PUSTAKA NILNA 

Belajar internet marketing
Loading....
Recent Article links:

Archive for July, 2007

Keluar dari zona kenyamanan

oleh: Nilna Iqbal

Berani berubah.
Berani keluar dari zona kenyamanan (comfort zone).

Rupanya itulah salah satu resep orang-orang sukses. Bagaimanapun kondisi mereka, kekurangan mereka, kelemahan mereka, semua itu tidak menjadi sebuah kendala.

Lihatlah Julius Caesar, meski menderita epilepsy, ia berhasil menjadi seorang jenderal dan kemudian menjadi kaisar. Lalu juga Napoleon, walau berasal dari keluarga sederhana, juga berhasil menjadi jenderal. Bethoven bahkan menulis beberapa lagu terbaiknya justru sesudah telinganya tuli sama sekali. Atau Charles Dickens yang menjadi novelis Inggris terbesar meski kakinya pincang dan lahir dari keluarga yang sangat miskin. Atau Milton yang menggubah sajak-sajaknya yang paling indah bahkan sesudah ia menjadi buta.

Orang-orang ini sanggup mengubah kekalahan jadi kemenangan, kekurangan jadi prestasi. Itulah orang-orang yang yakin bahwa keunggulan, kemenangan, keberhasilan dan kejayaan adalah fungsi garis lurus dari kemauan dan keberanian untuk berubah. Semua memang bergantung bagaimana sikap pikiran kita menghadapi gejolak kehidupan.

Apakah benar kita sudah berubah? Apa tanda-tandanya? Jika benar kita sudah melakukan perubahan, biasanya kita akan mengalami situasi yang tidak nyaman. Karena setiap perubahan pasti menuntut kita keluar dari zona kenyamanan (comfort zone). Itulah sebabnya tidak banyak orang yang benar-benar menyukai perubahan. Sebab untuk berubah ke arah yang lebih baik, biasanya memang tidak gratis dan memang tidak nyaman. Ada ‘harga’ yang harus kita bayar! Entah itu pengendalian sikap kita, pengorbanan waktu kita, fokus pikiran kita, bahkan terkadang bisa jadi terimbas juga pada keluarga kita.

Berubah berarti keluar dari kebiasaan-kebiasaan lama, membentuk kebiasaan-kebiasaan baru. Berhenti bekerja dengan cara-cara lama (yang biasanya sudah rutinitas), lalu terpaksa belajar lagi untuk bisa bekerja dengan cara-cara baru (tentu saja ini tidak terlalu nyaman). Akan tetapi, siapapun yang mau melakukannya, dan bersedia untuk keluar dari zona kenyamanannya, insyaAllah 99,9% pasti akan berhasil melaluinya. Sedang mereka yang masih dikuasai bisikan untuk menentang perubahan, dengan tetap mempertahankan kebiasaan-kebiasaan lama pasti akan tergilas, tertinggal, dan gagal.

Untuk mendapatkan hasil yang berbeda, lakukanlah dengan cara yang berbeda. Untuk mengubah nasib ya berubahlah. Kalau kita kita mau mengubah arah, kita akan berakhir di tempat yang sama.

Memang yang paling sulit adalah mengubah sikap atau attitude kita. Betapa tidak, selama ini kita sangat suka dan nyaman dengan sikap itu. Lalu tiba-tiba kita harus mengubah sikap-sikap yang biasanya kita suka itu menjadi sikap-sikap baru! Kalau selama ini kita tergolong orang yang senang dilayani, tentu tidak mudah untuk segera berubah menjadi manusia baru: suka melayani. Kalau kita terbiasa tidur sampai matahari terbit, tentu tidak mudah untuk bangun shalat malam. Kalau biasanya kita begitu mudah tersinggung bahkan naik pitam, tentu sedikit lebih sulit untuk menjadi lebih sabar. Kalau kita takut melakukan sesuatu yang baru, tentu sulit untuk segera memulainya, sehingga selalu saja ada ribuan alasan untuk terus menundanya.

Berubahlah. Tinggalkan zona kenyamanan. Memang akan ada tekanan dari berbagai arah. Ada banyak pergolakan batin. Ada banyak keluhan atas berbagai kesulitan. Akan banyak gejolak emosi yang menghimpit. Tapi itu adalah sebuah keniscayaan. Suatu jalan yang mau tidak mau terpaksa harus kita tempuh. Itulah sebuah pertanda jalan yang kita tempuh memang benar. Tidak mudah memang. Tetapi teruslah berjalan….

Jangan pernah merasa matang

oleh: Nilna Iqbal

“Selalulah merasa hijau. Jangan pernah merasa matang.
Sebab jika sudah merasa matang, yang tinggal hanya busuknya ….”

Ini masalah sikap. Sikap untuk mau berubah, sikap untuk mau berkembang.

Dalam menghadapi berbagai keadaan, umumnya kita cenderung berharap, orang lainlah yang berubah, lingkunganlah yang berubah, situasilah yang berubah. Saya tidak!

Kalau skripsi nggak beres-beres kita berharap dosen mau “baik hati”. Jika bisnis mulai bangkrut, yang salah selalu karyawan, saingan bahkan juga produk. Kalau banyak kader nggak bergerak, kita mulai “meragukan” komitmen mereka. Pokoknya “mereka” lah yang perlu berubah! Mereka perlu menyesuaikan diri dengan “pikiran atau kehendak kita”.
Mengapa bisnis yang kita lakukan selalu harus berakhir dengan kegagalan. Mengapa puluhan lamaran kerja saya selalu tak memperoleh jawaban? Mengapa istri saya belum juga mau berhenti mengkritik saya? Mengapa suami saya masih saja pulang terlalu malam? Mengapa? Mengapa?

Apa yang salah? Apa rahasianya bisa mengubah orang lain? Berbagai buku kita pelajari. Berbagai diskusi dilakukan, untuk mencari tahu resep mujarab: Bagaimana Caranya Mengubah Orang Lain!!!

Seorang suami ingin sekali mengubah istrinya menjadi seperti yang ia impikan. Sementara istri pun mati-matian berusaha mengubah suaminya menjadi “sang suami idaman” . Seorang pedagang sering ragu memulai bisnisnya, lalu bersikap menunggu sampai situasinya berubah seperti yang ia inginkan. Dan umumnya kita pun banyak bersikap menunggu tak mau melakukan apa-apa sampai akhirnya “keputusan” itu datang. Begitulah kita. Semua kita ingin lingkunganlah yang berubah. Dunialah yang berubah. Orang lainlah yang berubah.
Akan tetapi sekalipun sudah begitu banyak upaya yang kita lakukan untuk mengubah seseorang dan situasi, telah berhamburan program dan biaya diluncurkan, mengapa tak juga berhasil apa yang kita lakukan?

Mari sejenak kita berhenti menginginkan orang lain berubah. Bukalah pintu hati-bersih kita, dan mari belajar lebih banyak dari Rasulullah yang telah amat sukses berkat bimbingan Allah. Amati lebih teliti bagaimana beliau “mengubah manusia” dan bahkan mengubah dunia.

Beliau mempraktekkan langsung sikap “Ibda’ binafsik” …Mulailah dari dirimu! Mulailah dari cara berpikirmu. Mulailah dari cara kerjamu. Mulailah dari Sikapmu!

Kita dulu yang harus berubah. Bukan orang lain. Bukan situasi. Bukan lingkungan. Selama ini kita cenderung menginginkan orang lain lah yang berubah. Inginnya rumah kita yang berubah. Inginnya teman-teman kita yang berubah. Inginnya struktur organisasi berubah. Inginnya situasi berubah. Inginnya semuanya …. selain diri kita.

Selama cara berpikir kita tidak pernah kita ubah, cara kerja kita tidak kita ubah, cara kita memimpin tidak kita ubah, cara kita mengkader tidak kita ubah, cara kita membangun tim-kerja tak kita ubah, maka sampai bertahun-tahun ke depan pun, tidak perlu heran ketika hasilnya pasti tetap sama. Sekalipun kita lakukan berulang-ulang, bertahun-tahun…… Pertumbuhan nol atau bisa jadi bahkan negatif.

Perubahan hanya akan terjadi lewat proses belajar. Sikap untuk selalu mau belajar adalah satu-satunya sikap penting agar seseorang mencapai puncak keberhasilan. Dalam keadaan bagaimana pun seseorang memulai tangga kehidupannya, di level apapun latar belakang pendidikannya, setiap orang yang mau belajar dan mau berkembang …. maka sesungguhnya ia sedang menaiki tangga keberhasilannya sendiri.

Sikap untuk selalu mau belajar, mau diajar, mau berkembang sering disebut sikap teacheable, dengan siapapun orangnya, apapun latar belakangnya. Mereka yang paling teacheable, maka mereka-lah yang paling cepat menaiki tangga kesuksesannya, di bidang apapun.

Sebuah organisasi akan tak terbatas pertumbuhannya jika sikap “teacheable” ini mendarah daging menjadi kebiasaan (budaya) organisasi tersebut. Tak ada istilah berhenti belajar. Fokus seluruh sistem adalah “pembelajaran”. Besar atau kecilnya suatu organisasi akan lebih banyak ditentukan oleh seberapa banyak orang-orang teacheable di dalam organisasi tersebut.

Semakin banyak anggota yang teacheable dalam organisasi, maka akan lahir banyak kader. Jika banyak kader yang terus belajar dan mengasah kemampuan memimpin mereka, maka akan lahir banyak leader (pemimpin). Tak heran jika kemudian organisasi itu akan mengalami pertumbuhan dahsyat tak terbatas secara amat luar biasa. Sebabnya satu, sikap mau belajar tanpa pernah merasa matang, di level apa pun jabatan dan tingkatannya,

Kita sendiri melihat bagaimana sikap ini tumbuh demikian pesat di kalangan para sahabat Rasul. Mereka melakukannya dengan cara menduplikasi (meniru) Rasul. Mereka belajar dari beliau tanpa berhenti. Diantara para sahabat saling belajar dan mengajar. Mereka mengamalkan amanat Rasul, “Sesungguhnya Belajar itu wajib hukumnya baik bagi laki-laki maupun perempuan” . Apa yang terjadi kemudian? Organisasi yang beliau pimpin, dalam waktu yang amat spektakuler mampu mengubah dunia!

Belajar memang tidak mudah. Bahkan untuk selalu konsisten memiliki sikap belajar, memang luar biasa sulit. Kita harus mau mengantongi ego kita. Baru kita akan punya sikap belajar yang luar biasa. Belajar dari orang diatas kita, itu sih biasa-biasa saja. Namun maukah kita belajar dari musuh kita, belajar dari bawahan kita, belajar sesama kita, belajar dari saingan kita. Itu memang tidak mudah. Tapi itu bukan berarti tidak bisa!

“Untuk mendapatkan hasil yang berbeda, lakukanlah hal yang berbeda”, itu rahasianya. Karena itu, mari kita selalu berubah (berkembang lewat proses belajar tanpa henti). Maka insyaAllah, orang-orang yang kita sayangi, orang-orang yang kita pimpin, perlahan tapi pasti, mereka pun akan berubah!

People Skill - belajar memahami orang lain

oleh: Nilna Iqbal

Tiap saat kita berhadapan dengan bermacam-macam situasi. Terutama ketika berhubungan dengan orang lain.

Sebagai pemimpin, mengertikah kita bagaimana cara `membakar’ motivasi para pegawai kita? Sebagai ibu, kita sering bingung nggak habis pikir plus pusing oleh watak keras kepala anak-anak kita?! Tak jarang pula, sebagai suami kita terus-terusan bertengkar sama istri yang padahal juga kita sayangi dan cintai?Adakah `zat kimia’ tertentu atau pola tertentu yang mempengaruhi sifat, sikap dan reaksi kita dan merasa dalam menghadapi berbagai situasi… sehingga kita bisa lebih berdamai dan mengerti mengapa semua reaksi itu terjadi? Bukankah akan lebih nikmat hidup ini kalau kita satu sama lain saling memahami?

Florence Litteur, penulis buku terlaris “Personality Plus” menguraikan, ada empat pola watak dasar manusia. Kalau saja semua sudah kita pahami, kita akan sangat terbantu sekali dalam berhubungan dengan orang lain.Kita akan jadi mengerti mengapa suami kita tiba-tiba marah sekali ketika meja kerjanya yang berantakan kita atur rapi. Kita juga akan mudah memahami mengapa pegawai kita gampang sekali berjanji… dan hebatnya dengan mudah pula ia melupakannya, “Oh ya, saya lupa”katanya sambil tertawa santai. Kita juga akan mudah mengerti mengapa istri kita nggak mau dengar sedikitpun pendapat kita, tak mau kalah,cenderung mempertahankan diri, selalu merasa benar dengan pendapatnya dan makin sengit bertengkar kalau kita mau coba-coba untuk mengalahkannya.

Yang pertama, kata Florence adalah golongan Sanguinis, “Yang Populer”. Mereka ini cenderung ingin populer, ingin disenangi oleh orang lain. Hidupnya penuh dengan bunga warna-warni. Mereka senangsekali bicara tanpa bisa dihentikan. Gejolak emosinya bergelombang dan transparan. Pada suatu saat ia berteriak kegirangan, dan beberapa saat kemudian ia bisa jadi menangis tersedu-sedu.

Namun orang-orang sanguinis ini sedikit agak pelupa, sulit berkonsentrasi, cenderung berpikir `pendek’, dan hidupnya serba tak beratur. Jika suatu kali anda lihat meja kerja pegawai anda cenderung berantakan, agaknya bisa jadi ia sanguinis. Kemungkinan besar ia pun kurang mampu berdisiplin dengan waktu, sering lupa pada janji apalagi bikin planning/rencana. Namun kalau disuruh melakukan sesuatu, ia akan dengan cepat mengiyakannya dan terlihat sepertinya betul-betul hal itu akan ia lakukan. Dengan semangat sekali ia ingin buktikan bahwa ia bisa dan akan segera melakukannya. Tapi percayalah, beberapa hari kemudian ia tak lakukan apapun juga.

Lain lagi dengan tipe kedua, golongan melankoli, “Yang Sempurna”. Agak berseberangan dengan sang sanguinis. Cenderung serba teratur, rapi, terjadwal, tersusun sesuai pola. Umumnya mereka ini suka dengan fakta-fakta, data-data, angka-angka dan sering sekali memikirkan segalanya secara mendalam. Dalam sebuah pertemuan, orang sanguinis selalu saja mendominasi pembicaraan, namun orang melankoli cenderung menganalisa, memikirkan, mempertimbangkan, lalu kalau bicara pastilah apa yang ia katakan betul-betul hasil yang ia pikirkan secara mendalam sekali.

Orang melankoli selalu ingin serba sempurna. Segala sesuatu ingin teratur. Karena itu jangan heran jika balita anda yang `melankoli’ tak `kan bisa tidur hanya gara-gara selimut yang membentangi tubuhnya belum tertata rapi. Dan jangan pula coba-coba mengubah isi lemari yang telah disusun istri `melankoli’ anda, sebab betul-betul ia tata-apik sekali, sehingga warnanya, jenisnya, klasifikasi pemakaiannya sudah ia perhitungkan dengan rapi. Kalau perlu ia tuliskan satu per satu tata letak setiap jenis pakaian tersebut. Ia akan dongkol sekali kalau susunan itu tiba-tiba jadi lain.

Ketiga, manusia Koleris, “Yang Kuat”. Mereka ini suka sekali mengatur orang, suka tunjuk-tunjuk atau perintah-perintah orang. Ia tak ingin ada penonton dalam aktivitasnya. Bahkan tamu pun bisa sajaia `suruh’ melalukan sesuatu untuknya. Akibat sifatnya yang `bossy’ itu membuat banyak orang koleris tak punya banyak teman. Orang-orangberusaha menghindar, menjauh agar tak jadi `korban’ karakternya yang suka `ngatur’ dan tak mau kalah itu.

Orang koleris senang dengan tantangan, suka petualangan. Mereka punya rasa, “hanya saya yang bisa menyelesaikan segalanya; tanpa saya berantakan semua”. Karena itu mereka sangat “goal oriented”,tegas, kuat, cepat dan tangkas mengerjakan sesuatu. Baginya tak ada istilah tidak mungkin. Seorang wanita koleris, mau dan berani naik tebing, memanjat pohon, bertarung ataupun memimpin peperangan. Kalau ia sudah kobarkan semangat “ya pasti jadi…” maka hampir dapat dipastikan apa yang akan ia lakukan akan tercapai seperti yang ia katakan. Sebab ia tak mudah menyerah, tak mudah pula mengalah.

Hal ini berbeda sekali dengan jenis keempat, sang Phlegmatis “Cinta Damai”. Kelompok ini tak suka terjadi konflik, karena itu disuruh apa saja ia mau lakukan, sekalipun ia sendiri nggak suka. Baginya kedamaian adalah segala-galanya. Jika timbul masalah atau pertengkaran, ia akan berusaha mencari solusi yang damai tanpa timbul pertengkaran. Ia mau merugi sedikit atau rela sakit, asalkan masalahnya nggak terus berkepanjangan.

Kaum phlegmatis kurang bersemangat, kurang teratur dan serba dingin. Cenderung diam, kalem, dan kalau memecahkan masalah umumnya sangat menyenangkan. Dengan sabar ia mau jadi pendengar yang baik, tapi kalau disuruh untuk mengambil keputusan ia akan terus menunda-nunda. Kalau anda lihat tiba-tiba ada sekelompok orang berkerumun mengelilingi satu orang yang asyik bicara terus, maka pastilah parapendengar yang berkerumun itu orang-orang phlegmatis. Sedang yang bicara tentu saja sang Sanguinis.

Kadang sedikit serba salah berurusan dengan para phlegmatis ini. Ibarat keledai, “kalau didorong ngambek, tapi kalau dibiarin nggak jalan”. Jadi kalau anda punya staf atau pegawai phlegmatis, andaharus rajin memotivasinya sampai ia termotivasi sendiri oleh dirinya.

Mencoba Mengerti Orang Lain

Nah, sekarang anda masuk golongan mana? Coba amati istri, suami atau anak-anak anda, mereka golongan apa? Jangan-jangan anda sekarang mulai mengerti mengapa suami-istri-anak-rekan anda bertingkahlaku “seperti itu” selama ini. Dan anda pun akan tertawa sendiri mengingat-ingat berbagai perilaku dan kejadian selama ini.

Ya, tapi apakah persis begitu? Tentu saja tidak. Florence Litteur, berdasarkan penelitiannya bertahun-tahun telah melihat bahwa ternyata keempat watak itu pada dasarnya juga dimiliki setiap orang. Yang beda hanyalah `kadar’nya. Oleh sebab itu muncullah beberapa kombinasi watak manusia.

Ada orang yang tergolong Koleris Sanguinis. Artinya kedua watak itu dominan sekali dalam mempengaruhi cara kerja dan pola hubungannya dengan orang lain. Di sekitar kita banyak sekali orang-orang koleris sanguinis ini. Ia suka mengatur-atur orang, tapi juga senang bicara (dan mudah juga jadi pelupa).

Ada pula golongan Koleris Melankolik. Mungkin anda akan kurang suka bergaul dengan dia. Bicaranya dingin, kalem, baku, suka mengatur, tak mau kalah dan terasa kadang menyakitkan (walaupun sebetulnya iatak bermaksud begitu). Setiap jawaban anda selalu ia kejar sampai mendalam. Sehingga kadang serasa diintrogasi, sebab memang ia ingin sempurna, tahu secara lengkap dan agak dingin. Menghadapi orang koleris melankolik, anda harus fahami saja sifatnya yang memang `begitu’ dan tingkatkan kesabaran anda. Yang penting sekarang anda tahu, bahwa ia sebetulnya juga baik, namun tampak di permukaan kadang kurang simpatik, itu saja.

Lain lagi dengan kaum Phlegmatis Melankolik. Pembawaannya diam, tenang, tapi ingat… semua yang anda katakan, akan ia pikirkan, ia analisa. Lalu saat mengambil keputusan pastilah keputusannya berdasarkan perenungan yang mendalam dan ia pikirkan matang-matang.

Banyak lagi tentunya kombinasi-kombinasi yang ada pada tiap manusia. Akan tetapi yang penting adalah bagaimana memanfaatkannya dalam berbagai aktivitas hidup kita. Jika suami istri saling mengerti sifat dan watak ini, mereka akan cenderung berusaha `memaafkan’ pasangannya. Lalu berusaha untuk menyikapinya secara bijaksana.

Begitu pula saat menerima calon pegawai. Untuk bidang-bidang yang membutuhkan tingkat ketelitian dan keteraturan yang tinggi, jauh lebih baik anda tempatkan orang-orang yang melankolik sempurna. Sedang di bagian promosi, iklan, resepsionis, MC, humas, wiraniaga, tentu jauh lebih tepat anda tempatkan orang-orang sanguinis. Lalu jangan posisikan orang-orang phlegmatis di bagian penagihan ataupun penjualan. Hasilnya pasti akan amat mengecewakan.

Begitulah, manusia memang amat beragam. Muncul sedikit tanda tanya, diantara semua watak itu, mana yang paling baik? Jawabannya, menurut Florence, tak ada yang paling baik. Semuanya baik. Tanpa orangsanguinis, dunia ini akan terasa sepi. Tanpa orang melankoli, mungkin tak ada kemajuan di bidang riset, keilmuan dan budaya. Tanpa kaum koleris, dunia ini akan berantakan tanpa arah dan tujuan. Tanpa sang phlegmatis, tiada orang bijak yang mampu mendamaikan dunia.

Yang penting bukan mana yang terbaik. Sebab kita semua bisa mengasah keterampilan kita berhubungan dengan orang lain (interpersonal skill). Seorang yang ahli dalam berurusan dengan orang lain, ia akan mudah beradaptasi dengan berbagai watak itu. Ia tahu bagaimana menghadapi sifat pelupa dan watak acaknya kaum sanguinis, misalnya dengan memintanya untuk selalu buat rencana dan memintanya melakukansegera. Ia jago memanas-manasi (menantang) potensi orang koleris mencapai goal-nya, atau `membakar’ sang phlegmatis agar segera bertindak saat itu juga.”Inilah seninya”, kata Florence “dalam berinteraksi dengan orang lain”. Tentu saja awalnya adalah, “Anda dulu yang harus berubah”. Belajarlah jadi pengamat tingkah laku manusia…(lalu tertawalah)!

Makna Sebuah Persaudaraan

oleh: Nilna Iqbal

Orang bilang, dunia ini panggung sandiwara. Di sana berlangsung drama besar hidup manusia. Dengan tiap diri selaku pemain utama. Dengan peran masing-masing yang saling berbeda. Dengan penampilan yang bukan jati diri sebenarnya. Dengan bersembunyi di balik polah aneka rupa. Sebagai wujud pelarian diri yang terlunta-lunta. Akibat jalan hidup gelap-gulita. Sebab menghindari sinar terang ilahi sebagai penuntun hidupnya …!

Hingga, jangan heran kalau hubungan antara sesama … hubungan antar manusia, antar pribadi … antara kau dan aku … jarang bisa bersua. Malah, bukan suatu yang mustahil, kita tak ‘kan pernah saling saudara. Dalam sebuah persaudaraan yang sejati.

Yaitu persaudaraan dimana “engkau” bukan lagi seorang “asing”, seorang “dia”. Persaudaraan dimana “engkau” bukan lagi orang “antah-barantah” yang kebetulan bertatap muka. Bukan lagi persaudaraan karena engkau berguna buat saya. Bukan lagi persaudaraan karena kau dan aku sering jumpa. Bukan lagi persaudaraan lantaran kita saling menyapa. Bukan pula persaudaraan lantaran kita pintar menjawab salam. Bukan pula persaudaraan lantaran kita satu tempat teduh, satu organisasi ataupun satu bangsa. Apalagi lantaran mahir bersandiwara!

Tapi, lebih dari segala itu. Lebih dari sekedar saling sapa. Lebih dari sekedar saling jabat. Pun lebih pula dari sekedar diskusi, tarik suara. Sebab bukan suatu kemustahilan segala itu hanya pura-pura. Sekedar tenggang rasa. Sekedar ingin menunjukkan kita pun masih bisa sopan di tengah galauan massa …!

Ya, itulah persaudaraan dimana ‘kau’ dan ‘aku’ melebur jadi ‘kita’. Menyatu dalam suka dan duka. Bersatu dalam suatu kebersamaan yang dalam tapi nyata. Dengan silaturrahmi jembatan emasnya. Ia ‘kan jauh melebihi cinta. Bertahta dalam kemaujudan dan tetesan syorga. Bersemayam dalam hati insan penuh iman yang yang saling bersaudara. Di sana baru menjelma satu cita-cita. Duhai … siapa takkan iri melihatnya???!

Jenjang-Jenjang Persaudaraan
Manusia … siapa pun dia, senantiasa saling berhubungan sesamanya. Antara orang tua dengan anak. Antara suami dengan istri. Antara kakek dengan nenek. Antara buruh dengan majikan. Antara anggota dengan pimpinan. Antara kau-aku-mereka-kita … pendek kata, semua!

Namun, bila kita amati baik-baik, ternyata interrelasi tersebut seolah tersusun atas 3 tangga (tingkat). Mulai dari tangga paling bawah, yang lebar hingga di atasnya banyak manusia. Sampai tangga tertinggi, yang kecil dengan sedikit manusia di sana. Sebab memang tak seberapa yang sanggup menggapainya. Pertanyaan pun muncul. Posisi kita di mana?

Tangga Pertama: Basa-Basi
Inilah tingkat/tangga persaudaraan yang paling rendah. Paling lemah. Bahkan boleh dibilang, inilah persaudaraan pura-pura! Pada tangga ini, biasanya ucapan yang keluar cuma sekedar basa-basi. Misalnya: “Hei, apa kabar? … Mau ke mana? … Bagaimana keadaanmu sekarang? Wah, kau tambah cantik aja! … Mampir sebentar, yaa?”

Padahal itu hanya basa-basi. Ia terlontar sekedar “mengisi kekosongan”, membuyarkan kecanggungan dan kekikukan. Masing-masing berada dalam sikap “pura-pura”. Kita waktu itu tak bermaksud apa-apa dengan kata-kata itu. Ingin tahu pun, tidak!

Inilah persaudaraan yang biasa terjadi dalam bus, pesta-pesta atau “ngomong-ngomong” dengan tetangga. Tiada terjadi pertemuan, apalagi persaudaraan. Dalam arti yang sebenarnya. Masing-masing cuma berpura-pua, bersandiwara atau hanya omong-kosong sekedar sopan-santun. Ya, hakekatnya mereka tetap ‘sendiri’, sekalipun duduk berdua, berada bersama.

Memang bukan hal yang aneh kalau itu terjadi lantaran baru berkenalan, baru saling jumpa. Tetapi, kenyataan sering menunjukkan lain. Kendati hampir setiap hari jumpa, yang terjadi tak lebih dari sekedar saling angguk, saling sapa (kadang salam seenaknya), saling menaikkan pipi lalu … tersenyum. Biarpun cuma pura-pura!

Lebih mengkhawatirkan lagi … mereka sering bertemu-muka. Tiap kali bertemu, masing-masing berucap salam, “Assalamu’alaikum”. Tapi hanya basa-basi! Tak tergerak sedikit pun di hatinya persembahan salam keselamatan pada saudaranya sesama seiman. Inilah persaudaraan yang amat tak berarti apa-apa!

Maka jangan heran, kalau persaudaraan umat Islam cuma sebatas tangga ini … ia takkan membuahkan hasil apa-apa. Persatuan umat Islam akan sulit terwujud dan rahmatan lil ‘alamin pun sukar dibangkitkan! Suatu yang sangat menyedihkan, bukan?

Tangga Kedua: Dialog DuaTempurung Kepala
Yang ini, mulai sedikit meningkat tinggi. Mereka tidak lagi bertegur-sapa dalam artian sekedar basa-basi. Mereka mengucap salam bukan lagi bersandiwara. Bukan lagi melepas “sesak nafas”. Atau takut dibilang tak sopan, dan sebagainya.

Dalam tangga kedua ini … boleh dikata, sudah mulai berlangsung dialog. Sudah mulai terjalin hubungan. Kendati masih sebatas ‘isi kepala’. Tapi yang jelas, mereka mulai sudah punya ‘nyali’ untuk mengambil resiko mengatakan pada orang lain beberapa gagasan, pendapat, putusan, dan sebagainya.

Memang, barangkali mulanya baru sampai pada tahap membicarakan orang lain. Ini timbul karena masih ada perasaan segan, perasaan malu, perasaan takut “menelanjangi” pribadi sendiri. Dalam dialog yang terjadi, kita biasanya sudah cukup puas sebatas membicarakan pikiran, gagasan dan tingkah laku orang lain. Kita masih belum berani bicara ‘kau’ dan ‘aku’.

Demikianlah, pada taraf ini, perasaan masih terselimuti kikuk, kaku, segan. Pembicaraan pun tampak seakan formil. Kalau ‘terpaksa’ ketawa, paling hanya buat “menyenangi” hati orang lain. Atau kalau tidak, ya agar ia dikatakan “tahu sopan-santun!”

Biasanya, yang demikian terjadi pada orang yang baru mulai lebih jauh berkenalan. Tapi juga sering terjadi pada orang yang sudah lama “seatap” namun selalu hidup dalam suasana formil-formilan.

Dalam suatu kelompok diskusi pun hal ini sering terjadi. Ketika sesama anggota bertemu memang ada pembicaraan, tapi kikuk sekali. Banyak ucapan dan tingkah seolah dibuat-buat. Terkadang keduanya malah salah tingkah. Bahkan tak jarang mereka merasa tersiksa sendiri dengan pertemuan tersebut …! Hingga waktu keduanya berpisah … lega sekali rasanya. Seakan baru saja melepaskan beban berat satu juta ton! Ketakutan yang paling memalukan, bukan?

Akan tetapi, setelah melalui proses sekian lama, akhirnya terjalin juga dialog yang lebih dalam. “kau”dan “aku” bukan lagi bicara ”dia”, bukan lagi bicara orang lain. Kini, ‘kita’ telah mulai berani bicara “diri kita”. Tapi, memang masih sebatas ‘isi kepala’ saja. Dialog yang terjadi baru berupa dialog antar gagasan, antar pendapat. Belum lagi “dari hati ke hati”.

Tangga Ketiga: Dialog Emosional
Inilah hubungan antar manusia dalam sebuah pertautan emosional. Dan ini pulalah yang membuat arti sebuah persaudaraan menjadi suatu pengalaman yang sangat menyenangkan.

Ya, ‘kau’ dan ‘aku’ mulai bicara isi hatinya. “Kau” mulai bersedia menyingkap sebagian dari dirimu. “Aku” pun mulai sedia hendak terjun mendekati pintu hatimu. Kita sudah mulai saling membuka diri, dalam arti sebenarnya.

Dalam taraf ini, kita tidak saja bercerita tentang isi kepala kita. Tapi lebih dari itu, isi hati kita. Apalah artinya buah-pikiranku. Isi yang memenuhi kepalaku tidak lah sesuatu yang terlalu istimewa. Orang boleh-boleh saja setuju atau tidak setuju dengan gagasanku. Kalau kulempar satu gagasan ke tengah masyarakat … mungkin banyak yang lalu mendukung pikiranku. Lalu kemudian menyebar … dan kemudian menjadi milik kita bersama. Tapi … perasaan, luapan emosional yang berada di balik gagasan itu … bahkan yang sebetulnya membangun gagasan itu … itu resmi milik kepunyaanku. Dialah khas yang membentuk diriku.

Jelas tak seorang pun akan persis sama hatinya dengan hatiku. Tak seorang pun mengalami gairah agama yang persis sama dengan perasaanku. Tak seorang pun mengalami frustasi, menderita kesakitan atau merasakan gejolak nafsu persis seperti yang aku alami. Pun tak kan persis sama perasaan kebencianku pada korupsi dengan perasaan yang juga tentu kau alami …!

Pendek kata … hatiku dan hatimu beda! Ia bergetar pada frekuensi yang pasti berbeda. Percayalah …!

***

Ciri Hidup Kita Kini

oleh : Nilna Iqbal

Dulu, ikatan kekerabatan berlangsung sangat mesra. Usia persaudaraan pun bersemi sampai tua. Tiap hari mereka senantiasa kumpul bersama. Hidup damai, penuh ketentraman, tak tergesa-gesa.

Tapi semenjak masuk era modernisasi berubahlah suasana. Hampir semua jenis pola hubungan manusia tercabik-cabik mewujud jadi aneka romantika baru. Terjadi apa yang sesungguhnya kita sama-sama saksikan, kini. Revolusi industri mulai merenggangkan kasih mesra manusia dengan segala lingkungannya.

Usia Hubungan Kian Pendek

Manusia memang sedang dipercepat gerak hidupnya. Usia keterlibatan dan interaksi manusia dengan lingkungan sosial cenderung semakin singkat. Lebih-lebih masyarakat kota. Pola hubungan kian formal dan terbatas. Hampir dalam segala jenis hubungan manusia, dengan keluarga, dengan para tetangga, dengan rumahnya, dengan anak-istrinya, dengan orang tuanya, dengan handai taulan, karib kerabat, bahkan juga dengan kekasih pujaan hatinya.

Kalau dulu, ikatan kekerabatan dalam keluarga bisa berlangsung sepanjang usia, agaknya di masa yang akan datang, harapan ini sulit diwujudkan. Tingkat perceraian dan perpecahan keluarga akan semakin tinggi. Kesibukan suami dan isteri yang masing-masing berbeda profesi, ditunjang oleh mobilitas yang makin tergesa-gesa, berakibat waktu-interaksi kian pendek. Anak-anak pun terbiasa (akibat dibiasakan) dalam sentuhan yang kian singkat dan tak mendalam.

Tentu ada pengaruhnya. Rasa keterikatan anak pada orang tua jadi senakin sulit dibuktikan adanya. Rumah tangga pun terancam kohesivitasnya. Hingga ketika ada ‘gangguan’ sedikit saja, ikatan yang sudah lemah begitu rupa, bisa pecah itu keluarga.

Sahabat…Lewat Sambil Mengapung

Ikatan persahabatan pun demikian. Ia lebih menyerupai sebuah sampan yang meluncur dalam arus riak sungai perubahan. John Barth menangkap makna peregeseran ini dengan sebuah ungkapan dalam novelnya The Floating Opera, “Para sahabat kita lewat sambil mengapung; kemudian mereka hanyut terus dan kita harus percaya saja pada kabar angin atau sama sekali kehilangan jejak mereka; kemudian mereka muncul kembali dan kita memperbaharui persahabatan kita sambil menduga keadaannya sekarang atau mendapati bahwa mereka dan kita sudah tidak lagi saling mengerti”.

“Tak lama lagi”, kata Profesor Eli Ginzberg dari Universitas Columbia, “kita semua di sini akan jadi manusia tipe metropolitan, tanpa ikatan atau keterlibatan, bahkan, dengan para sahabat dan tetangga lama”.

Pun begitu hubungan kita dengan jiran. Max Weber menunjukkan fakta yang mencolok bahwa manusia yang tinggal dalam kota tak dapat mengenal tetangganya seakrab apabila mereka tinggal dalam lingkungan masyarakat yang kecil. Bahkan hubungan dengan tetangga tidak lagi dipandang sebagai ikatan jangka panjang. Angka rata-rata perpindahan geografis terlalu tinggi untuk itu. Hubungan ini diharapkan berlangsung selama individu tinggal di suatu lokasi, suatu jangka waktu yang pada umumnya makin lama makin pendek.

Setiap kali suatu keluarga pindah, mereka cenderung menggugurkan sejumlah teman dan kenalan biasa. Setelah ditinggalkan, akhirnya mereka pun dilupakan. Memang betul ada argumen, perpisahan tidak mesti mengakhiri semua hubungan. Berpisah bukannya bercerai. Betul, tapi itu cuma hiburan pelepas duka. Mungkin kita masih mau memelihara kontak dengan satu atau dua orang teman di tempat tinggal kita yang lama dan kita pun cenderung memelihara kontak yang sporadis dengan sanak keluarga. Tetapi pada tiap perpindahan terdapat erosi yang mematikan. Mula-mula ada lalu-lintas surat-menyurat yang sibuk dan bersemangat. Mungkin sekali-sekali ada kunjungan atau obrolan telepon. Akan tetapi frekuensinya berangsur-angsur menurun dan akhirnya berhenti sama sekali. Ini sudah kenyataan.

Seolah Tersiksa

Yang lebih pendek lagi umumnya ikatan hubungan jasa. Di sini terlibat para penjual, pengantar barang, pelayan pompa bensin, pengantar susu, pemangkas rambut, penata rambut dan sebagainya. Pergantian hubungan di tengah kelompok ini relatif lebih sering. Biasanya kita mengakhiri hubungan ini tanpa beban mental sama sekali. Tiada sedih, tiada duka. Wajar saja.

Kita memang hanya tertarik pada efisiensi pedagang sepatu dalam melayani kebutuhan kita. Kita tidak peduli apakah suaminya seorang pemabuk, heteroseks, atau homoseks. Karena kita hanya butuh membeli sepasang sepatu dan bukannya persahabatan, kasih sayang atau kebencian pedagang itu. Selama penjual sepatu memberikan jasanya yang agak terbatas itu kepada kita dan dengan demikian memenuhi harapan kita yang juga agak terbatas, kita tidak mendesaknya untuk percaya kepada Tuhan kita atau menjaga kebersihan rumahnya, menganut nilai politik kita atau menikmati makanan dan musik yang sama dengan kita. Kita membiarkannya bebas dalam segala soal yang lain, sebagaimana ia membiarkan kita bebas untuk menjadi apa saja atau melakukan apa saja yang tidak mengganggu kita.

Kita hanya tertegun sejenak ketika seseorang berteriak minta tolong, dan sambil mengurut dada, kita pun terus melanjutkan pekerjaan dan perjalanan kita.

Ini gejala baru dalam psikologi masyarakat kota. George Simmel berujar, “Bila manusia kota bereaksi secara emosional kepada siapa saja yang ia jumpai, atau memenuhi otaknya dengan segala informasi tentang mereka, maka batinnya akan diliputi ‘kabut’ (atomized) dan ia akan jatuh ke dalam kondisi mental yang tak dapat dibayangkan. Ia tak mengerti, tiba-tiba ia merasa tersiksa”.

Pendek kata secara umum, rata-rata jangka waktu hubungan antar pribadi dalam hidup kita sekarang ini dan di masa depan akan menjadi semakin pendek.

Manusia….Mobile

Rata-rata rentang waktu hubungan antar manusia itu adalah akibat wajar dari meningkatnya jumlah hubungan dan tingginya tingkat mobilitas hidup masyarakat. Dewasa ini orang kota rata-rata bertemu dengan lebih banyak orang dalam seminggu dibandingkan dengan orang desa di zaman feodal setahun, bahkan mungkin seumur hidupnya. Kebanyakan orang yang ia kenal sama saja seumur hidupnya.

Orang kota mungkin mempunyai suatu kelompok inti yang interaksi dengan anggotanya bertahan selama periode yang lebih lama, tetapi ia pun berinteraksi dengan ratusan, atau ribuan orang yang boleh jadi hanya sekali atau dua kali dijumpainya dan kemudian lenyap sama sekali dari ingatannya.

Meningkatnya perlawatan mengakibatkan peningkatan jumlah hubungan sementara. Dalam hal yang satu ini, Amerika memang nomor satu. Dalam tahun 1967 saja misalnya, 108 juta orang Amerika melakukan 360 juta perjalanan. Dan perlawatan ini sendiri mencakup jumlah 312 milyar mil-penumpang. Lebih-lebih lagi perjalanan bisnis dan liburan.

Yang juga menarik adalah data-data tentang gerak perpindahan masyarakat desa ke kota di Indonesia. Di tahun 1960 misalnya 72 % dari anak muda yang berumur 15-24 tahun masih bekerja di desa-desa. Pada tahun 1972 angka tersebut menurun menjadi 60 %, kebalikan dari angka dan tahun tersebut. Pada tahun 1985, angka ini menurun secara drastis menjadi 48,5 persen, suatu penurunan rata-rata 1% per tahun dalam kurun waktu 25 tahun terakhir. Pada tahun 2000, kurang dari 35 % mereka yang berumur antara 15-24 tahun bekerja di desa. Sungguh suatu perubahan yang cukup mendasar dalam kurun waktu kurang lebih 20 tahun terakhir ataupun untuk masa yang akan datang. Dan gerakan mereka itu akan lebih cepat lagi ketika ada di kota. Umumnya desa pun tinggal kenangan masa lalu saja.

Good Bye…My Sweet Home

Hubungan kita dengan rumah pun terancam punah. Dulu dalam dunia yang serba keras, lapar dan berbahaya, rumah, meskipun tak lebih dari sebuah gubuk, dianggap sebagai tempat berlindung terakhir. Kepustakaan penuh dengan petunjuk yang baik tentang pentingnya rumah. “Carilah rumah untuk beristirahat, sebab rumah itu paling ramah” (Seek home for rest, for home is best) adalah kalimat dari “Instruction to Housewifery”, sebuah buku petunjuk abad ke-16 oleh Thomas Tusser. Masih ada belasan ungkapan lain yang kini bersarang dalam musium kebudayaan. “A man’s home is his castle…” (Rumah seseorang adalah istananya). “home, sweet home…” (Rumahku, rumahku yang manis).

Kini, orang suka berpindah. Dan apabila seseorang mengakhiri hubungannya dengan rumahnya, ia pun biasanya mengakhiri hubungan dengan segala jenis tempat “satelit” di kejiranan itu. Ia berganti pasar-raya, pompa bensin, terminal bis, dan pemangkas rambut, dan dengan segala manusia yang pernah ia jumpai di situ, sekalipun pacarnya. Kita sedang menyaksikan sejarah kemerosotan arti tempat bagi kehidupan manusia.

Pacaran…Sementara Saja

Kegiatan mondar-mandir, bermusafir dan pindah tempat tinggal ini akhirnya menjadi kebiasaan hidup. Makin besar mobilitas seseorang, makin banyak pula perjumpaan tatap muka yang singkat, kontak antar manusia yang sepintas, yang masing-masing merupakan hubungan tertentu yang fragmentaris dan yang paling penting, dalam waktu yang sangat terbatas.

Louise Wirth kemudian mencatat sifat fragmental hubungan manusia kota. “Secara karakteristik, para penghuni kota saling bertemu dalam peran yang sangat segmental…” tulisnya. “Ketergantungan mereka pada orang lain terbatas pada sebagian aspek yang amat kecil dari lingkungan kegiatan orang lain itu. Daripada terlibat mendalam dengan setiap insan yang kita jumpai”, katanya menjelaskan, “kita lebih perlu mempertahankan hubungan yang mengambang dan terbatas dengan seseorang”.

Ini pun terjadi dalam hubungan kita dengan sang kekasih. Laki-laki akan semakin banyak ketemu gadis-gadis cantik yang senantiasa berbeda tiap ditemuinya. Kaum wanita pun kian banyak melangsungkan hubungan dengan banyak ragam polah pria. Jadinya, mereka terus diguncang rasa kesetiaannya. Suatu saat mereka sama-sama bertemu dalam suatu pesta, lalu saling tertarik…lalu akhirnya akrab…intim…pacaran. Tapi kedua-duanya sama-sama sibuk. Mereka akan teralih perhatian dalam pikirannya dari 100% memikirkan kekasih (dulu memang bisa begitu), menjadi tinggal 50%, sisanya untuk kantor, teman, dan lingkungan aktivitas lainnya. Hingga suatu saat lain…ia bertemu lagi dengan gadis atau jejaka lain dalam suatu kesempatan lain. Entah bagaimana…ini pun bisa menjadi akrab…lalu intim. Begitulah…siklus hubungan pria wanita akan kian dipersingkat juga. “Duhai, kekasih…sayang ini sulit sekali terelakkan”, bisik kalbunya. “Arus kehidupan ini…mengapa begitu cepat, elaknya membenarkan diri.”

Ngetop Mendadak…

Tidak hanya interaksi-manusia yang kian pendek umurnya, citra dan perhatian kita pada sesuatu pun pendek usianya. Ia muncul dalam sekejap lalu segera berlalu, senyap.

Tidak ada produk yang lebih cepat munculnya atau lebih kejam lenyapnya dariapada orang yang terkenal mendadak, isu yang heboh sesaat, dan berita yang bertukar dua sampai tiga kali sehari. Perhatian kita dialihkan dari suatu topik ke topik lain, dari satu tokoh ke tokoh yang lain, dari isu yang satu ke isu yang lain, dengan kecepatan yang terus meningkat. Citra itu seperti hinggap sebentar dalam benak, lalu terbang lagi dan kemudian digantikan citra yang baru lagi., pergi lagi. Demikian seterusnya.

Ribuan “tokoh” seakan berpawai melewati panggung sejarah masa kini. Manusia nyata (real) yang dibesarkan dan diproyeksikan oleh media massa, kemudian disimpan sebagai citra dalam benak jutaan orang yang belum pernah mengenal mereka, belum pernah mengajak mereka bicara, belum pernah melihat mereka “secara pribadi”. Mereka menjadi kenyataan, hampir (dan kadangkala lebih) sama nyatanya seperti orang lain yang mempunyai hubungan “pribadi” dengan kita.

Kita telah menyaksikan tiba-tiba melonjaknya atau merosotnya popularitas “gaya rambut Bardot”, “mode Cleopatra”, James Bond dan Batman, belum lagi tudung lampu Tiffany, kaca mata pop, poster Michael Jackson atau Lady Diana, bulu mata palsu, dan tak terbilang macam-macam barang tetek bengek serta keanehan yang dipantulkan atau disesuaikan dengan cepatnya perubahan budaya pop itu.

Mengomentari media massa, sejarawan Marshall Fishwick menyatakan dengan kecut, “Kita bahkan belum sempat mengenal baik ‘Pahlawan Super’, ‘Kapten Tampan’ dan ‘Tuan Hebat’, tahu-tahu mereka telah terbang ke luar layar televisi untuk selamanya”.

‘Drama publik ini”, kata sosiolog Orrin Klapp, pengarang buku yang memukau Symbolic Leader, “sebagian besar merupakan produk dari teknologi komunikasi yang baru. Musibah, keresahan, ketololan, persaingan, skandal, lemak babi, biskuit beracun, boom bank, konglomerat, seakan-akan merupakan hiburan atau seakan-akan roda rolet politik yang berputar-putar. Yang disukai datang dan perginya dengan sangat cepat sehingga memusingkan…

Riak informasi telah berubah menjadi gelombang dahsyat yang memecah dengan hempasan yang makin lama makin cepat, menghantam kita, bagaikan mencari jalan masuk ke sistem syaraf kita.

Begitulah, usia interaksi dan perhatian manusia, baik terhadap manusia lain atau lingkungan sosialnya, kian hari, kian pendek, hingga pola hubungan dan perhatian pun semakin formal dan terbatas. Manusia semakin jauh dari manusia lainnya.

Yah…beginilah nasib dunia…hidup manusia. Desakan perubahan itu begitu dahsyat. Desakan itu bahkan sedang kita alami saat ini. Angin kencang perubahan ini…akankah mengakhiri persahabatan kita yang hakiki, ukhuwah kita yang baru saja bersemi? Lantas, dimanakah kebahagiaan itu akan kita pertaruhkan lagi? Atau mungkin…memang begitulah ciri hubungan kita, nanti. Hubungan singkat? Masyaallah…Bagaimana ini?

Pengkultusan Sains dan Teknologi

oleh: Nilna Iqbal

Kemajuan sains dan teknologi membawa kejayaan dan kebahagiaan umat manusia. Kenikmatan dan kemudahan hidup serta berbagai hiburan didapat sebagai hasil sains dan teknologi. Kekurangan tanah pertanian telah dapat diatasi dengan mengubah gurun-gurun pasir serta daerah tertutup salju menjadi areal pertanian yang subur. Jarak perjalanan, yang dulu mesti ditempuh berbulan-bulan, saat ini hanya berbilang jam, bahkan tak lama lagi bisa sekian detik saja. Mobil yang dijalankan dengan battery dan energi surya pun mulai dipakai.

Ilmu kedokteran pun kian mengagumkan. Ginjal, paru-paru, jantung dan alat tubuh penting lainnya telah dibuat dan diperdagangkan sebagaimana layaknya onderdil-onderdil mesin. Orang tua yang dulu dianggap bakal tak punya anak, kini, simsalabim, lahirlah si Upik atau si Buyung. Dengan teknik-teknik termaju seleksi gen, bersamaan dengan diagnosa janin dan perawatan yang cermat terbuka harapan yang memungkinkan “mengendalikan kualitas” keturunan kita.

Sekarang telah luas juga digunakan teknik inseminasi buatan (artificial insemination/AI) dengan air mani donor (orang lain), jika sang suami mandul, atau berpenyakit turunan parah seperti Hutington. Seorang suami, kini, bisa menyimpan air maninya dalam cryobank (bank tabungan air mani) sebelum dirinya disterilkan, atau memungkinkan sang istri punya anak dari suami yang udah mati! Dengan sistem “kloning” -inti sebuah telur “dibuahi” dengan inti sel somatik (badan) lalu dicangkokkan kembali ke rahim sehingga berkembang seperti biasa– ada kemungkinan nantinya seseorang bisa melahirkan anak monyet, kalau rela! Ada lagi cara fusi telur (penggabungan telur), yang akan melenyapkan perlunya sperma pria dan akan selalu menghasilkan/melahirkan bayi wanita! (lelaki makin tak laku?) Bahkan, kedua telur itu, bisa diperoleh dari satu wanita yang sama!

Banyak, banyak sekali kalau kita sebutkan satu per satu. Belum lagi metode memperlambat ketuaan, darmawisata ke ruang angkasa atau ke tepi alam semesta ini (?). Begitu juga perkembangan komputer dan teknologi komunikasi yang kian canggih dan sempurna yang akan dapat memberi kita solusi di berbagai bidang kehidupan. Robot pun kian banyak mengambil alih tugas manusia. Teaching machine, yang jauh lebih efisien, telah menggantikan fungsi guru. Untuk menumbal kekurangan tidur digunakan pula sleep machine. Pendeknya manusia akan dapat hidup enak dan sepuas mungkin. Semua berkat sains dan teknologi !

Akibatnya timbul anggapan pada sebagian kalangan: sains adalah segala-galanya. Sains dapat membuat sorga di dunia ini. Peradaban seperti ini oleh Prof. Jaques Barzun dalam bukunya Science, The Glorious Entertaintment disebut sebagai Scientific Culture -peradaban sains- manusia lebih percaya pada sains dan teknologi. Manusia dipimpin semata-mata oleh ratio, akal sehat dan inteleknya saja.

Kendatipun demikian masih ada ahli pikir yang cemas melihat perkembangan masyarakat dan cara pikir seperti itu, terlalu tunduk pada otoritas sains belaka. Keagamaan, ketuhanan, susila dan nilai-nilai etis lainnya ditanggalkan. Secara kualitatif hidup bergelimangan alam benda yang berlimpah-limpah dan tunduk hanya pada kekuasaan intelek saja pada hakekatnya miskin! Semu belaka. Sebab yang menjadi daya dorongnya adalah keuntungan atau laba. Inilah yang jadi ciri khas utama masyarakat peradaban sains itu.

Saingan yang tajam dalam kehidupan manusia, kurangnya rasa kegotongroyongan, tak pernah puas dengan segala yang ada, padahal hidup serba ada, menyebabkan timbulnya kebingungan, kegelisahan batin dan kerisauan hati dalam masyarakat. Manusia hidup dicekam stress dan ketegangan terus menerus. Lalu terjadilah peningkatan penjualan obat tidur, obat bius dan penenang saraf. Hal semacam itu takkan terjadi kalau manusia yang hidup dalam peradaban sains itu memperoleh kebahagiaan dan ketenangan batin. Hingga para ahli pikir Barat pun sampai bertanya-tanya, “Kalau dunia jadi demikian, adakah juga gunanya orang berumur panjang?”

Kekhawatiran ini tercermin dari pendapat banyak ahli pikir Barat sendiri. Hampir semua filosof besar mengatakan, “Kelam telah menyelimuti dunia barat dan satelitnya”. Oswald Spengler, Nikolai Danilevski, Arnold J. Toynbee, P. A. Sorokin, Walter Schubart, N. Berdyev, dan lainnya melukiskan zaman sekarang ini sebagai suatu masa transisi teramat besar dari peradaban lama menuju peradaban baru. Sistem peradaban lama, secara berangsur-angsur tapi pasti mulai melemah dan akhirnya padam sama sekali, lenyap dari permukaan bumi.

Seorang sastrawan modern besar, T. S. Elliot, menuangkan kekhawatirannya:

“Semua ilmu pengetahuan kita membawa kita makin dekat kepada kebodohan
semua kebodohan kita membawa kita makin dekat pada kematian
tapi… makin dekat pada kematian
bukan makin dekat pada tuhan…
mana lagi hayat kita yang telah hilang dalam kehidupan
mana lagi kebijaksanaan kita yang telah hilang dalam ilmu pengetahuan
mana lagi pengetahuan kita yang telah hilang dalam penerangan
perputaran semesta alam dalam dua puluh abad membawa kita
terjauh dari Tuhan…
dan kian dekat pada kehancuran…”

Islam Sinar Kehidupan Mutakhir

Bila mendung kerusakan harus disibakkan, jika penderitaan harus dihapuskan dari dahi manusia, maka cahaya Din haruslah terbit sebagai fajar membawa suasana baru nan tenteram. Kalau kita bertanya dari mana sinar cahaya itu, jawabannya semakin jelas: hanya dari Quran dan Sunnah Rasul!

Islam merupakan suatu kemasyarakatan, pedoman hidup yang amat sempurna, tatanan jiwa dan sekaligus kekuatan kebudayaan. Hanya Islam agama yang diridhoi Allah (QS. 3: 19) dan yang hanya yang dibenarkan oleh Allah (QS. 3: 85).

Pokok-pokok ajarannya sama modernnya dengan hari esok. Islam pun sanggup di hari ini mendengungkan era baru dalam hidup umat manusia. Ia dapat menampilkan pada manusia peradaban baru dari hidup dan kehidupan di dunia ini. Dia menampilkan kebenaran dan keadilan. Pesan-pesannya menembus jantung dan menggetarkan jiwa. Dia sanggup membebaskan manusia dari kurungan besi tuhan-tuhan palsu yang selalu membelenggu, dan selanjutnya mengantarkannya ke zaman damai lagi makmur sesuai cita-cita seluruh manusia.

Taqwa pada Allah serta berpegang teguh pada nilai-nilai moral adalah senjata utama yang sanggup mencegah hancurnya nilai-nilai kemanusiaan. Dan hanya wahyu Allah yang sanggup jadi kendali utama nafsu manusia serta dapat menuntun langkah-langkahnya (QS. 45: 23). Lembaran-lembaran sejarah jadi saksi akan kenyataan ini.

Tergantung Generasi Mud

A. N. Whitehead dalam bukunya Science and The Modern World menulis, “Bila kita ingat betapa pentingnya agama bagi umat manusia, begitu juga ilmu pengetahuan, maka tidaklah berlebih-lebihan bila dikatakan bahwa sejarah kita masa mendatang tergantung pada putusan generasi kini mengenai hubungan antara keduanya”.

Hal inilah yang mesti disadari oleh segenap generasi muda Islam. Dalam situasi yang amat khas ini terbuka kesempatan emas yang sangat menentukan sekali. Generasi muda satu-satunya harapan.

Maka peran aktif dan kerjasama yang harmonis berbagai komponen masyarakat amat diharapkan. Pengajaran agama dan kerohanian harus diefektifkan, disamping juga sains dan teknologi. Kontroversi agama dan ilmu pengetahuan harus disingkirkan, sebab keduanya selaras dan tak dapat dipisahkan.

Bagi kaum intelektual lebih penting mengetahui apa hakekat yang tersirat daripada yang tersurat dalam ayat-ayat Allah. Mementingkan yang tersurat –dengan tafsir-tafsir yang dogmatis yang tak memberi peluang untuk bertanya dan memberi tafsir lain- akan menanam pada penganutnya jiwa tertutup, menurut saja dan taqlid buta, dan ini dilarang Allah. Akan timbul fanatisme dan intoleransi pada pandangan lain.

Inilah yang jadi sebab utama timbulnya pertentangan antara ilmu dan agama, padahal keduanya itu satu padu tak teruraikan. Karenanya para filosof, para ulama dan saintis harus bekerjasama dalam pendidikan rohani ini. Mereka hendaknya, tanpa prasangka, bertemu dalam satu kehendak membangun dunia baru yang aman dan damai, dimana seluruh umat manusia berkoeksistensi dengan penuh toleransi dan pengertian.

Pengajaran seperti itu dititikberatkan pada kaum muda sebagai penyambut tongkat estafet generasi sebelumnya. Perlu disiapkan dan disuburkan generasi “ulama yang intelek dan intelek yang ulama”. Dunia sekarang ini dan dunia masa depan sangat membutuhkan. Mereka tidak hanya ahli dalam bidang-bidang kemasyarakatan, sains dan teknologi, tapi disamping itu juga seorang ulama. Siang hari mereka betebaran mencari dan menggali karunia Allah, mengamalkan ilmunya demi kemaslahatan manusia, bukan menghancurkannya, malam hari mereka tunduk dan zikrullah, menghambakan dirinya pada Allah, Pencipta dan pemeliharanya. Inilah umat yang dinanti-nantikan. Inilah yang disebut oleh Allah dalam Al Quran sebagai “ulil albab” itu.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal (ulil albab). Yaitu orang-orang yang senantiasa ingat Allah sambil berdiri dan duduk, dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini semua dengan sia-sia. Maha suci Engkau, sebab itu peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Ali Imran 190-191).

Sumber bacaan:
1. Prof. Dr. Garnadi Prawirosudirjo, MSc. Integrasi Ilmu dan Iman, Jakarta, Penerbit Bulan Bintang, 1975

2. Abul A’la Al Maududi, Islam Dewasa Ini.

3. Aku Tahu, No. 26 tahun III, Maret 1985

4. Sukmadjaja Asyarie-Rosy Yusuf, Index Al Quran, Bandung, Penerbit Pustaka, 1984

Kalimat apa yang anda percayai?

oleh: Nilna Iqbal

Setiap orang bersikap, bekerja, berjalan di atas kalimat-kalimat yang ia percaya. Pada kalimat-kalimat itulah kita bersandar dan menjalani kehidupan. Kita bisa juga menyebutnya paradigma!

Pertanyaannya: apakah anda tahu kalimat-kalimat apa yang aktif di dalam otak kita? Pada umumnya kalimat-kalimat yang menguasai jalan hidup kita itu bekerja secara otomatis dalam otak bawah sadar kita. Kalimat-kalimat itulah pikiran-pikiran kita. Ia kita akan mengejawantah dalam berbagai sikap, perilaku dan kebiasaan kita.

Bila kita merasa selalu gagal, maka sesungguhnya kalimat-kalimat kegagalan telah banyak menguasai pikiran kita. Bila kita sering merasa takut untuk memulai sesuatu, kalimat-kalimat itulah mendominasi otak kita.

Karena itu, bisa saya katakan jika kita merasa ada yang salah dalam diri kita, maka hal pertama yang harus kita obati adalah pikiran kita. Mungkin kita perlu meng-install ulang otak kita. Mengisinya dengan file-file baru, dengan kalimat-kalimat baru. Maka bila itu kita lakukan kita benar-benar bisa lahir baru kembali, menjadi manusia yang berbeda, menjadi manusia yang jauh lebih baik lagi.

Jadi mari kita install ulang otak kita! Diinstall dengan apa?

Instal-lah dengan kalimah-kalimat Ilahiyah. Instal-lah dengan kalimat-kalimat suci yang diturunkan Allah SWT untuk kita.

Ketika kita membaca Al Qur’an setiap hari, dengan pemahaman tentu saja, maka sesungguhnya kita telah menginstall kalimat-kalimat itu ke dalam pikiran kita. Ketika kita berdoa bermunajat kepada Allah SWT, sesungguhnya kita menginstall harapan-harapan dan keinginan-keinginan kita dalam bawah sadar kita. Ketika kita hanya mengatakan kalimat-kalimat positif saja setiap hari, maka kita telah menginstall file-file positif dalam diri kita.

Sabda Rasulullah SAW, “Kalau kau beriman kepada Allah SWT dan Yaumul Akhir, katakan hanya kalimat-kalimat yang baik saja … kalau tidak lebih baik diam.”

Apakah pengamatan dapat dipercaya?

oleh: Nilna Iqbal

Benarkah langit itu biru,
Pegunungan itu hijau, dan darah itu merah?
Betulkah air laut itu asin dan gula itu manis?

Apakah air itu cair, es itu padat?
Dan apa betul satu hari itu 24 jam,
dan satu tahun itu dua belas bulan?

Warna Itu Apa?
Kalau pada sebuah prisma kaca kita lewatkan seberkas cahaya surya, cahaya itu akan terurai menjadi tujuh warna: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan violet. Apakah benar itu yang kita sebut warna?

Kalau kita pelajari apa sebenarnya warna-warna itu, maka kita menemukan bahwa yang kita lihat itu bukanlah warna dalam arti yang sesungguhnya. Itu hanya perbedaan panjang gelombang atau perbedaan frekuensi. Misalnya, warna biru. Ia berada pada panjang gelombang sekitar 4.500 Angstrom atau 45 per sejuta centimeter. Sebab itu, maka kita tak kan mampu “melihat” gelombang itu sebagai gelombang apa adanya, juga tak bakal sanggup merasakan getaran itu sebagai getaran apa adanya. Sewaktu gelombang cahaya sampai ke mata kita, sel-sel syaraf di selaput mata terangsang oleh bermacam getaran ini dengan cara yang berlainan, sesuai dengan jenis getaran yang masuk. Lalu otak kita atau lebih tepatnya pusat syaraf mata, dengan “bahasa”-nya yang khas, menerjemahkan berita dari syaraf ini dalam bentuk tanggapan-tanggapan, yang lalu kita sebut warna.

Jadi sebelumnya “otak” kita sendirilah yang mendefinisikan semua itu. Maksudnya agar kita bisa membedakan antara satu getaran dengan getaran lainnya. Lalu oleh manusia disepakati, kalau panjang gelombang dan frekuensi getaran itu sekian Angstrom, maka warnanya ‘anu’. Sementara kalau frekuensi sekian Angstrom, warnanya beda lagi.

Langit cerah yang sehari-hari kita lihat biru, sebetulnya bukan berarti langit itu punya warna biru. Menurut laporan para astronot, jika seseorang berada di luar atmosfer bumi, langit tidak lagi nampak biru, tapi justru hitam. Sedangkan bumi, kalau dilihat dari “atas sana” akan tampak bagai bola yang diselubungi lapisan warna kebiru-biruan. Birunya langit ini ada kaitannya dengan penyerapan (absorpsi) dan penghamburan cahaya matahari oleh atmosfir Bumi.

Bagaimana dengan pegunungan yang selalu kita lihat berwarna hijau? Sama saja. Pada hakikatnya, gunung-gunung itu tak punya warna. Proses yang terjadi, dedaunan tumbuh-tumbuhan menyerap semua panjang gelombang cahaya matahari, kecuali yang mempunyai panjang gelombang tertentu (sekitar 5.000-an Angstrom). Cahaya matahari yang punya panjang gelombang sebesar itulah yang kemudian dipantulkan ke mata kita. Lalu ia mempengaruhi sel-sel mata, dan otak pun bekerja. Lantas disebutlah warnanya hijau, sesuai kesepakatan kita.

Begitu pula dengan warna-warna lain yang kita lihat setiap hari. Semuanya itu hanya kesepakatan indera dan ‘otak’ kita saja.

Manis, Asin, Pedas, Pahit…
Lantas bagaimana hakikat yang berlaku pada “rasa”? Tak jauh beda. Sifat manis, asin, pedas, masam, pahit, dan sebagainya…sebenarnya bukan sifat mutlak yang ’lengket’ pada gula, cabe, garam, asam, dan benda-benda lainnya. Ia sangat tergantung pada syaraf perasa yang ‘bermukim’ di lidah kita. Dan memang struktur dan komposisi molekul-molekul gula, cabe, asam, dan garam itu masing-masing beda. Pengaruh itulah yang kemudian dikirimkan via syaraf perasa kita ke pusat syaraf otak yang dengan segera menerjemahkannya sesuai ‘bahasa’ kesepakatan manusia. Dengan demikian manusia tidak akan bingung dalam membedakan antara satu rasa dengan rasa yang lain.

Inilah salah satu karunia Allah kepada kita, manusia. Hingga Alhamdulillah kita bisa mencicipi isi “dunia”.

Air, Es, Uap…Sama Saja
Kini kita melangkah pada pertanyaan selanjutnya. Betulkah air itu cair? Es itu padat…dan uap itu gas? Kalau air kita masak, misalnya, ia akan berubah menjadi gas (uap air). Sebaliknya kalau didinginkan, ia menjadi es padat. Apa yang terjadi sesumgguhnya?

Tatkala air kita panaskan, partikel-partikel yang ada di dalamnya akan bergerak lebih cepat, berpisah, dan bertebaran ke segala arah. Satu sama lainnya saling menjauh. Saat itu air yang kita panaskan akan berubah menjadi uap air. Kita katakan, wujudnya gas. Sebaliknya bila ia kita dinginkan terus menerus, gerak partikelnya akan semakin lambat. Kemudian masing-masing saling mendekat, sampai suatu batas tertentu, akhirnya ia berubah menjadi es padat.

Jadi sebetulnya tak ada beda antara air, uap gas ataupun es padat. Masing-masing memiliki unsur dan susunan kimia yang sama. Yaitu sama-sama terdiri dari Hidrogen dan Oksigen dengan perbandingan atom, dua berbanding satu. Yang membedakan hanyalah jauh-dekatnya jarak masing-masing partikel. Sedang bendanya, ya tetap itu-itu juga.

Hakikat Waktu Kita
Kini, kita sampai pada persoalan berikutnya. Bertahun-tahun kita yakini, satu tahun terdiri atas 12 bulan, satu bulan 28 sampai 31 hari, satu hari 24 jam, satu jam 60 menit dan satu menit 60 detik. Tapi benarkah begitu pada hakikatnya?

Einstein pernah mengatakan, waktu hanyalah pengertian manusia terhadap perpindahan-perpindahan simbolik dari “tempat”.

Waktu yang kita gambarkan sebagai jam, hari, bulan dan tahun itu tak lebih hanyalah istilah-istilah yang melukiskan peredaran Bumi di sekitar sumbunya dan peredarannya mengelilingi Matahari. Satu tahun adalah satu kali perputaran penuh Bumi mengedari Matahari. Satu bulan adalah satu kali perputaran Bulan mengelilingi Bumi. Dan satu hari adalah satu kali perputaran penuh Bumi berputar pada porosnya sendiri.

Arloji yang kita pakai pun merupakan gambaran dari perpindahan tempat, yaitu perpindahan jarum dari angka ke angka di atas plat arloji. Dalam hal ini jam-jam itu diakurkan dengan peredaran sistem matahari.

Oleh sebab itu jika kita ingin mengikuti waktu maka kita harus mengikutinya dengan memakai tempat. Perpindahan zaman kita jelaskan dengan perpindahan tempat.

Kalau kita katakan si Anu bertambah besar maka sebetulnya yang kita maksud adalah umurnya atau tubuhnya.Kalau kita mengatakan ‘waktu isya’ maka yang dimaksud adalah kedudukan Bumi terhadap Matahari pada posisi tertentu. Kata-kata hari, bulan, tahun semuanya itu adalah tanda-tanda yang menunjukkan kedudukan Bumi dan Bulan dalam orbitnya sewaktu bareng mengelilingi Matahari.

Andai Siput Punya Kesadaran…
Mau tak mau, semua kita akhirnya akan sampai juga pada kesimpulan, ternyata seluruh pengamatan inderawi kita amat relatif. Semu.

Alam yang kita lihat bukanlah alam yang sebenarnya, melainkan semata-mata istilah yang kita definisikan sendiri secara aklamatif. Di dunia seperti itulah kita hidup, terkekang oleh rumusan-rumusan yang kita ciptakan sendiri.

Kita telah menjadi tawanan indera kita sendiri, tawanan dari konstruksi tubuh kita yang lemah. Semua yang kita lihat selalu dibawa kepada kita dalam keadaan cacat, kurang dan belum lengkap.

Andaikata siput juga punya kesadaran, maka dunia yang dilihat siput tentu sama sekali beda dengan dunia kita manusia. Organ syaraf siput sama sekali berbeda dengan organ syaraf manusia. Siput melihat matahari dengan caranya yang lain. Siput melihat pohon tidak seperti kita melihatnya. Siput belum bisa membedakan warna-warna. Yang jelas dia punya cara tersendiri, yang sampai sekarang kita masih belum mengerti.

Demikian pula binatang-binatang lain. Cacing akan melihat alam ini dengan caranya sendiri, dan menanggapinya dengan caranya sendiri pula. Bagi cacing Ascaris dunia ini gelap, dunia ini kosong, tak ada pemandangan. Yang ada hanya penginderaan yang sangat sederhana melalui kulit.

Demikianlah, tiap makhluk punya dunianya sendiri. Masing-masing hidup dalam penjara imajinya. Ia tak kan bisa mengetahui dunia yang dilihat oleh makhluk jenis lainnya.Kita sebagai manusia tak dapat berbicara dengan burung atau reptil atau cacing atau serangga. Sayang sekali kita pun tak dapat menceritakan kepada mereka betapa indahnya alam ciptaan Tuhan yang kita lihat ini. Begitu juga sebaliknya, kita tak mungkin bisa menerima pesan-pesan cacing tentang dunianya. Sayangnya kita belum bisa berkomunikasi dengan mereka. Mereka belum pandai tulis baca. Kalau pun diajar, mereka tak mengerti apa-apa.

Akibatnya kita saling bisu merahasiakan isi ‘dunia’ kita.
Yah, begitulah alam tak mudah diajak bicara. Ia masih tegar dalam selimut misterinya. Ketika kita melihat sesuatu, yang kita lihat bukan saja tak sempurna, malah kita sendiri kadang tak melihatnya. Bahkan bukan tak mungkin, apa yang kita tengok malah tak ada ujudnya sama sekali.

Ketika kita melihat sebuah bintang di langit malam, misalnya. Bintang itu berjarak sekian juta, atau katakanlah sekian ribu tahun cahaya. Bukankah itu berarti kita sebetulnya hanya melihat “masa lalu” bintang itu? Sekarang, entah ada bintang itu entah tidak, kita tak tahu. Mungkin sudah ambruk, atau meledak, hancur entah kemana.

Ya, kita memang sering tersilau oleh kilatan yang sebetulnya tak berujud apa-apa. Ah, sampai sebegitu jauhnya keterbatasan indera kita selama ini? Lantas, mengapa ia terlalu kita agung-agungkan, sampai-sampai “menuhankannya”!

Tuhan Ada Dimana?
Begitulah. Mau tak mau, kita harus akui, pengamatan manusia memang lemah. Kemampuan manusia terlalu ‘kecil’ buat menyelusuri teka-teki alam semesta yang maha misterius ini. Baru setitik ilmu yang kita dapati, kita miliki. Itupun atas karunia Sang Pencipta sendiri.

Dan seandainya pohon-pohon di Bumi menjadi pena dan laut jadi tintanya, kemudian ditambahkan lagi padanya tujuh laut lagi sesudah keringnya…niscaya tak kan habis-habis kalimah Allah. Sungguh Allah itu Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. 31: 27)

Masih terlalu banyak yang belum kita ketahui, kita sadari dan kita amati. Apapun yang kita amati di alam semesta ini, sangat bergantung pada kehadiran cahaya dan mata kita sendiri. Tak mungkin terjadi penglihatan tanpa ada cahaya. “Sesuatu” baru bisa dilihat, kalau sesuatu itu memantulkan cahaya yang sampai ke mata kita.

Lalu kita bertanya. “Kalau sekiranya ada benda yang terhalang sedemikian rupa hingga tak satupun cahaya mampu melepaskan diri dari cengkramannya, tak ada cahaya yang bisa lolos menuju mata kita, artinya kita tak kan pernah bisa mengamati kehadiran benda itu (padahal jelas ia ada), lantas benarkah boleh kita katakan benda itu tidak ada?

Berhakkah kita mengatakan, bulan itu tidak ada sebelum kita menyadari dan melihat kehadirannya? Berhakkah kita menyatakan, ‘elektron’ itu “omong kosong’ saja, hanya lantaran kita tak sanggup melihatnya, dan memang selamanya tak kan pernah sanggup (sesuai pembuktian percobaan fisikawan bernama Heisenberg)?

Kemudian, apakah Tuhan itu juga menjadi tidak ada, hanya karena kita tak mampu mengamati, mengukur, menimbang dan lalu melihatnya? Bukankah semua itu semata-mata ketakberdayaan, keterbatasan dan kelemahan kita saja? Indera tak kan mampu menembus hakikat segala sesuatu. Akal pun begitu. Macet. Lapangan itu bukan lagi bidang geraknya. Saat itu keadaan kita seperti seorang buta yang memegang sepotong es yang dengan cara merabanya ingin mengetahui bentuk dan ukuran es itu. Pada saat diraba eh, es-nya malah mencair, hilang ukurannya, disebabkan proses penyelidikan itu sendiri.

Kita juga dapat saksikan,betapa teraturnya gerak kontruksi alam semesta. Semua terjalin rapi. Tiada bukti ada unsur kebetulan di dalamnya. Siapa lagi, kalau bukan Allah yang mengaturnya, memeliharanya? Einstein misalnya, dia juga yakin adanya Allah, sang pencipta. “Tuhan tidak bermain dadu dengan alam ini”, tegasnya. Dia yakin, alam ini tersusun rapi, simetris dan sederhana. Bagaimana dengan diri kita sendiri?

“Rasul-rasul mereka berkata: Apakah masih ada kesangsian tentang adanya Allah yang telah menjadikan langit dan bumi?” (QS. Ibrahim: 10)

Bagaimana Bayi dan Anak-Anak Belajar?

oleh : Nilna Iqbal

Gordon Dryden & Dr. Jeannette Vos dalam bukunya The Learning Revolution, mengungkapkan fakta-fakta yang sangat mengejutkan. Saat ini, katanya, berbagai metoda belajar tengah berkembang pesat di seluruh dunia, sehingga setiap anak akan mampu mempelajari apapun secara lebih cepat –sekitar 5 sampai 20 kali lebih cepat– bahkan 10 sampai 100 kali lebih efektif, pada usia berapapun. Metoda-metoda itu ternyata sederhana, mudah dipelajari, menyenangkan, logis – dan terbukti andal.

Inilah beberapa fakta itu. Di Christchurch, Selandia Baru, Michael Tan berhasil lulus ujian matematika tingkat smu pada usia 7 tahun. Dan Stephen Witte, 12 tahun lulus enam ujian beasiswa universitas dan berhasil meraih hadiah fisika dari SMU Papanui, tidak lama setelah diizinkan melompati empat kelas.

Di Alaska, para pelajar di SMU MT. Edgecumbe menjalankan empat perusahaan proyek percontohan. Salah satu proyeknya: ekspor salmon asap ke Jepang senilai us$ 600.000– mereka sekaligus belajar ilmu pemasaran, bisnis, ekonomi dan Bahasa Jepang.

Di SD Pantai Tahatai Di Selandia Baru, anak-anak berusia 6 tahun menggunakan komputer untuk membuat cd-rom dan merencanakan “sekolah masa depan” mereka sendiri. Mereka juga menggunakan komputer untuk mengaktifkan unit-unit pembangkit energi surya dan angin yang didesain agar setiap rumah mampu memenuhi kebutuhan energinya sendiri.

Ternyata pembelajaran mandiri adalah salah satu kunci utama. Jika kita bisa menyediakan lingkungan dan peralatan yang baik untuk pelatihan mandiri, anak-anak kecil pun akan menjadi pendidik mandiri yang antusias sepanjang hidupnya.

Maria Montessori, dokter wanita pertama asal Iitalia, telah menyediakan lingkungan semacam itu hampir 100 tahun lalu, membuktikan bahwa anak-anak usia 3 – 4 tahun dengan mental terbelakang, mampu berkembang baik dalam hal menulis, membaca, dan perhitungan dasar. Dan sampai sekarang ini di daerah terpencil Montana, negara bagian Amerika yang berpenduduk paling jarang, semua anak berusia 4 tahun di taman bermain Montessori International telah mampu mengeja, membaca, menulis dan melakukan hitungan dasar, bahkan sebelum mereka masuk sekolah. Saat ini mereka mencanangkan pada usia 4 tahun itu anak-anak bahkan sudah mampu menguasai tiga atau empat bahasa!

Bagaimana dengan anak-anak kita? Lihatlah betapa banyak orang tak menyadari bahwa mereka telah “merusak” potensi hidup anaknya. Lihatlah anak-anak kita sekarang. Dimana mereka pada sebagian besar waktu hidupnya? Di depan televisi-kah? Main seharian dengan anak-anak lainkah? Apa yang mereka pelajari? Siapa guru-guru mereka? Siapa idola mereka? Apa kata-kata yang meluncur dari pikirannya?

Ternyata, semua ini bergantung bagaimana ia dididik sejak awal kelahirannya! Kita tahu, setiap anak, anak negara manapun, anak siapapun adalah pemilik otak terhebat di dunia. Walaupun beratnya kurang dari 1,5 kg, kemampuan otaknya beribu kali lebih hebat dari super komputer terhebat di dunia. Dan anak-anak kita pun memilikinya! Masing-masing terdiri dari otak sadar dan otak bawah sadar.

Otak sadar aktif saat kita sengaja melakukan sesuatu. Sedangkan otak bawah sadar selalu aktif 24 jam sehari terus menerus. Ia bekerja sejak bayi masih dalam kandungan sampai kita dewasa dan mati.

Dari berbagai hasil penelitian ditemukan bahwa ternyata di bawah sadar inilah “terinstall” semua potensi hidup kita, yang nantinya akan keluar dalam bentuk sikap, nilai hidup, skill, kecerdasan, kepribadian dan kebiasaan.

Salah satu sifat otak bawah sadar ini adalah “tidak kritis”. Jadi apapun input yang masuk ke dalamnya akan tetap disimpan dan dianggap benar. Beda dengan otak sadar … ia kritis. Oleh karena itulah yang harus kita waspadai justru input-input yang bakal masuk lewat pintu otak bawah sadar ini.

Benyamin s. Bloom, professor pendidikan dari universitas chicago, menemukan fakta yang cukup mengejutkan:
-  Ternyata 50% dari semua potensi hidup manusia terbentuk ketika kita berada dalam kandungan sampai usia 4 tahun.
-  Lalu 30 % potensi berikutnya terbentuk pada usia 4 – 8 tahun.

Ini berarti 80% potensi dasar manusia terbentuk di rumah, justru sebelum mulai sekolah. Akan seperti apa kemampuannya, nilai-nilai hidupnya, kebiasaannya, kepribadiannya, akhlaqnya, dan sikapnya … semua 80% tergantung pada orang tua. Sadar atau tidak. Baik “dibentuk” secara sengaja atau pun tidak sengaja!

Artinya, akan jadi siapa anak kita, akan bagaimana cara berpikir dan bersikapnya ditentukan sepenuhnya oleh informasi dan pengetahuan apa yang tersimpan di otak bawah sadarnya. Panca indera adalah pintu masuk yang langsung masuk ke pusat kecerdasan anak. Apapun yang ia dengar, apapun yang ia lihat, apapun yang ia rasakan, semua langsung tersimpan di otak bawah sadarnya.

Ia juga belajar tentang sikap dan kepribadian dari orang-orang yang mengasuhnya. Bagaimana ayah ibunya berbicara, apa yang dikatakan, bagaimana ia bereaksi terhadap emosi-emosi tertentu, bagaimana orangtua bereaksi terhadap tekanan amarah, tangisan, dan kerewelan. Semua bahasa komunikasi anak (dalam bentuk gerakan, tangisan dan kerewelan) adalah alat-alat ia belajar.

Lantas, apakah bisa kita menghasilkan “anak hebat” hanya dengan cara mendidik “ala kadarnya”? Dengan “semaunya”, secara naluriah belaka? Tentu tidak bukan!

Hal pertama yang langsung kita sadari adalah, sebagai ayah dan ibu, kita adalah guru anak-anak kita. Baik kita melakukannya dengan benar ataupun “nggak sengaja” salah.

Pertanyaan berikutnya, sudah tahukah kita kurikulum apa yang sedang berlangsung pada usia 0 – 4 tahun atau 8 tahun perkembangan pendidikan anak-anak kita?

Ternyata, kebanyakan orang tua tidak punya “kurikulum” pendidikan usia-dini ini. Tentu tak heran akhirnya kurikulum alamiah lah yang diterapkan. Kurikulum yang akhirnya dipelajari anak-anak kita adalah kurikulum-alamiah yang diciptakan oleh lingkungan tempat kita saat ini hidup dan berada. Lewat program-program televisi, pergaulan di sekitar rumah kita, juga pergaulan antar penghuni di dalam rumah tangga kita sendiri.

Apa yang “diajarkan” (tanpa sengaja) pada bayi dan anak-anak kita?

Secara keilmuan bisa jadi masih kosong! Bagaimana dengan sikap? Tak dapat dibendung, ternyata banyak sekali hal negatif yang “dipelajari” anak-anak kita.

Lalu adakah kegiatan-kegiatan pembelajaran secara sengaja? By design? Hampir tidak ada! Ada semacam “keyakinan” yang telah jadi paradigma kuat dalam pikiran para orang tua, bahwa anak-anak “bersekolah” ya dimulai sejak TK ! Sehingga mengabaikan proses belajar mengajar “yang umumnya tak sengaja” yang justru berlangsung setiap detik di rumah kita. Bahkan anehnya tak sedikit yang tega menyerahkan bayi dan anak-anaknya itu “berguru” kepada para pembantunya!

Jika kita mulai menyadari fakta-fakta ini, ada beberapa tindakan yang bisa segera kita lakukan, jika memang kita ingin berubah:

1. Orang tua (ayah dan ibu), harus belajar semua hal yang berhubungan dengan metoda-metoda pendidikan anak

Pada dasarnya orang tua adalah guru terpenting dan rumah adalah sekolah paling penting, Didiklah anak dengan ilmu. Kenali dan rancang kurikulum sendiri untuk keperluan ini. Apa muatan sikap dan perilaku yang ingin kita hasilkan pada balita kesayangan kita, dan bagaimana caranya. Bagaimana pula caranya kita menanamkan aqidah Islam pada balita kita. Apa yang boleh kita lakukan dan apa yang  jangan kita lakukan. Kuncinya belajar! Orang tua lah yang harus belajar….!

2. Kenali dan kendalikan jenis input informasi (ucapan/penglihatan/pendengaran/pergaulan) yang masuk lewat pintu otak bawah sadar balita kita.

Jika kita sadar ini, maka programkan secara sengaja muatan positif. Install-kan program-program positif ke dalam otak bawah sadar anak-anak kita. Sebagai contoh televisi. Kendalikan keinginan kita nonton acara tv bersama anak-anak. Beberapa pemimpin bisnis terkemuka di dunia seperti Mitch Sala, Jim Dornan, Rich De Vos, Bob Andrew, dan banyak lagi yang lainnya bahkan sangat menyadari betapa berbahayanya “virus negatif” yang dibawa TV ini. Mereka pun tidak membiarkan dirinya dan bahkan juga anak-anaknya berada di depan televisi!

Kenali juga bahwa input positif bisa berasal dari pendengaran. Maka kendalikan kata-kata kita. Apapun situasinya, jaga mulut! “katakan yang baik-baik saja, atau kalau tidak lebih baik diam”, pesan Rasulullah SAW dalam salah satu sabdanya. “…fal yakun khairan au lisashmut”!

Juga program/install otak balita kita dengan input yang disengaja. Misalkan tatkala menidurkan bayi kita, apa salahnya kita memperdengarkan ayat-ayat al qur’an kepada bayi, baik melalui kaset maupun kita sendiri yang membacakannya.

Percayalah semua input yang disengaja ini membekas dan terinstall dengan baik di otak bawah sadar anak-anak kita.

Programkan dengan sengaja! Itu sebabnya kita perlu punya kurikulum! Ini bukan berarti kita mau mendikte “masa depan profesi anak kita”. Sama sekali tidak. Apapun jalan hidup dia nanti setelah dewasa, terserah dia. Yang kita bentuk secara sengaja adalah potensi dasar “human being”-nya. Sikapnya, perilakunya, kebiasaannya, potensi aqidahnya. Bukankah ini memang wajib! Bagi setiap orang tua untuk mendidik anaknya agar menjadi hamba Allah dan khalifah-nya di muka bumi ini?

Ada beberapa contoh tindakan, misalnya dengan membacakan buku-buku cerita-cerita ilahiyah, kenalkan Allah dan segala konsep ilahiyah lainnya, lalu kisah-kisah perjuangan rasulullah dan para sahabat, dan berbagai kisah-kisah positif lainnya. Semua kisah itu akan membekas amat dalam ke dalam jiwa anak-anak kita! Lalu juga hindari cerita-cerita dan film-film televisi! Ingat kita adalah guru!

Insyaallah, jika betul-betul kita serius, bukan tidak mungkin yang akan kita lahirkan nanti adalah calon-calon pemimpin dunia! Dari tangan didikan kita lahirlah para jenderal, para profesor, para ilmuwan yang mampu mengubah dunia ini berada dalam ridlo Allah SWT. Amin ya allah ya rabbal ‘alamiin.

Ketika memulai sebuah usaha

oleh: Nilna Iqbal

Saat seseorang akan memulai usaha, akan banyak kejutan yang terjadi. Bahkan sejak hari-hari pertama.

Segala sesuatunya sudah disiapkan dengan matang. Pokoknya ketika hari pertama “pintu usaha” dibuka, yang terbayang pasti bakal rame nih. Uang datang mengalir begitu banyak. Orang-orang berjubel di depan toko kita. Telpon berdering terus-menerus. Lalu kita bakalan sibuk berat.Tetapi apa yang terjadi? Semua bayangan itu cuma mimpi di siang bolong. Seharian itu tak ada yang datang. Telpon tak juga berdering. Wah, mulai lemas deh!

Hari kedua kita lalui. Masih sama. Hari berikutnya ada mungkin satu. Tapi tetap sepi. Hati-hati. Biasanya semangat kita mulai melorot. Bayang-bayang kegagalan mulai menguat. Energi kita untuk bergerak mulai goyah. Rasa takut gagal mulai tumbuh. Nah, dalam situasi seperti itu, apa yang akan anda lakukan?

Dalam pengamatan saya pribadi, ternyata cukup banyak orang, terutama yang baru-baru mulai berwiraswasta, mengambil kesimpulan bahwa usahanya telah gagal. Lalu segera saja membuat keputusan: bubar!

Apakah benar ia gagal? Apa sih sebenarnya gagal? Menurut saya, ia belum gagal. Yang ia lakukan hanyalah berhenti terlalu dini! Terlalu cepat membuat kesimpulan dengan hanya mengandalkan data yang belum memadai.

Sebetulnya tidak ada orang yang betul-betul gagal, yang ada hanyalah orang yang terlalu cepat berhenti, sebelum sampai ke puncak harapan sukses yang ia cita-citakan. Sebagian besar kisah kegagalan adalah kisah orang-orang yang menyerah sebelum waktunya.