitas adalah cerminan dari gaya belajar mereka. Oleh karena itu, jika kita sudah bisa mendeteksi kecenderungan mereka dalam beraktivitas, hal itu akan sangat membantu kita dalam memilih model belajar paling tepat bagi mereka. Selengkapnya baca disini!